
“Mana yang sakit, Sayang?”
“Punggungku sakit banget sejak tadi, Ken.”
“Ya, begitu lumayan reda sakitnya.”
Awwww
Pelangi terbangun dari tidurnya sambil memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa kencang. Bahkan keringatnya kini sudah bercucuran. Pelangi teringat jelas tentang mimpinya yang dia alami baru saja. Dia merasakan Kenzo sedang tidur di belakangnya sambil mengusap dan memberi pijatan ringan pada punggungnya. Dia bisa merasakan kenyamanan itu dan seolah seperti nyata. Kemudian tangan Kenzo beralih mengusap perutnya yang sedikit membuncit itu. Namun saat tak lagi merasakan tangan Kenzo, tiba-tiba Pelangi merasakan perutnya begitu kencang hingga membuatnya terbangun.
Pelangi melihat jam dinding menunjukkan pukul 3 dini hari. Dia keluar dari kamarnya untuk mengambil air putih. Karena air yang dia bawa sudah habis.
“Tumben jam segini bangun?” ucap Agatha tiba-tiba.
“Tante? Ngagetin saja sih.” Gerutu Pelangi dan Agatha tersenyum tipis.
Agatha ternyata juga terbangun karena merasa sangat haus. Dia mengamati Pelangi yang sedang minum sambil duduk dan memegangi punggungnya. Bahkan wajah Pelangi terlihat meringis seperti menahan sakit. Dan keringatnya juga masih terlihat.
“Kenapa? Ada yang sakit?” tanya Agatha cemas.
“Punggungku tiba-tiba sakit dan perutku terasa kencang Tante.” Jawab Pelangi.
“Kamu kembalilah ke kamar, dan tunggu tante sebentar lagi akan menyusulmu.” Ucap Agatha dan diangguki oleh Pelangi.
Setelah Pelangi kembali masuk ke dalam kamarnya, Agatha menyiapkan air hangat dan handuk kecil. Dia akan mengompres punggung Pelangi dengan air hangat itu. Mungkin saja bisa mengurangi rasa sakit yang sedang dia rasakan.
Agatha masuk ke dalam kamar Pelangi kemudian memintanya untuk tidur dengan posisi miring. Agatha mulai mengompres punggung Pelangi sambil memberikan pijatan lembut. Pelangi hanya diam saja. Namun rasanya masih sama sakit. Berbeda dengan rasa yang tadi dialaminya dalam mimpi saat disentuh oleh Kenzo.
“Bagaimana?” tanya Agatha.
__ADS_1
“Ehm, sedikit berkurang Tante sakitnya.” Jawab Pelangi.
“Tidurlah, biar Tante kompres. Nanti kalau rasanya masih belum hilang, kita periksakan ke rumah sakit.” Ucap Agatha dan Pelangi mengangguk.
Saat pagi sudah menjelang dan matahari sudah menampakkan sinarnya, Pelangi terbangun dan masih merasakan sakit pada punggungnya. Dia sudah tidak melihat Tantenya di kamar. Pelangi mencoba bangun untuk cuci muka. Setelah itu dia turun ke bawah. Dia ingin berjalan-jalan di taman belakang, barangkali bisa mngurangi rasa sakitnya.
“Apa punngungmu masih sakit?” tanya Richard yang kini sudah duduk di kurssi taman belakang.
Tadi pagi Agatha sudah menceritakan pada sang suami kalau Pelangi tadi malam merasakan sakit di punggungnya. Pria paruh baya itu sangat khawatir dengan keadaan Pelangi.
“Sedikit Om.” Jawab Pelangi.
“Bersiaplah, sebentar lagi kita ke rumah sakit. Sekalian Om juga ingin melihat perkembangan calon cucu Om.” Ucap Richard.
Setelah mandi dan sarapan, Pelangi pergi ke rumah sakit bersama Richard dan Agatha. Sejak tadi Pelangi juga masih memegangi punggungnya. Entah kenapa dia merasakan sakit seperti itu. Selama ini dia merasa baik-baik saja dan tidak pernah melakukan aktivitas berat.
Setelah mendaftar ke poli kandungan, mereka bertiga menunggu giliran untuk dipanggil. Dan tak lama kemudian nama Pelangi dipanggil untuk masuk menuju ruang pemeriksaan kandungan. Agatha dan Richard pun ikut masuk. Mereka berdua sangat penasaran dan ingin mengetahui perkembangan calon cucunya.
