
"Ayo kita pulang, Mbak akan telepon dulu sopirnya, dia parkir di mana?" ujar Leticia sembari terkekeh.
Leticia mengambil sebuah ponsel dan menghubungi sang sopir, mereka segera menuju parkiran sesuai petunjuk sopir tersebut.
****
Tak terasa, Eric sudah menyelesaikan pekerjaan hingga beberapa jam yang lalu, kini sudah memasuki jam 5 sore, sudah saatnya ia pulang dengan tepat waktu. Oleh karena itu, Eric juga tengah bersiap-siap untuk pulang.
Rasanya, sudah tak sabar ingin melihat wajah istrinya yang berada di rumah, namun dia kembali memastikan ponsel untuk mendengar kabar sang istri apakah sudah pulang atau belum.
Tetapi Eric lagi-lagi merasa gengsi jika harus menghubungi Leticia, akhirnya ia dengan pasrah pulang ke rumah karena dia memang merasa sangat lelah dan waktu kerjanya sudah benar-benar selesai.
Eric berjalan keluar dari ruangan, lalu menarik handle pintu, setelah keluar di sana juga ada Nia yang sudah bersiap-siap untuk pulang. Ia menyapa sekretarisnya sekaligus berpamitan.
"Nia, apa kamu mau pulang juga?"
"Tentu, Pak ... lagian sudah waktunya pulang dan sudah tidak ada pekerjaan lagi."
"Okelah, kalau begitu hati-hati. Saya juga mau pulang karena sudah penat bekerja hari ini."
"Ya, Pak hati-hati di jalan."
Eric berjalan lebih dulu tapi Nia pun mengikuti dari belakang, mereka masuk ke dalam lift yang memang tampak sangat sepi karena mereka berada di lantai teratas.
Kemudian lift semakin ramai, setelah menuruni bebeeapa lantai karena diisi oleh beberapa petinggi yang ada di perusahaan pusat. Lift itu memang khusus untuk para petinggi dan CEO perusahaan saja, sedangkan lift untuk karyawan dibuat terpisah.
Hanya Nia lah karyawan yang beruntung bisa menikmati lift khusus pejabat perusahaan. Dia bisa berada di lift itu karena lift khusus karyawan tidak ada di ruangan lantai teratas.
__ADS_1
Nia pun berjalan dengan langkah yang kecil, ia tidak ingin mendahului bosnya. Setelah memastikan kalau Eric sudah benar-benar terpisah jauh darinya, barulah ia merasa lega. Nia berlari ke luar kantor, mencari sebuah taksi dan segera pulang ke rumah.
Sementara Eric masuk ke dalam mobil, ia melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang seraya memikirkan persiapan untuk malam nanti.
Hari ini aku tidak boleh gagal lagi!
Eric sibuk memutar kemudi stir, sesuai arah jalan untuk menuju kediaman sembari larut dalam pikirannya eendiri.
Erikmcnmerasa kesal karena tadi malam ia sudah gagal untuk menyentuh tubuh istrinya. Oleh karena itu, rasa kesal memuncak karena momen kesukaannya terlewati. Khususnpada hari ini, ia pun mempersiapkan satu-satunya cara agar bisa lolos dari kesadaran istrinya.
Di dalam perjalanan Eric tampak memikirkan siasat apa yang harus dia lakukan agar Leticia benar-benar terlelap tidur pulas bahkan hingga tidak bisa terbangun saat Eric sibuk menikmati tubuh molek milik istrinya.
Tetapi, tiba-tiba Eric merasa lelah, ia tak bisa memikirkan apapun, pikirannya larut ingin segera cepat-cepat sampai di dalam rumah dan segera merebahkan diri di atas ranjang.
Drt ... drt ...
Ponsel Eric bergetar dan berdering dengan kencang perhatiannya pun tersita meski sedang berada di tengah jalan, ia mengambil sebuah earphone yang sudah terkoneksi melalui bluetooth sehingga bisa menjawab panggilan telepon itu dengan aman.
