
Saat Pelangi sampai di mall bersama Diva, dia tidak lantas menuju outlet yang menjual baju. Pelangi merasa perutnya sangat lapar. Akhirnya dia mengajak Diva untuk makan siang dulu.
“Makan dulu yuk Div?” ucap Pelangi.
“Yuk lah. Gue nurut aja sama bumil.” Jawab Diva.
Setelah mereka berdua sedang menunggu pesanan makanan, tiba-tiba saja ada seorang pria datang mendekati meja Pelangi dan Diva.
“Bre? Apa kabar kamu?” tanyanya.
“Bang Dafa? Apa kabar Bang? Aku baik-baik saja. Ayo silakan duduk.” Ucap Pelangi.
Dafa akhirnya ikut duduk bergabung dengan Pelangi dan Diva. Namun Dafa belum menyadari kalau Diva sedang berada di sampingnya. Pandangan mata Dafa tertuju pada perut buncit Pelangi.
“Kamu hamil Bre? Sama?” Tanya Dafa menggantung.
“Sama suamiku lah Bang.” Jawab Pelangi.
“Sorry, bukan gitu maksudku. Aku hanya belum paham atau memang ketinggalan informasi?” tanya Dafa.
Akhirnya Pelangi menceritakan kalau dirinya belum cerai dengan Kenzo. dan Dafa pun akhirnya mengangguk paham. Pelangi juga mengucapkan rasa prihatinnya pada hubungannya dengan Eva.
“Aku sudah melupakan dia Bre. Aku hanya merasa kasihan saja pada nasib anakku yang sedang dikandung oleh Eva. Apalagi saat ini Eva sedang menjalani hukumannya.” Ucap Dafa sendu.
Diva yang sejak tadi diam lama-lama merasa tidak nyaman berada di tengah-tengah Pelangi dan Dafa. Diva pun belum mengerti ada hubungan apa antara Pelangi dan Dafa.
Tak lama kemudian seorang pelayan datang membawakan pesanan makanan mereka.
“Terima kasih.” Ucap Diva.
Seketika Pelangi baru tersadar kalau sejak tadi dia sudah mengabaikan Diva karena terlalu fokus pada Dafa. Begitu juga dengan Dafa. Dia terkejut saat menoleh pada Diva yang sedang tersenyum tipis padanya.
“Eh Nona Diva?” ucap Dafa, Diva hanya mengangguk samar.
“Kalian sudah saling kenal?” tanya Pelangi.
__ADS_1
Dafa dan Diva mengangguk samar. Mereka berdua juga bingung harus menjawab apa. Karena mereka hanya saling tahu nama saja dan belum pernah berbincang-bincang.
“Beneran Div, Lo kenal dengan Bang Dafa? Dia abangnya Nancy.” Ucap Pelangi dan Diva terkejut karena dia baru tahu kalau pria yang beberapa waktu lalu dia kenal ternyata abangnya Nancy, kekasih Alex.
“Kamu kenal dengan Nona Diva, Bre?” tanya Dafa.
“Ya kenal lah Bang. Diva kan juga kerja di bengkel Alex.” Jawab Pelangi.
Dafa hanya manggut-manggut. Akhirnya antara Diva dan Dafa sudah tidak canggung lagi. Mereka bertiga ngobrol banyak sambil makan siang bersama. Dafa juga sudah memesan makanan.
Pelangi mengatakan pada Dafa kalau Diva adalah sepupu Kenzo. dan Dafa juga sudah tahu karena mereka sudah bertemu di acara pernikahan Kenzo dan Eva waktu itu. Mereka bertiga terus mengobrol tanpa mempedulikan kalau sejak tadi ada seseorang yang terus memperhatikannya.
“Ayo kita pulang sekarang!” ucap suara baritone yang tiba-tiba saja muncul di antara Pelangi, Diva, dan Dafa.
“Ken!” ucap Pelangi terkejut.
“Makan siangnya sudah selesai bukan? Kita bisa pulang sekarang.” ucap Kenzo tajam tanpa mempedulikan Dafa dan Diva.
Entah kenapa Pelangi merasakan hawa panas saat Kenzo berucap dengan suara tajam seperti itu. Walau dirinya masih bersikap dingin pada Kenzo, tapi entah kenapa dia sedikit takut saat melihat wajah tegas Kenzo yang terlihat sedang menahan marah. Akhirnya Pelangi segera berdiri mengikuti ucapan suaminya untuk pulang.
Susah payah Pelangi berjalan mengikuti langkah kaki Kenzo yang menurutnya sangat cepat. Perutnya baru saja terisi dan masih terasa penuh. Ditambah, kondisinya sedang hamil, membuat Pelangi ngos-ngosan.
