
Satu-satunya cara yang bisa Leticia lakukan untuk memenuhi rasa kejenuhannya yaitu hanyalah dengan bermain game bahkan gamenya sangat banyak di ponsel. Beraneka game dimainkan oleh Leticia untuk mengisi waktu luangnya apalagi saat suaminya sedang tidak berada di rumah.
Namun, baru kali ini Leticia bertemu dengan sosok teman yang sangat ahli bermain game. Bahkan ia bisa terkalahkan sehingga dirinya merasa tertarik pada Faro dan ia juga ingin mengakrabkan diri dengan pria itu.
Setelah merasa bosan dan mata pun terasa perih karena terus menatap layar ponsel akhirnya ia beralih untuk kegiatan lain. Leticia baru mengingat untuk membuka seluruh kantong belanja yang kemarin belum sempat ia rapikan. Kini, adalah kesempatannya untuk membuka satu-persatu kantong belanja tersebut, apalagi suaminya sedang tidak berada di rumah.
"Astaga ... aku baru ingat kalau belanjaanku belum dibongkar," batin Leticia.
Tak berselang lama, wanita itu pun beranjak, lalu dia mengambil dan mengeluarkan semua kantong belanja yang disimpan di dalam lemari, ia membongkar satu- persatu dan mencoba setelan yang dibeli untuk dirinya sendiri. Sementara tas mentereng yang ia beli seharga ratusan juta pun ditenteng, mencobanya dengan penuh rasa percaya diri.
Ia berjalan seolah-olah tengah berada di atas catwalk. Usai mondar-mandir seraya berkaca di depan meja rias, lalu memutar tubuhnya berkali-kali bak seorang model. Namun kecantikannya memang tak bisa dipungkiri walaupun ia tak memakai riasan, wajahnya terlihat sangat cantik dan anggun apalagi kini ia memakai barang-barang branded dan berharga mahal.
****
"Selamat pagi semuanya!" sapa Eric dengan suara yang gagah dan tatapan yang penuh bina.
Kini, ia tak takut lagi untuk menghadapi para pemilik saham, sebabnya usaha tak sia-sia, ia berhasil membawa nila saham perusahaan pusat mengalami kenaikan bahkan para pemelik saham pun sudah mendapatkan keuntungan yang penuh saat ini.
"Pagi," sahut para pemilik saham dengan wajah yang datar, sontak hal itu membuat Eric merasa kesal padahal Ia sudah susah payah untuk menaikkan nilai harga saham perusahaan pusat, namun tidak ada apresiasi dari dari mereka, justru mereka menatap wajah Eric dengan tatapan yang datar dan mulut yang tertutup.
__ADS_1
"Sesuai dengan perjanjian saya kemarin, kalau kita akan mengadakan rapat lagi setelah nilai saham kembali normal, tetapi sepertinya bapak-bapak yang di sini sudah tidak sabar untuk menanyakan nilai saham tersebut. Padahal kalian sendiri pasti sudah melihat di bursa saham. Pagi ini kita harus bertepuk tangan dong mengapresiasi kinerja saya karena saya sudah berhasil untuk mengembalikan nilai saham tersebut," jelas Eric dengan bangga seraya menatap tajam para pemilik saham yang ada di aula tersebut.
Semuanya tampak diam mendengarkan ocehan yang disampaikan oleh Eric. Namun, ada seseorang yang sangat antusias dan semangat untuk memberikan apresiasi pada Eric, ia bertepuk tangan sembari berdiri memberikan pujian pada CEO Varrel Grup itu.
"Bravo ... anda hebat sekali, dalam semalam sudah bisa mengembalikan nilai saham perusahaan, kami patut bangga karena memiliki CEO seperti anda," ucap pria itu sembari bertepuk tangan dan memberikan senyum yang lebar.
"Nah ... begitu dongC itu yang saya suka kalau saya di apresiasi, kinerja saya pasti akan lebih baik lagi," sela Eric seraya menantang Para pemilik saham dengan tatapan yang sangat tajam.