Dokter bername tag Jack William itu tampak telaten memeriksa kandungan Pelangi. Dokter tersebut mengatakan kalau keadaan janinnya sehat-sehat saja. Kondisi ibunya juga sehat. Tapi Pelangi mengeluh kalau punngungnya terasa sakit.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan usg, Pelangi kembali duduk berhadapan dengan dokter Jack.
(Pembicaraan dalam bhs.inggris)
“Hal itu sudah sering dialami oleh semua ibu hamil, Nona. Biasanya cara menghilangkannya cukup melakukan pijatan lembut di area yang terasa sakit.” Ucap dokter Jack.
“Tapi saya sudah memijitnya Dok, dan keponakan saya masih merasakan sakit.” Jawab Agatha.
“Begini, Nona. Biasanya yang lebih berperan penting disini adalah ayah dari janin itu. Memang belum ada penelitian yang membuktikan kebenaran ini. tapi ini hanya berupa sugesti. Janin dalam kandungan Nona sepertinya sedang ingin disentuh ayahnya. Mungkin bisa dengan memijit lembut punggung Nona, itu bisa menghilangkan rasa sakit itu.” Ucap dokter Jack.
__ADS_1
Pelangi, Agatha, dan Richard sama-sama terdiam. Tidak mungkin Kenzo melakukan itu semua. Mengingat Pelangi saat ini sudah bukan lagi istri Kenzo. sedangkan Pelangi juga bingung bagaimana menjawab ucapan dokter Jack. Dan memang benar, semalam saat dia mimpi Kenzo sedang memijit punggungnya, rasa sakit itu hilang.
“Ehm, suami keponakan saya tinggal di berbeda negara. Sedang menjalankan perusahaan disana, jadi belum bisa pulang kesini.” Ucap Richard tiba-tiba.
Dokter Jack tampak manggut-manggut setelah mendengar pernyataan Richard. Tapi dokter itu seakan bisa membaca isi pikiran pasiennya. Karena dilihat dari raut wajah Pelangi yang menurutnya seperti menahan sesuatu, tapi dokter itu tidak mau ikut bertidak terlalu jauh.
“Saya beri resep obat Pereda rasa nyeri ini saja. Nona minum jika rasa sakit itu kembali menyerang. Dan jika sudah tidak sakit, jangan diminum lagi.” Ucap Dokter Jack dan diangguki oleh Pelangi.
Setelah itu mereka bertiga keluar dari ruangan dokter Jcak, kemudian menebus obat dan pulang. Dalam perjalanan pulang, Pelangi tampak terdiam dia masih memikirkan ucapan dokter Jack tadi. apakah benar anak dalam kandungannya ini sedang merindukan Papanya. Memang Pelangi sadari kalau Kenzo tidak tahu dengan kehamilannya. Seketika rasa bersalah memenuhi hati dan pikirannya. Dia merasa telah menjauhkan anak dalam kandungannya dengan sang Papa.
Meskipun mereka sudah bercerai, setidaknya Pelangi memberitahukan pada Kenzo. bagaimanapun juga anaknya ingin mengenal sosok Papanya sejak dalam kandungan.
“Ken, tolong lupakan aku. jangan buat aku memikirkan kamu terus seperti ini. bukankah kamu sudah bahagia dengan istri kamu?” gumam Pelangi dalam hati.
Richard dan Agatha hanya bisa diam melihat Pelangi yang tampak memikirkan sesuatu. Baik Richard maupun Agatha, begitu juga dengan Pelangi belum mengetahui tentang gagalnya pernikahan Kenzo dan Eva. Damian memang tidak memberitahu Richard. Dia ingin membuat anaknya berjuang sendiri mendapatkan hati istrinya.
Sesampainya di rumah, pelangi memilih masuk ke dalam kamarnya. Setelah meminum obat Pereda nyeri dari dokter Jack tadi, Pelangi ingin istirahat saja. Dan tak lama ponselnya berdering. Seperti biasa, Alex yang menghubunginya.
Telepon dari dari Alex membuat Pelangi sedikit melupakan Kenzo yang sejak tadi bermain-main dalam pikirannya. Alex tidak mengatakan tentang kedatangan Kenzo beberapa saat yang lalu. Dia tidak ingin membuat sahabatnya kembali mengingat masa lalu itu.
“Apa calon keponakan gue sehat, Bre?” tanya Alex.
“Iya, Lex. Dia sangat sehat.” Jawab Pelangi.
“Bre, sorry sebelumnya. Apa Lo masih mencintai Kenzo?”
.
.
__ADS_1
.
*TBC