
Sore itu, Frederic pulang dengan muka lelah. Ia seharian fokus untuk mempelajari seluruh kondisi perusahaan setelah diangkat sebagai CEO. Tak ada lagi waktu untuk bermain, ia benar-benar ingin menguasai kinerja dalam waktu singkat.
Waktu selama dua tahun terakhir bekerja sebagai karyawan biasa di perusahaan sendiri bukanlah hal yang mudah. Namun, proses itu justru tak membuat ia menguasai seluruh seluk-beluk perusahaan.
Frederic meletakkan tas di atas meja kerja. Kemudian, ia beranjak ke kamar, di mana Leticia berada. Sore itu, Leticia baru saja selesai mandi.
Ia masih memakai bathrobe, tiba-tiba saja Frederic masuk tanpa mengetok pintu. Sontak, Leticia begitu terkejut melihat kehadiran pria itu.
"Ehm ... sorry, aku tidak tahu kamu baru selesai mandi. Pakailah bajumu, biasakan seperti sekarang karena status kita adalah sepasang suami istri," kata Frederic, ia pun berlalu menuju kamar mandi.
Leticia langsung mengambil baju dari dalam lemari, memakainya begitu saja tanpa rasa takut kalau suami kontraknya itu akan datang.
Frederic langsung membersihkan diri di dalam kamar mandi. Tanpa membutuhkan waktu yang lama, ia sudah keluar dari kamar mandi, menutupi setengah bagian tubuhnya dengan handuk putih.
Melihat tubuh Frederic yang toples, Leticia langsung memalingkan wajah. Pura-pura tak melihat pria itu, menyibukkan diri dengan ponsel.
"Cia, apa kamu besok jadi bekerja di tempat itu?" tanya Frederic memulai topik pembicaraan mereka sore itu.
"Aku masih bimbang," jawab Leticia.
Huffft
Frederic mengeluarkan nafas kasar, mencoba tenang menghadapi Leticia yang kerap berubah pikiran. Padahal, ia sudah bersusah payah untuk meminta tempat pada ayahnya. Apalagi, perusahaan itu merupakan store terbesar di kota mereka.
"Kenapa bimbang?" tanya Frederic, ia menatap wanita itu penuh keraguan.
"Kalau aku bekerja, siapa yang akan mengurus rumah ini?" balas Leticia.
"Kalau soal itu, kau tidak perlu khawatir. Ada tiga maid yang bekerja di rumah ini. Apa masih kurang? Bila perlu, aku akan menambahkan tiga orang lagi!"
Frederic mulai memakai baju, di depan Leticia tanpa meninggalkan kamar mereka. Ia sudah menganggap kalau Leticia bukanlah orang lain. Berbeda dengan Leticia, semenjak sepeninggal sang ibu, sikapnya justru semakin dingin.
__ADS_1
"Ti–tidak perlu," ucapnya terbata-bata.
"Mengapa?" Frederic menatap lekat mata Leticia.
"Bukan begitu maksudku, aku tidak mau membebanimu. Sudah menumpang, kini aku harus bekerja di perusahaan milik orangtuamu. Aku terlalu malu untuk melakukan hal itu," seloroh Leticia memberikan alibi.
"Justru lebih bagus kalau kau bekerja di tempat itu. Daripada harus bekerja dengan orang lain? Bermodalkan ijazah SMA? Apa yang bisa kau kerjakan? Mau menjadi seorang pelayan seperti dulu?" Frederic tampak meremehkan perempuan itu.
Sementara, Leticia yang mendengarkan pernyataan suami kontraknya itu hanya terdiam. Memang benar, ia juga tak berniat untuk menjadi seorang pelayan. Namun, sama saja jika bekerja untuk perusahaan suaminya.
Dia bisa-bisa tak leluasa bekerja. Apalagi, jika kontrak mereka berakhir, status Leticia yang bekerja untuk perusahaan Frederic pun pasti ikut berakhir.
"Apa boleh aku menganggur dulu. Aku lebih baik melayanimu sebagai seorang istri. Untuk perjanjian yang kita tambahkan, mungkin bisa dicoret kembali."
Frederic menjadi serba-salah. Menurutnya, tak ada lagi yang bisa diperdebatkan. Wanita itu sepertinya memang enggan untuk bekerja. Padahal, kemarin tekadnya sangat bulat untuk mendapatkan pekerjaan. Dalam satu hari, semua keinginannya pun berubah.
