
Kenzo melirik pintu ruang kerjanya yang terbuka sedikit. Dia sangat yakin kalau Pelangi baru datang mendengar semuanya. Kemudian dengan cepat dia berlari untuk mengejar istrinya.
“Kamu mau kemana, Ken?” tanya Rosalina, namun Kenzo tak mempedulikannya.
Kenzo masuk ke kamarnya untuk memastikan sesuatu. Dan dia membuka lemari pakaian ternyata baju-baju Pelangi sudah tidak ada disana. Lalu Kenzo keluar dari apartemennya menuju unit apartemen istrinya, tapi nihil. Dalam waktu sekejap saja istrinya sudah hilang begitu cepat.
Kenzo benar-benar bingung. Bagaimana cara menjelaskan semuanya. Lalu Kenzo kembali ke unit apartemennya untuk mengambil kunci mobil. Dia tahu kemana istrinya berada saat ini.
Sementara itu Pelangi melajukan motornya dengan kecepatan penuh. Dia tidak peduli meski hujan turun begitu deras. Mungkin dengan begini, luka di hatinya juga akan ikut luruh bersama guyuran air hujan. Namun ternyata tidak. Dadanya semakin sesak saat mengingat semua yang diucapkan oleh Mama mertuanya. Terlebih penghianatan yang dilakukan oleh suaminya.
Bukankah sebelumnya Pelangi sudah membentengi dirinya dengan kuat, menyiapkan mentalnya untuk menghadapi kenyataan pahit yang memang benar-benar datang. Tapi kenapa jadi seperti ini. air matanya pun sejak tadi tak kunjung surut seiring dengan jatuhnya hujan yang membasahi tubuhnya.
Deru suara motor yang hampir tak terdengar karena bersamaan dengan suara hujan yang semakin lebat, membuat suara tangis Pelangi semakin tak terdengar. Selama hidupnya, inilah tangis kedua yang keluar dari bibir Pelangi setelah kepergian kedua orang tuanya. Apakah selama ini nama Kenzo sudah melekat di hatinya hingga membuatnya sehancur ini saat mendengar penghianatan yang dia lakukan.
“Ya Tuhan! Kuatkan aku.” gumam Pelangi dengan bibir bergetar.
Petir menyambar dan hujan semakin lebat, membuat Pelangi terpaksa menghentikan laju kendaraannya. Meskipun dia sudah basah kuyup, namun dia masih sayang dengan nyawanya. Pelangi memutuskan untuk berhenti dan berteduh di sebuah halte yang lumayan sepi.
Pelangi melepas helmnya kemudian duduk di kursi tunggu halte itu. Waktu semakin malam dan hujan tak kunjung reda. Pelangi saat ini lebih baik mencari solusi kemana akan pergi agar Kenzo tidak lagi bisa menemuinya. Namun tiba-tiba dia merasakan kepalanya begitu pusing dan berkunang-kunang.
Bruk
Pelangi terjatuh dan matanya terpejam.
***
Sementara diluar masih hujan, Kenzo sejak tadi mengendarai mobilnya untuk mencari keberadaan istrinya. Kenzo sempat mendatangi rumah Richard namun penjaga rumah mengatkan kalau Pelangi tidak ada disana. Dia juga tidak mungkin mengabarkan ini semua pada Richard.
Kemudian Kenzo teringat dengan panti asuhan yang pernah dikunjungi oleh istrinya. Namun sesampainya disana, Kenzo tidak menemukan Pelangi disana.
Mau pergi ke rumah Alex pun, Kenzo masih belum siap. Dia tahu pasti Alex akan sangat murka jika mengetahui ini semua. Akhirnya dia memilih untuk kembali ke apartemennya.
“Pelangi, maafkan aku. aku nggak akan menceraikan kamu, karena aku sangat mencintaimu.” Gumam Kenzo.
__ADS_1
Bayangan Kenzo terus teringat dengan senyum manis istrinya. Wanita kuat dan tangguh yang pernah ia temui. Namun justru dirinyalah yang telah menorehkan luka mendalam.
***
Keesokan paginya mata Pelangi mulai terbuka perlahan. Dia memegang kepalanya yang masih terasa pusing. kemudian dia mencoba bangun dan melihat sekelilingnya. Kamar yang tampak asing dan tidak pernah ia singgahi sebelumnya.
“Kamu sudah bangun?” tanya seseorang yang baru saja masuk ke kamar.
“Ngapain kamu ada disini?” tanya Pelangi terkejut.
“Aku menemukan kamu tergeletak di halte bus. Kemudian membawamu kesini.” Jawabnya.
