Pemuas Hasrat Tuan Eric

Pemuas Hasrat Tuan Eric
bab53


__ADS_3

Kemudian Leticia pun pergi segera masuk ke dalam kamar, ia merebahkan diri di atas ranjang sembari malu-malu mengingat panggilan dari Eric yang disematkan padanya tadi siang.


Kali ini, rasanya Leticia benar-benar bak diterbangkan ke atas langit. Sebab, selama ini ia memanggil dengan sebutan Tuan. Bahkan ia seperti merasa malu jika harus memanggil Eric dengan Tuan karena membuat status dirinya seperti seorang pelayan yang memberikan pelayanan pada majikannya sendiri.


Meskipun mereka memang pada akhirnya memiliki hubungan status yang hanya sebatas pernikahan kontrak. Semakin larut dalam pikiran, justru membuat pikiran Leticia kacau dan merasa diacak-acak oleh sosok suami kontraknya.


Dalam sekejap, Leticia segera memejamkan mata, tiba-tiba dia sudah tertidur pulas. Tak terasa, Leticia bahkan tertidur hingg beberapa jam lamanya. Sebab, dia juga sudah merasa lelah melakukan berbagai aktivitas pada hari ini.


***


Berbagai kegiatan sudah dilakukan oleh Eric, mulai berkunjung di dua tempat anak perusahaan. Bahkan ia juga melanjutkan untuk bertemu dengan kolega untuk membahas tentang sistem kerjasama di perusahaan miliknya.


Eric juga sudah kembali ke kantor dan melanjutkan rapat dengan para petinggi di perusahaan tersebut. Pekerjaannya dari tadi tak selesai karena sejak pagi waktunya memang disita beberapa jam hanya untuk pergi ke sekolah Fano sehingga banyak pekerjaan yang terbengkalai dan diundur.


Tak terasa, sudah memasuki jam 5 sore, yang seharusnya jadwal kepulangan Eric untuk kembali ke rumah. Tak hanya itu, wajah Leticia selalu terlintas dalam benaknya, ia berkali-kali memikirkan Leticia sehingga merasa tidak sabar untuk pulang ke rumah.


Tak hanya itu, Eric juga ingin bisa segera menyentuh tubuh istrinya dengan tenang. Namun, Sekretarisnya—Nia mengingatkan bahwa ada jadwal meeting beberapa investor dengan beberapa kolega hingga jam 12 malam nanti.


"Arghh ... gila! Bisa-bisa ku merindukan tubuh Leticia, jika aku terus berada di luar hingga jam 12 malam," sungut Eric, seraya menyugar rambut saat di duduk di kursi kebesaran.


Ia merasa kesal karena malam ini sepertinya tidak sesuai rencana, apalagi Eric tidak ada waktu yang senggang untuk menyentuh tubuh indah istrinya.


Saat itu juga, Eric dan Nia kembali berangkat menuju tempat pertemuan meeting yang akan diselenggarakan dalam pertemuan dirinya bersama kolega dan investor lain. Beberapa tempat sudah disiapkan sehingga Eric tinggal datang ke sana.


Tetapi, saat berada di dalam perjalanan, tiba-tiba Eric melihat toko bunga yang berjajar sehingga ia menghentikan laju mobil di pinggir jalan.

__ADS_1


"Ada apa, Pak?" singgung Nia, saat Eric menginjakkan rem, laju mobil itu seketika berhenti.


Nia mengedarkan pandangan di area sekitar, ia merasa bingung saat melihat Eric tepat memberhentikan mobilnya di depan beberapa toko bunga.


"Bagaimana menurutmu jika seorang perempuan diberikan bunga seperti itu? Apakah mereka akan senang?" tutur Eric, karena ini adalah pertama kali ia ingin memberikan bunga pada Leticia.


Sejujurnya, ia ingin memberikan apresiasi pada istrinya karena perempuan itu tak pernah sadar jika tubuhnya telah ternodai oleh tangan kekar Eric.


"Apakah bunga itu untuk istri, Bapak?" tanya Nia kembali, lalu menatap lekat wajah sang bos.


"Tentulah, untuk siapa lagi!" kilah Eric dengan lugas.


"Istri bapak? Ya, tentu saja senang, perempuan mana yang tidak senang jika diberikan buket bunga yang besar!" ucap Nia dengan asal, sehingga memberikan ide cemerlang bagi Eric untuk membelikan buket bunga yang sangat besar untuk diserahkan pada istri kontraknya.