Karena tidak ingin terjadi sesuatu dengan anaknya, Pelangi memilih berhenti dan mencari tempat duduk yang nyaman. Dia tidak peduli kalau Kenzo akan semakin marah.
Sedangkan Kenzo yang merasa di belakangnya sepi tidak mendengar langkah kaki istrinya, seketika menghentikan langkanya. Dan benar saja, Pelangi tidak ada di belakangnya. Kenzo semakin geram. Namun tiba-tiba saja matanya tertuju pada seorang wanita yang sedang duduk seorang diri sambil memegangi punggungnya. Hati Kenzo mencelos, merutuki kebodohannya. Dia melupakan satu hal kalau istrinya sedang hamil.
“Sorry!” ucap Kenzo saat sudah berdiri di depan Pelangi.
Dan tanpa mengucapkan sesuatu, Kenzo membungkukkan tubuhnya dan segera menggendong tubuh istrinya lalu membawanya masuk ke dalam mobil.
Pelangi sangat terkejut dengan tindakan Kenzo yang tiba-tiba menggendongnya. Apalagi pandanagn orang lalu lalang pada dirinya semakin membuat Pelangi malu. Akhirnya dia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Kenzo.
Kenzo menarik sudut bibirnya ke atas dengan sikap malu-malu istrinya. Jujur saja dia sangat menikmati momen itu. Apalagi hembusan hangat nafas Pelangi pada ceruk lehernya yang membuatnya sedikit kepanasan.
Kenzo sudah tiba di basement mall. Dengan sigap dia mengambil kunci mobil pada saku jasnya kemudian menekan remote agar pintu mobilnya terbuka. Lalu Kenzo mendudukkan Pelangi di jog mobil sebelah kiri kemudi. Setelah itu Kenzo berjalan cepat memutari mobilnya dan masuk.
__ADS_1
Tangan Kenzo terulur menyentuh punggung Pelangi. Pelangi terkesiap. Namun setelah itu dia mampu menormalkan degup jantungnya saat merasakan pijitan lembut Kenzo yang sangat nyaman.
“Maafkan aku, ya!” ucap Kenzo sambil memandang intens mata istrinya.
“Hmm” Jawab Pelangi dan segera membuang muka karena dia sangat gugup.
“Maaf, aku nggak suka kamu dekat dengan pria itu.” Ucap Kenzo lagi.
“Kenapa? Apa gara-gara Bang Dafa ayah biologis dari anak yang dikandung Eva. Dan kamu masih tidak terima kenyataan itu?” tanya Pelangi.
Entah kenapa mulut Pelangi tidak terkontrol dan langsung mengucapkan kalimat itu pada Kenzo. pikiran Pelangi, kalau Kenzo masih berat melepaskan Eva. Terlebih tahu kenyataan bahwa Dafa adalah ayah dari anak yang dikandung Eva.
Sedangkan Kenzo tampak bingung dengan pertanyaan istrinya. Harusnya dirinyalah yang marah karena Pelangi sedang sayik berbincang-bincang dengan pria lain. Tapi kenapa justru istrinya yang terlihat marah dan membicarakan Eva, menurutnya tidak ada hubungannya sama sekali.
“Benarkan kalau kamu masih belum menerima kenyataan itu. Kenyataan kalau selama ini wanita yang akan kamu nikahi justru telah menjalin hubungan dengan pria lain di belakang kamu. Dan kamu juga belum terima kalau anak dalam kandungan Eva bukan anak kamu.” Ucap Pelangi lalu membuang muka.
Entah kenapa hatinya sangat sakit. Sakit mengingat penghianatan Kenzo. meski Kenzo sudah menjelaskan semuanya. Tapi Pelangi masih belum bisa memaafkannya.
“Benarkan? Kamu masih tidak rela mele-mmmmphhh”
Dengan cepat Kenzo membungkam bibir Pelangi yang sejak tadi berbicara tak tentu arah menurutnya. Tapi Kenzo tersenyum penuh arti kalau istrinya sedang cemburu.
Ciuman itu berlangsung lama. Kenzo sangat menikmati bibir Pelangi yang telah lama ia rindukan. Begitu juga dengan Pelangi. Dia juga sangat merindukan cumbuan yang diberikan Kenzo.
Tepukan tangan Pelangi pada dada bidang Kenzo membuatnya sadar kalau istrinya sudah kehabisan pasokan oksigen. Ciuman mereka terhenti meninggalkan bekas saliva pada bibir masing-masing. Kenzo membersihkannya pakai bibirnya, setelah itu tersenyum tipis pada Pelangi.
“Aku sangat merindukanmu!”
Cup
.
.
.
__ADS_1
*TBC