Pelangi'S Love Story

Pelangi'S Love Story
Eps 60


__ADS_3

Sesuai dengan kesepakatan. Setelah proses perceraian Kenzo dan Pelangi selesai, Kenzo akan mempertanggung jawabkan perbuatannya yang telah menghamili Eva. Dua minggu lagi mereka akan menikah.


Saat ini Kenzo sedang berdiri di balkon kamarnya menatap langit malam yang sama sekali tidak menampakkan bintangnya. Karena beberapa saat yang lalu hujan baru saja reda. Hal itu sama seperti yang dirasakan oleh Kenzo saat ini.


“Pelangi, seharusnya engkau selalu hadir setelah hujan lebat mengguyur bumi. Namun kenapa kau malah memutuskan untuk pergi?” Gumam Kezo dengan mata yang memerah menahan air matanya jatuh.


“Bodohh!!! Ini semua kesalahanku. Bodoh kau Kenzo!!” umpat Kenzo pada dirinya sendiri.


Sampai saat ini Kenzo tidak bisa meenghilangkan bayang-bayang wajah mantan istrinya yang telah menemani selama beberapa bulan yang lalu. “Mantan istri” Kenzo seolah tidak ingin menyematkan sebutan mantan istri untuk Pelangi.


Karena sampai saat ini dirinya tidak pernah mengucapkan kata perceraian pada Pelangi, meski surat cerai sudah dia dapatkan.


Pikiran Kenzo masih ragu dengan semua ini. dia tidak yakin kalau dia sudah benar-benar bercerai dengan Pelangi. Kenzo masih mengingat sebuah botol obat yang tanpa sengaja dia temukan dalam tas istrinya. Mamanya dulu pernah mengatakan kalau obat penyubur kandungan itu sudah ditukar dengan obat pencegah kehamilan. Tapi nyatanya obat itu masih dalam keadaan utuh. Jadi sejak saat itu Pelangi tidak pernah meminumnya.


Otak Kenzo terus berputar memikirkan segala kemungkinan yang terjadi. Jika Pelangi tidak minum obat itu, berarti kandungannya baik-baik saja. Dan selama itu dirinya juga sering berhubungan badan dengan sang istri. Bisa saja Pelangi juga sedang mengandung anaknya.


“Hamil” gumam Kenzo.


Kenzo kembali mengingat-ingat. Sebelum dia pergi dan bencana itu terjadi, Kenzo sempat melihat istrinya memasak bubur. Dan saat itu Pelangi bilang kalau memang sedang ingin makan bubur.


“Apa mungkin Pelangi sedang hamil. Dan saat itu dia sedang ngidam?” tanya batin Kenzo yang semakin penasaran.


Kemudian Kenzo teringat kembali saat terakhir bertemu Pelangi di rumah Alex. Keadaan istrinya saat itu sangat lemah, bahkan terlihat pucat. Apa benar Pelangi sedang hamil. Kalau iya, berarti anak dalam kandungan Pelangi adalah darah dagingnya. Dan perceraian itu tidak sah jika Pelangi sedang mengandung.


Kenzo seperti mendapat angin segar. Dia tahu kemana dia seharusnya pergi. Kemudian Kenzo mengambil obat itu dan pergi menemui Nova.


***


Sementara itu, di sebuah cafe tampak seorang pria sedang duduk seorang diri. Penampilannya begitu kacau. Terlebih lagi hatinya yang sudah hancur tak berbentuk. Impian untuk hidup dengan bahagia bersama kekasihnya pupus sudah semenjak kekasihnya memutuskan hubungan itu beberapa bulan yang lalu. Padahal sudah tahu jelas kalau kekasihnya saat itu sedang hamil anaknya. tapi dia sungguh tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh sang kekasih.


“Daf, maaf hubungan kita cukup sampai disini saja!” ucap Eva.


“Kenapa, Ev? Kamu bercanda kan?” tanya Dafa tak percaya.

__ADS_1


“Nggak, Daf. Apa yang aku katakan benar. Orang tuaku sudah menjodohkan aku dengan anak rekan bisnisnya. Dan aku nggak bisa menolaknya. Maafkan aku.” ucap Eva sendu.


“Eva, please jangan tinggalin aku. aku sangat mencintaimu. Begitu panjang waktu yang sudah kita lewati bersama. Aku mohon, pertimbangkan lagi keputusanmu.” Ucap Dafa.