"Oh ... berarti keinginan semua perempuan seperti itu," kekeh Eric seraya tersenyum dengan tipis.


"Astaga, saya sampai lupa, kalau begitu kamu tunggu di sini dulu, saya akan membelikan buket bunga untuk istri saya." Eric pun keluar dari mobil, ia berlari menuju salah satu toko bunga yang ada di pinggiran jalan. Lalu, ia meminta dibuatkan satu buket bunga besar untuk Leticia


Pedagang itu dengan cekatan membentuk satu buket bunga yang berisi bunga mawar merah dan mawar putih sehingga buket itu terlihat sangat indah. Saat sang pedagang sibuk menyelesaikan pembuatan buket, Eric sibuk melihat-lihat dan mengedarkan pandangan di toko bunga itu.


Proa itu dengan fokus melihat ada buket yang lain, yang sangat menarik perhatiannya. Ternyata, uang bisa dijadikan buket bunga.


Hal itu dipikirkan Eric sehingga dia larut dalam pikirannya. Sembari menggaruk-garuk tengkuk, ia merasa bingung dan merasa aneh jika melihat buket bukan terbuat dari bunga tetapi terbuat dari lembaran uang.


"Saya tidak salah lihat, Pak? Uang bisa dijadikan buket?" celetuk Eric, seraya menatap penuh selidik.

__ADS_1


"Iya, Tuan ... sekarang lagi musim seperti itu, bukan buket bunga lagi tapi buket uang. Tahu sendirikan, semua perempuan sangat menyukai uang jadi tidak salah jika mereka mendapatkan buket uang seperti itu. Bahkan banyak sekali yang memesannya," sergah pedagang itu.


"Wah, boleh juga buatkan satu untuk saya tapi uangnya lembaran merah semua. Buatkan yang paling besar, ya!" pint Eric.


"Kalau begitu, lebih baik Tuan pergi dulu, nanti saya akan buatkan buket uangnya tetapi karena membutuhkan waktu yang cukup lama, kami akan mengantarkan ke alamat sesuai yang Tuan berikan," seru pedagang.


Eric mengeluarkan lembaran uang segepok yang berada di dalam dompet, ia memang selalu menyediakan uang cash untuk keperluan pembayaran apapun meskipun sekarang sudah masanya era chasless tapi dia juga sangat suka menyimpan uang yang cash untuk dipergunakan dalam kepentingan mendadak.


"Buatkan buketnya, ini uang untuk buket serta jasanya. Termasuk uang untuk buket bunga yang ini," sosor Eric seraya memberikan lembaran uang itu pada pedagang.


Sang tampak syok, sebab sangat banyak uang yang diberikan. Tanpa berpikir lama, lalu Eric menuliskan alamat rumah mereka.


"Jangan lupa sematkan beberapa bunga mawar merah di dalam buket uang agar memperindah buketnya," tambah Eric.


Pedagang pun mengangguk dengan mantap. "Nanti kami akan segera kirimkan ke alamat ini, hari ini juga akan sampai disana, tentunya saat malam hari sekitar jam 10 malam."


"Atur saja, Pak! Kalau begitu, saya pamit dulu karena saya ada meeting lagi, jangan sampai kelupaan ya, Pak!" tandas Eric mengingatkan.


Tak berselang lama, Eric mengambil buket bunga yang sudah jadi. Lalu berlari ke dalam mobil, segera Eric kemudian melajukan mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi agar segera tiba di sebuah hotel yang menjadi tempat pertemuan mereka.


"Pak, besar sekali bunganya pasti bu Leticia akan merasa senang sekali mendapatkan bunga dari suaminya," celetuk Nia memuji kepekaan bosnya.


"Saya ingin memberikan bunga itu karena hari ini telat pulang. Jadi tidak ada yang menemani dia sampai malam nanti," sahut Eric, lalu melirik buket bunga yang berada di kursi belakang melalui broadway mirror mobil.


"Ada kejadian apa, Pak sampai telat datang ke kantor?" tanya Nia.

__ADS_1


"Tadi saya lagi mengurus persoalan adik istri saya dan memang sangat penting jadi tidak bisa ditunda lagi," jawab Eric dengan gamang karena tak mau menjelaskan secara rinci.


__ADS_2