Pelangi'S Love Story

Pelangi'S Love Story
Eps 70


__ADS_3

Keesokan paginya Kenzo dan Pelangi sudah bersiap menuju bandara untuk segera terbang ke Indonesia. Semalam Agatha membantu Pelangi mengemasi baju-bajunya. Awalnya Pelangi enggan namun mau tetap tinggal di London pun dia juga ragu. Akhirnya setelah dinasehati oleh Agatha, perempuan dengan perut buncit itu akhirnya mau mengemasi bajunya.


“Hati-hati ya, Sayang. Jaga kandungan kamu dengan baik. Om dan Tante akan pulang ke Indonesia jika nanti kamu sudah melahirkan.” Ucap Richard.


“Iya, Om. Makasih telah merawat Pelangi selama tinggal disini.” Jawab Pelangi.


“Kamu jangan bilang seprti itu. Kamu sudah kami anggap anak sendiri. Setelah ini akan ada orang yang akan menjaga kamu dan anak kamu dengan baik.” Ucap Agatha sambil melirik Kenzo.


Setelah berpelukan, akhirnya Kenzo dan Pelangi masuk ke dalam pesawat, karena sebentar lagi pesawatnya akan lepas landas.


Dalam perjalanan, Pelangi memilih untuk menutup matanya daripada diam saja tanpa ada yang dilakukan. Kenzo pun hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar dengan sikap istrinya yang masih dingin. Tapi tidak memungkiri kalau Kenzo sangat bahagia karena telah berhasil membawa istrinya pulang.


Saat ini pesawat yang sedang ditumpangi oleh Kenzo dan Pelangi sedang transit selama beberapa waktu di Changi International Airport, Singapore. Pelangi merasakan punggungnya kembali sakit. Mungkin karena efek terlalu lama duduk.


“Punggung kamu sakit lagi?” tanya Kenzo saat melihat istrinya memegangi punggung.


“Hmm, dikit.” Jawab Pelangi.


Setelah itu Kenzo mengajak istrinya untuk mencari tempat yang nyaman setidaknya bisa membuatnya bersantai sedikit. Pelangi pun mengikutinya.


Kenzo membelikan minuman hangat untuk Pelangi agar bisa membuatnya rileks. Pelangi segera meminumnya. Kenzo duduk mendekati Pelangi dan tangannya terulur untuk memberi pijatan lembut pada punggung Pelangi. Awalnya Pelangi terkejut karena sedang di depan umum. Namun lama-lama dia merasa nyaman dan tidak peduli jika dipandang aneh oleh orang-orang. Lagi pula semua orang juga tahu kalau dirinya sedang hamil.


“Apa perlu kita check in? biar kamu bisa istirahat?” tanya Kenzo.


“Nggak. Disini saja." Tolak Pelangi.


Kenzo tidak lagi membujuk atau menasehatinya. Tapi tangannya masih terus memijat punggung Pelangi sambil sesekali mengusap perutnya.


“Anak Papa yang pintar ya, Sayang. Jangan buat Mama kamu kecapekan.” Ucap Kenzo seolah mengajak anak dalam kandungan istrinya.


Pelangi membisu. Namun jujur saja hatinya menghangat saat mendengar interaksi anak dan ssuaminya.

__ADS_1


“Apa kamu sudah tahu jenis kelaminnya?” tanya Kenzo.


“Belum. Dan aku nggak ingin tahu.” Jawab Pelangi.


“Kenapa? Apa kamu tidak mengharapkan kehadirannya?” tanya Kenzo sendu.


Kenzo mengira istrinya tidak begitu peduli dengan kandungannya. Karena terlihat dari sikap Pelangi yang belum mengetahui jenis kelamin anaknya. sedangkan Pelangi yang melihat raut wajah Kenzo bersedih, dia merasa sangat bersalah karena salah bicara.


“Bukan. Bukan seperti itu. Aku ingin menjadikannya kejutan. Kalaupun aku tidak mengharapkan kehadirannya, sudah sejak dulu aku menggugurkannya.” Jawab Pelangi dan membuat Kenzo lega.


“Maafkan aku. kalau nanti aku ingin mengetahui jenis kelaminnya apa tidak boleh? Aku janji apapun jenis kelaminnya, aku tetap menerimanya. Yang penting dia sehat.” Ucap Kenzo dan diangguki oleh Pelangi.


Setelah kurang lebih satu jam transit, Kenzo dan Pelangi kembali melanjutkan penerbangannya ke Indonesia. Pelangi sudah tidak lagi merasa sakit punggungnya. Itu semua karena kekuatan tangan Kenzo, yang entah mengandung apa hingga bisa secepat itu mengatasi rasa nyeri.


