
Varell berjalan gontai menuju ke sebuah taksi yang sudah menunggunya untuk mengantarkannya pulang ke apartemennya dulu. Entah bagaimana keadaan apartemen itu setelah sekian lama tidak ditempati oleh pemiliknya. Tapi itu tidak penting. Karena bisa pulang kembali ke Indonesia saja bagi Varell adalah anugerah terbaik baginya.
Beberapa hari yang lalu setelah putusan sidang perceraiannya selesai, Varell langsung memesan tiket untuk terbang ke Indonesia. Pria berusia 25 tahun itu sudah membulatkan tekatnya untuk meraih mimpinya kembali di negara ini. termasuk mencari cinta sejatinya yang dulu pernah dia hianati sendiri.
“Akhirnya aku bisa menghirup udara disini lagi.” Ucapnya sambil menekan passcode pintu unit apartemennya.
Varell melihat isi apartemennya yang masih sama seperti saat dia tinggalkan dulu. Ruangannya juga masih bersih. Setiap seminggu sekali memang dibersihkan oleh pembantu suruhan kakaknya.
“Untuk hari ini lebih baik aku istirahat saja. Besok baru cari kerjaan sambil mencari tahu dia dimana sekarang.” gumam
Varell.
***
Sementara itu Kenzo akhir-akhir ini tidak bisa berkonsentrasi dalam pekerjaannya. Dia masih memikirkan tentang seorang pria yang bernama Rezvan. Apalagi anak dari pria itu memanggil istrinya dengan sebutan Mama. Tidak mungkin jika sebelum menikah dengannya, Pelangi sudah menikah terlebih dulu dengan pria itu. Karena setahu Kenzo status Pelangi memang single sebelum menikah dengannya.
“Apa aku cari tahu saja ya siapa pria itu?” tanya batin Kenzo.
“Tapi bagaimana caranya. Tempat tinggalnya saja aku tidak tahu.” Tambahnya.
Saat Kenzo masih memikirkan nama pria yang disebut oleh istrinya, tiba-tiba saja Widya mengetuk pintu. Hingga membuyarkan lamunan Kenzo.
“Ada apa?” tanya Kenzo datar.
“Saya hanya menyampaikan pada Tuan, kalau besok ada jadwal meeting dengan Tuan Barra dari perusahaan Alvito Corp.” ucap Widya.
“Aku ko’ tidak tahu kalau perusahaan kita menjalin kerjasama dengan perusahaan itu?” tanya Kenzo bingung.
“Iya Tuan. Karena kita memang baru bekerjasama dengan perusahaan itu. Dan ini pertama kalinya anda akan meeting dengan Tuan Barra. Sebelum Tuan Richard pergi ke London, beliau sudah mengajukan kontrak kerjasama itu terlebih dahulu.” Ucap Widya menjelaskan.
Widya tidak mungkin mengatakan pada Kenzo jika sebenarnya seminggu yang lalu Tuan Richard pulang ke Indonesia diam-diam. Dan kedatangannya memang untuk menjalin kerjasama dengan Alvito Corp untuk melindungi perusahaan yang dipegang Kenzo saat ini. Widya pun tidak terlalu tahu dengan kata “Menyelamatkan”. Yang pasti dia sebagai tangan kanan Richard, hanya melaksanakan tugasnya dengan baik.
“Baiklah. Kamu boleh keluar sekarang.” jawab Kenzo akhirnya.
Kenzo kembali menyibukkan diri dengan beberapa dokumen yang sedang menumpuk di mejanya. Untuk pria bernama Rezvan mungkin lebih baik dia tanyakan sendiri pada Pelangi nanti.
Di tengah kesibukannya, ponsel Kenzo bergetar dan menampakkan beberapa pesan masuk dan juga panggilan tak terjawab. Siapa lagi kalau bukan dari Eva. Namun Kenzo tak mempedulikannya. Beberapa hari setelah acara reuni, Kenzo sama sekali tidak pernah menanyakan kabar Eva. Begitu juga dengan Eva.
Eva mengumpat kesal karena panggilan dan pesannya diabaikan oleh Kenzo. mau nekat datang ke kantor pun dia takut Kenzo akan semakin marah. Dan tidak biasanya juga Kenzo mengabaikannya seperti ini. biasanya pria itu akan selalu menghubunginya walau sesibuk apapun.
Jam pulang kantor pun tiba. Setelah membereskan semua pekerjaannya, Kenzo melihat ponselnya. Dan matanya terbelalak saat melihat ada puluhan panggilan tak terjawab dari Eva. Dan beberapa pesan juga. Kenzo merasa sedikit bersalah pada wanita yang berstatus sebagai kekasihnya itu. Kemudian Kenzo berniat akan menghubunginya balik, namun dia urungkan karena ada panggilan masuk dari kontak nama “My Rainbow”.
“Ya halo Pelangi?” sapa Kenzo.
__ADS_1
“……”
“Ini baru mau pulang. Ada apa?” tanya Kenzo.