"Yaaudah, terserah padamu saja! Kalau kau tidak mau bekerja juga tak masalah! Aku akan terus menafkahimu sampai kontrak kita berakhir. Termasuk juga untuk kedua adikmu."
"Oh, ya! Tadi pagi aku mengantarkan mereka ke sekolah. Sebaiknya kamu urus mereka berdua! Jangan membuat malu keluarga kita," tegur Frederic, ia mengeyampingkan tubunya, membelakangi Leticia.
Selama sore ini, tak ada lagi yang bisa dikerjakan. Alhasil, Frederic ikut bersantai di dalam kamar bersama istrinya.
"Apa maksudmu?"
Frederic membalikkan tubuh, menghadap pada wajah Leticia. Kedua bola mata mereka saling beradu.
"Maksudku, kamu harus memperhatikan mereka. Bukan aku yang perlu kau layani. Tetapi setelah ibumu tiada, tidak ada lagi yang mengurus mereka berdua. Baju seragam sekolah mereka sangat kusam! Membuat malu saja," decit Frederic kesal.
"Hah? Jadi kamu malu mengantarkan mereka berdua?" Leticia menatap sinis suaminya.
"Tidak juga, hanya saja penampilan mereka benar-benar tidak layak!" Frederic pun mempertajam mata elangnya, seakan-akan ingin menerkam Leticia.
__ADS_1
"Kalau begitu, kamu tidak perlu berbaik hati mengantarkan mereka ke sekolah. Sia-sia saja aku memujimu karena bersikap baik pagi ini. Cih," decak Leticia, semakin sebal melihat pria itu.
"Aku sudah meminta mbak dei membelikan baju seragam baru untuk mereka! Pastikan kalau besok mereka memakainya," ketus Frederic, ia membalikkan tubuh, membelakangi perempuan yang sedang diambang batas kemarahan.
Leticia dengan kesal langsung meninggalkan Frederic. Ia menuju kamar kedua adiknya. Sebelum itu, Leticia menghampiri seorang pembantu.
"Mbak Dei, apa kamu sudah mencuci seragam sekolah untuk Fani dan Fano?" lontar Leticia tanpa basa-basi, ia menatap Dei di dapur dengan tangan yang bertolak pinggang.
"Sudah nyonya, seragamnya sudah saya simpan di masing-masing lemari mereka." Dei terus saja melanjutkan pekerjaannya, tanpa rasa takut meski Leticia sedang mempertunjukkan wajah penuh amarah.
Dei menyakini kalau istri tuannya adalah perempuan yang sangat baik. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan ditakutkan lagi.
"Baik Mbak, terima kasih!" Leticia langsung menuju kamar Fani dan Fano.
Ia ke kamar Fani dulu, menggeledah lemari adik perempuannya itu. Mencari baju seragam kusam yang dicemooh oleh suaminya.
"Jangan pernah lagi pakai baju ini." Leticia melemparkan seragam yang menggantung milik Fani, membuat adiknya itu sangat terkejut ketakutan.
"Kenapa Mbak?" tanya Fani dengan rasa takut.
"Apa matamu tidak bisa melihatnya? Baju itu jorok dan kumal! Tidak layak untuk dipakai. Lihat saja warnanya sudah berubah." Leticia memelototi adik perempuannya yang sedang berbaring santai.
Sontak, Fani langsung mendudukkan tubuhnya. Selama ini, mereka masih mengenakan seragam yang jelek itu lantaran sang ibu tidak pernah membelikan seragam baru untuk mereka.
Apalagi Fano, anak lelaki itu tak mau membebani ibu maupun kakaknya yang sengaja menafkahi keluarga. "Maaf mbak."
Fani beranjak, mengambil seragam yang terhempas di atas lantai. Kemudian, ia membuang seragam itu ke tong sampah di depan mata Leticia.
"Pakai seragam baru yang ada di dalam lemari. Apapun bajumu yang tidak layak, jangan gunakan lagi. Bilang samaku agar aku belikan yang baru," ungkap Leticia, kemudian ia pergi meninggalkan kamar Fani.
Hal yang sama pun dilakukan Leticia saat berada di dalam kamar Fano. Adik prianya itu histeris ketakutan, baru kali ini ia melihat Leticia tampak sangat marah.
__ADS_1