“Aku mau pergi!” ucap Pelangi namun tiba-tiba dia memegangi kepalanya.
“Pergilah nanti saat keadaan kamu sudah lebih baik, Bre! Dan ini kamu makan bubur dulu.” Ucapnya.
Dengan terpaksa Pelangi mengurungkan niatnya untuk pergi dari apartemen Varell. Selain karena dia sudah tidak ingin melihat wajah Varell, Pelangi juga masih merasakan keadaannya tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan.
Pelangi menerima bubur pemberian Varell dan memakannya. Varell sejak tadi melihat keadaan Pelangi yang jauh dari kata baik-baik saja ingin bertanya pun masih berpikir berulang kali.
“Ya, sama-sama. Kamu bisa istirahat disini dulu kalau keadaan kamu masih belum sehat. Atau kalau perlu biar aku panggilkan dokter?” tanya Varell.
“Nggak usah. Aku minta obat penghilang rasa pusing saja.” Ucap Pelangi dan diangguki oleh Varell.
Setelah meminum obat dari Varell, Pelangi kembali merebahkan tubuhnya untuk tidur sebentar. Setelah itu dia akan pergi dari apartemen Varell.
Sementara itu pagi ini Kenzo sedang perjalanan menuju rumah Papanya. Padahal niatnya pagi ini dia akan mencari istrinya dan ingin menjelaskan semuanya.
Plakk
Kenzo memegang pipinya yang terasa panas setelah mendapatkan tamparan dari Papanya. Namun dia tidak mampu untuk melawan, karena memang semua ini adalah kesalahannya.
“Papa telah gagal mendidik kamu. Papa benar-benar kecewa dengan perbuatan kamu.” Ucap Damian.
__ADS_1
“Maafkan Kenzo, Pa. ini semua tidak seperti yang-“
“Cukup!! Papa nggak mau dengar penjelasan kamu lagi. Cepat urus perceraian kamu dengan Pelangi, setelah itu nikahi wanita simpanan kamu itu.” Ucap Damian dan segera masuk ke ruang kerjanya.
Selepas kepergian suaminya, Rosalina menarik sudut bibirnya. ternyata dia telah berhasil mempengaruhi suaminya agar menyuruh Kenzo menceraikan Pelangi. Kini tinggal selangkah lagi rencananya untuk mendapatkan harta suaminya.
Sedangkan Kenzo hanya mampu terdiam setelah mendengar ucaapan Papanya yang meminta untuk segera menceraikan Pelangi. Kenzo melihat Mamanya yang tampak tersenyum padanya. Mungkin jika dulu dia menyetujui rencana Mamanya untuk membuat perjanjian pernikahan dengan Pelangi setelah itu akan menikahi Eva. Tapi saat ini beda. Kenzo yang tidak ingin menceraikan istrinya justru dipaksa untuk menceraikannya, bahkan Papanya juga yang meminta.
***
“Brengsekkk!! Gue nggak terima, Bre! Gue harus buat perhitungan dengan baji*** itu.” Ucap Alex berapi-api.
Setelah memastikan keadaanya sudah membaik, Pelangi memutuskan untuk pergi dari apartemen Varell. Pria itu tampak iba melihat kondisinya yang sedang tidak baik. Namun Pelangi berusaha tetap tersenyum dan mengucapkan terima kasih padanya karena telah menolongnya semalam.
“Jangan Lex! Gue mohon jangan melakukan tindak kekerasan. Gue hanya nunggu surat cerai darinya saja. Dan ijinin gue untuk sementara tinggal di rumah Lo. Gue yakin dia tidak berani kesini.” Ucap Pelangi.
Alex tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Jauh dalam lubuk hatinya dia sangat iba melihat sahabatnya kembali terluka oleh laki-laki. Namun kali ini menurut Alex, Pelangi sudah terlanjur mencintai Kenzo. terlihat dari sorot matanya yang meminta agar tidak berbuat kekerasan pada Kenzo.
Bruk
Tiba-tiba saja Pelangi pingsan saat akan berdiri. Alex sangat terkejut dan langsung membawanya ke rumah sakit, karena wajah Pelangi sangat pucat.
“Bagaimana keadaan teman saya, Dok?” tanya Alex.
“Teman anda hanya kecapekan saja. Setelah sadar nanti, akan dilakukan pemeriksaan usg. Karena sepertinya teman anda sedang hamil muda.”
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Please ini sudah mulai konflik. buat reader semua harap sabar yaa🤗🤗 dan ikuti saja alurnya. jika tidak suka diskip saja, ok👌👌
Maksih dukungannya😘😘🤗🤗