"Jadi saya sekarang penasaran kenapa semuanya berkumpul di sini pagi-pagi sekali, padahal nilai saham kita sudah membaik," tutur Eric, menatap lekat seluruh orang yang ada di dalam ruangan itu.
"Karena nilai perusahaan sudah kembali lagi, saya ingin menambahkan modal untuk saham tersebut," seru seseorang dari sudut ruangan.
"Wah ... bagus sekali ide anda. Saya sangat suka ide itu, anda bisa langsun menambahkan nilai modalnya di hari ini juga," sahut Eric dengan tegas.
"Ya ... kalau terjadi penurunan lagi, nanti kami akan mencari tahu penyebabnya, lalu kami akan melakukan tindakan lagi agar persoalan itu segera tertangani, yang pasti kami sudah mengingatkan setiap anak perusahaan jangan bertindak ceroboh dan membuat kesalahan sehingga berdampak pada perusahaan pusat," tandas Eric dengan lugas.
"Tetapi kami tidak mau lagi terjadi seperti kemarin, adanya penurunan nilai itu, karena membuat kami merugi walaupun hanya sehari saja. Walaupun sudah naik tetapi kan kerugian kami belum juga kembali," tambah pria yang lain.
"Tenang saja, Pak dalam 2 hari ini, keuntungan anda akan kembali jangan khawatir karena anda akan mendapatkan keuntungan dan uang itu bisa anda gunakan untuk menambahkan modal anda saat ini," hardik Eric dengan tegas.
__ADS_1
"Apalagi yang ingin kalian tanyakan?" lanjut Eric lagi karena ia tak bisa menyudahi rapat itu begitu saja, sebelum keputusan yang dibuat oleh para pemilik saham sudah satu suara.
****
Leticia menyimpan nomor yang diberikan oleh Faro, dia sengaja untuk menyimpannya jika sewaktu-waktu membutuhkan apalagi Leticia juga tampak membutuhkan teman yang seimbang untuk lawannya dalam permainan game tersebut.
Alih-alih menyelesaikan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda, sekarang ia membongkar semua barang-barangnya, lalu menatanya kembali di dalam lemari. Namun ada satu baju yang menarik perhatiannya, mengingatkannya pada ibunya Leticia. Kemarin, Leticia memang sempat membeli sepasang baju khusus untuk mengenang sang ibu, andai saja ibunya masih hidup, pastinya Legicia akan memberikan baju itu pada sang ibu.
Tak terasa air mata Leticia ternyata menitik dengan derasnya, bulir-bulir bening membasahi kedua pipinya, ia menangis tersedu-sedu, mengingat kematian sang Ibu. Bahkan ia memang belum siap untuk ditinggalkan oleh ibu satu-satunya, orang tua yang ia miliki.
Leticia sengaja menggantungkan baju yang tadinya akan diberikan pada ibunya, ia ingin membuat suatu kenangan meski ibunya telah tiada, baju itu pun lantas disimpan di dalam lemari ditutupi dengan plastik berwarna bening agar Baju itu tidak berdebu dan berbau. Lalu, Leticia kembali tertidur di atas ranjang, ia menatap langit-langit kamar dengan buliran bening yang terus mengalir tiada henti.
drt ... drt ...
Satu panggilan di layar ponsel Leticia membuyarkan lamunannya, ia menatap dan begitu terkejutnya Leticia saat melihat nama yang tertera di sana, ada nama Eric di layar ponsel tersebut.
***
10 menit yang lalu ...
__ADS_1
Eric sudah menyelesaikan meeting bersama para pemilik saham, sudah ada beberapa pengusaha yang menambahkan modal saham mereka, namun ada yang beberapa yang hanya mencecar Eric dan mendesak Eric agar tetap mempertahankan nilai perusahaan sehingga mereka tidak merugi.
Selain itu, sebelum Eric menuju rapat kedua di pratama news, ia sengaja menghubungi sang istri terlebih dahulu.