Bukannya mendengarkan Dafa, Eva malah pergi begitu saja. Dan Dafa pun tidak tinggal diam untuk mengejar Eva untuk meminta penjelasan. Akhirnya terjadilah adegan Tarik menari hingga tas Eva jatuh begitu saja dan mengeluarkan sesuatu yang membuat Dafa terkejut.


Dafa melihat ada tespack dan surat hasil pemeriksaan dari sebuah rumah sakit. Dia sangat yakin kalau saat ini Eva sedang mengandung anaknya. Dafa juga teringat, terakhir dia berhubungan dengan Eva tidak memakai pengaman.


“Ev, kamu hamil? Kamu sedang hamil Ev?” tanya Dafa dengan suara bergetar sambil membawa barang bukti tespack itu.


“Tidak. Aku nggak mau mengakui anak dalam kandunganku ini anak kamu.” Tolak Eva.


Dafa tidak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulut Eva. Kenapa Eva bisa setega itu bicara kasar padanya. Selama ini Eva adalah tipe wanita yang tidak pernah berkata kasar padanya.


“Apa maksud kamu, Ev?” tanya Dafa.


“Aku nggak mau melanjutkan hubungan kita ini. aku nggak mau aku dan anakku nanti hidup dalam kemiskinan. Lebih baik aku memilih pria kaya yang bisa memberikanku kemewaha. Maafkan aku, Daf.” Ucap Eva dan segera berlari pergi meninggalkan Dafa.


Sampai saat ini Dafa masih tidak percaya kalau Eva adalah wanita yang matrealistis. Bukankah selama ini juga dia selalu memenuhi kebutuhan wanita itu. Tapi kenapa balasannya seperti itu. Bahkan tanpa sepengetahuan Eva, dirinya sudah mempersiapkan rumah masa depannya yang akan dia tempati saat membina rumah tangga dengan Eva nanti. Tapi sekarang kenyataannya seperti ini.


Drt drt drt


Ponsel Dafa bergetar dan tertera no asing yang memanggilnya. Karena penasaran, akhirnya Dafa menerima panggilan itu.


“Halo?”


“…..”


“Ya benar, saya Dafa. Ini siapa?”


“…..”


“Buat apa?”

__ADS_1


“…..”


“Dimana? Baiklah”


Dafa heran dengan seseorang yang baru saja menghubunginya. Orang tersebut memintanya untuk bertemu. Dan daripada penasaran, akhirnya menemui orang itu.


Bruk


Pyar


“Awww”


Saat Dafa berdiri dank arena sedikit terburu-buru, tanpa sengaja dia menabrak seorang pelayan café yang sedang membawa nampan berisi kopi panas. Dan naasnya kopi itu menumpahi seorang pengunjung yang baru saja datang.


“Maaf, Nona maaf saya tidak sengaja.” Ucap dafa bersalah.


Perempuan itu tidak mempedulikan Dafa. Karena dia merasakan panas pada pahanya yang terkena tumpahan kopi itu.


“Nona, sekali lagi maafkan saya. Saya akan bertanggung jawab tapi saya sedang terburu-buru. Bisa saya minta no ponsel Nona?” ucap Dafa.


Perempuan itu masih saja diam. Bahkan terdengar isakan kecil dari bibirnya. mungkin karena luka pada kulitnya yang terkena kopi panas itu.


Dengan cepat, Dafa meraih ponsel dalam genggaman perempuan itu dan mengetikkan no nya kemudia melakukan panggilan ke ponselnya. Setelah itu Dafa mengembalikan ponsel itu pada si perempuan itu.


“Please Nona jangan diam saja. Saya benar-benar nggak sengaja. Tapi saya sedang buru-buru.” Ucap Dafa dan permpuan itu mendongakkan wajahnya menghadap Dafa.


“Ya sudah, pergilah. Saya tidak apa-apa. Biar saya obati sendiri luka saya. Permisi.” Ucap perempuan itu dan langsung meninggalkan Dafa.


Meskipun masih dihinggapi rasa bersalah, tapi dengan berat hati Dafa lebih memilih untuk pergi menghampiri seseorang yang baru saja meneleponnya.


.


.

__ADS_1


.


*TBC


__ADS_2