“…..”
“Bisa. Kamu tunggu disana ya.” Jawab Kenzo.
Kenzo melupakan niatnya yang ingin menghubungi Eva karena mendapat telepon dari Pelangi yang memintanya untuk menjemput di bengkel. Motor Pelangi kehabisan bensin, sedangkan mobilnya sedang dipakai oleh Alex keluar. Kenzo serasa mendapat angin segar, dia keluar dari kantor dengan semangat 45.
“Sorry. Apa kamu nunggu lama?” tanya Kenzo saat sudah membukakan pintu mobil untuk Pelangi.
“Nggak juga kok.” Jawab Pelangi.
Kini Kenzo sudah menyalakan mesin mobilnya dan segera membelah jalanan menuju apartemen. Meski Kenzo dan Pelangi sudah bersikap biasa layaknya teman, namun jika tidak ada topik pembicaraan yang terlalu penting, mereka pun juga akan diam. Seperti sekarang ini.
“Kita makan diluar aja yuk!” ajak Kenzo.
Pelangi masih bergeming dan menimbang-nimbang sesuatu.
“Ehm, boleh. Tapi ini masih sore. Kebetulan bahan makanan juga sudah mulai menipis. Kamu keberatan nggak jika belanja dulu?” tanya Pelangi.
“Ya nggak lah. Ya udah kita belanja dulu.” Kenzo menyetujui.
“Loh kenapa gitu?” tanya Kenzo bingung.
“Males kalau kamu tebar pesona sama ibu-ibu lagi.” Jawab Pelangi cemberut.
Kenzo yang awalnya sangat bingung dengan permintaan Pelangi, kini dia tidak bisa lagi menahan tawanya saat Pelangi mengatakan dirinya tebar pesona pada ibu-ibu. Tapi jujur dia sangat senang. Bukankah istrinya itu mulai perhatian.
“Hahahaha tenang saja. Nggak akan seperti itu. Nanti aku akan bilang pada ibu-ibu jika ada yang mendekat aku bilangin kalau aku sedang bersama macan betina.” Ucap Kenzo sambil tertawa.
Ctak
Pelangi menyentil kening Kenzo karena tidak terima dikatai macan betina. Dan parahnya lagi Kenzo mengatakan itu semua tanpa beban yang sepertinya memang dirinya seperti macan betina.
“Awww… kamu jadi cewek kasar banget sih.” Ringis Kenzo pura-pura sambil mengusap keningnya.
“Itu tidak seberapa dengan kamu yang mengatai aku macan betina.” Jawab Pelangi cuek.
“Kamu jangan salah sangka dulu. Macan tuh artinya manis dan cantik.” Jawab Kenzo sambil mengerling.
Blush
__ADS_1
Entah kenapa Pelangi jadi merona saat Kenzo memujinya. Dia berusaha tatap tenang dan pura-pura tidak peduli dengan pujian itu.
Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah tiba di sebuah supermarket. Pelangi dan Kenzo segera masuk dan mengambil sebuah troli untuk meletakkan belanjaannya. Tanpa mereka berdua sadari ternyata Eva juga berada disana.
“Kurang ajar kamu Ken. Kamu mengacuhkan aku ternyata sedang asyik dengan pelakor itu.” Gumam Eva.
Eva tidak mungkin melabrak Pelangi saat ini juga karena dirinya sekarang juga bersama Dafa. Tapi Eva harus segera menghindar agar tidak sampai bertemu dengan Kenzo.
“Kamu mau kemana Sayang?” tanya Dafa.
“Ehm, perutku sakit. Aku ke toilet sebentar ya. Tolong kamu belanjain sesuai dengan catatan tadi.” ucap Eva buru-buru.
Dafa hanya mengangguk dan melanjutkan belanjaan Eva.
Sementara itu Pelangi juga sedang memeilih beberapa sayuran segar dan daging. Sedangkan Kenzo berdiri di belakang istrinya sambil mendorong troli.
“Bang Dafa?” sapa Pelangi.
“Hey Bre. Lagi belanja juga?” tanya Dafa tanpa melihat Kenzo.
“Siapa lagi nih cowok?” gumam Kenzo dalam hati.
“Iya nih Bang. Kalau abang juga belanja sama tante? Terus dimana tante?” tanya Pelangi sambil celingukan mencari mamanya Dafa.
“Oh nggak kok. Sama cewekku. Dia masih ke toilet.” Jawab Dafa.
Pelangi terkejut. Jika Dafa belanja sama ceweknya itu berarti Eva. Wah bakal ketahuan nggak ya sandiwara mak lampir itu.
“Ayo buruan!” ucap Kenzo kesal.
“Eh, bang kenalin ini Kenzo. Ken, kenalin ini Bang Dafa.” Ucap
Pelangi memperkenalkan.
“Kenzo, suaminya Pelangi.” Ucap Kenzo tanpa membalas uluran tangan Dafa.
.
.
.
*TBC
__ADS_1