"Halo ... ada apa? tanya Eric to the point.
Saat ini, ia tengah fokus mengemudikan setirnya agar pandangan tidak lalai.
"Halo, Pak ... saya Daus dari direktur perusahaan pratama news. Saya ingin memastikan sebelum artikel terbit dan meminta persetujuan Bapak. Apakah artikel itu sudah sesuai dengan keinginan Bapak, artikelnya juga sudah saya kirimkan melalui email," tandas Daus.
"Baik, Pak Daus nanti setelah saya sampai di rumah, saya akan cek lagi artikel tersebut. Saat ini saya sedang berada di jalan jadi tidak bisa langsung memastikannya, nanti saya akan menghubungi anda kembali," sahut Eric seraya melajukan mobil dengan kecepatan yang semakin tinggi.
"Baik, Pak kalau begitu hati-hati di jalan." Pria itu memutus sambungan telepon karena ia tidak ingin merepotkan Eric harus sibuk mengutak-atik ponsel.
__ADS_1
Apalagi, Eric sedang di jalan, ia segera melepaskan earphone yang menempel di telinga. Kemudian, Eric segera tiba di halaman rumah, ia memarkirkan mobil itu di garasi rumah. Entah kenapa rumah itu tampak sepi dan belum ada tanda-tanda kepulangan Leticia bersama adiknya.
****
Di dalam kamar Fano memang mendengar suara mesin mobil, ia mengira itu adalah kedatangan sang kakak sehingga Fano berlari keluar ternyata raut wajahnya berubah seketika terlihat dengan tatapan yang penuh kecewa karena ia hanya mendapati wajah Eric di depannya saat ini.
"Ada Apa Fano?" tanya Eric saat melihat adik iparnya mendekati.
"Gak papa, Mas aku kira tadi yang datang adalah Mbak Leticia."
"Loh ... istri saya belum pulang?" cecar Eric seraya terkejut.
Saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba sebuah mobil masuk ke halaman rumah. Leticia dan Fani baru saja tiba, mereka diturunkan oleh sopir sebelum memasukkan mobil itu ke dalam garasi. Lalu, Leticia mengeluarkan semua barang belanjaan hingga membuat Eric tampak tertegun begitu juga dengan Fano, ia terkejut melihat kakaknya yang membawa banyak belanjaan.
"Oh ... Mbak Leticia sama Fani habis belanja pantes aja lama pulangnya," gerutu Fano sehingga terdengar oleh Eric, ucapannya itu pun mendapat tatapan tajam dari Eric.
"Mbakmu belanja seharian, Mas juga baru tahu kalau dia baru pulang," timpal Eric dengan ketus dan dingin.
Entah mengapa, Eric merasa kesal karena Leticia pulang terlambat bahkan wanita itu tak mengabari sebelumnya kalau mereka akan pulang hingga sore hari.
Seketika Eric pun berubah, ia menjadi merasa kesal dan cuek, lalu masuk saja ke dalam tanpa memperdulikan Leticia yang menatapnya dari kejauhan dengan tatapan datar.
Eric hanya mendengus kesal, lalu berjalan dengan langkah yang lebar. Ia masuk ke dalam rumah dan membiarkan Fano yang berdiam diri di ambang batas pintu menunggu sang kakak. Bahkan ia tak peduli jika Leticia ingin menyapanya.
Leticia yang melihat tatapan tajam dari suaminya merasa gugup dan kikuk. Bahkan khawatir Eric akan memarahinya saat berada di sana.
"Capat, Fan! Segera masuk! Hari sudah semakin malam," titah Leticia, saat kewalahan membawa kantong belanja yang sangat banyak.
__ADS_1
Begitu juga dengan Fani, ia juga kesulitan hingga memanggil Fano agar degera membantu mereka.
"Fano, jangan diam saja, bantuin kita dong!" sungut Fani dengan kesal.