Tepat pukul 9 malam Kenzo dan Pelangi sudah sampai di bandara. Mereka segera memesan taksi untuk pulang. Pelangi yang tahu kemana arah taksi akan membawanya, yang tak lain ke apartemen, seketika Pelangi mengeluarkan suaranya.


“Aku nggak mau pulang ke apartemen kamu.” Ucap Pelangi cepat.


Kenzo pun dengan cepat mengatakan pada sopir taksi itu agar membawanya pulang ke alamat rumah Papanya. Kemudian Kenzo memegang tangan istrinya.


Pelangi tidak menjawab. Dia hanya diam dan memandang ke arah samping. Kenzo tahu kalau istrinya tidak mau pulang ke apartemen karena Pelangi trauma tentang beberapa kejadian yang telah membuat hatinya terluka. Kejadian dimana dirinya mulai diabaikan sampai ditinggalkan. Pelangi masih mengingat itu semua dengan jelas.


Saat mengetahui Kenzo telah membawanya pulang ke rumah orang tuanya, Pelangi pun masih diam. Meski di rumah itu pernah ditinggali oleh wanita yang hampir saja mencelakainya. Tapi setidaknya dia sudah tidak melihat wanita itu lagi disana.


Sesampainya di rumah, ternyata Damian belum tidur. Pria paruh baya itu tampak sedang duduk seorang diri di ruang keluarga dengan tatapan kosong.


“Malam, Pa!” sapa Kenzo.


“Kalian sudah pulang? Kenapa nggak bilang Papa?” ucap Damian terkejut.


Damian tidak menyangka kalau Kenzo pulang hari ini. dia sangat bahagia terlebih melihat seorang wanita yang sedang berdiri disamping anaknya. siapa lagi kalau bukan menantu kesayangannya.

__ADS_1


“Malam Pa!” sapa Pelangi kemudian mencium tangan Damian dengan takzim.


Damian tidak bisa lagi menahan rasa bahagianya. Dia langsung memeluk Pelangi dengan erat. Dia sangat beruntung karena menantunya dalam keadaan baik-baik saja. Mengingat saat itu mantan istrinya telah memberinya obat pencegah kehamilan dan beruntungnya Pelangi tidak meminumnya. Bahkan kini Pelangi sedang mengandung cucunya.


“Bagaimana kabar kamu, Nak? apakah cucu Papa sehat?” tanya Damian.


“Baik Pa. cucu Papa juga sangat sehat.” Jawab Pelangi.


Kenzo meletakkan kopernya kemudian duduk di sofa. Dia ikut senang saat melihat interaksi antara Papa dan istrinya seperti anak dan ayah kandungnya. Walau Kenzo lah yang berstatus sebagai anak kandungnya, namun dia mersa seperti diabaikan.


Tapi Kenzo tidak marah. Justru dia sangat senang karena Papanya sangat menyayangi istrinya. Kenzo kembali menyesal karena dulu sempat menyia-nyiakan Pelangi di awal pernikahan mereka. Bahkan setelah rasa cinta itu tumbuh, Kenzo justru melukai hati Pelangi begitu dalam.


“Kalian pasti lelah. Papa juga tidak ingin calon cucu kesayangan Papa ini kenapa-napa. Lebih baik kalian istirahat saja.” Ucap Damian.


Kenzo mengiyakan permintaan Papanya. Kemudian dia membawa kopernya ke dalam kamar dan diikuti oleh Pelangi.


Sesampainya di depan pintu kamar, Pelangi menghentikan langkahnya. Dia ragu mau masuk atau tidak. Kalau masuk, itu berarti dia harus tidur bersama Kenzo. tapi kalau tidak, dimana dia akan tidur. Pasti Papa mertuanya sangat kecewa jika melihat dirinya tidur terpisah dengan Kenzo.


“Kenapa masih berdiri disitu?” tanya Kenzo dan Pelangi bingung mau jawab apa.


“Masuklah!” ucap Kenzo sambil menarik tangan Pelangi masuk ke dalam.


“Tidurlah disini. Kamu jangan khawatir. Aku bisa tidur di sofa itu.” Ucap Kenzo.


Pelangi tidak ada pilihan lain, akhirnya dia mengangguk. Setelah itu dia mencari pakaian gantinya, kemudian mencuci muka ke kamar mandi.


Selesai mencuci muka, Pelangi bersiap untuk tidur. Namun dia tidak melihat Kenzo ada di kamar. dia tidak peduli karena matanya sudah sangat mengantuk. Dan tidak menunggu lama, akhirnya dia tertidur dengan pulas.


.


.

__ADS_1


.


*TBC


__ADS_2