
"Wah ... nggak nyangka ternyata Mbak juga suka mengoleksi bikini, aku juga sempat kepingin banget beli bikini kalau punya duit yang banyak kayak, Mbak," ucap Fani seraya menatap lekat bikini yang indah dan menatapnya dengan rasa hati-hati.
"Oh ... jadi kemarin kenapa kamu nggak beli bikini saja, kan Mbak sempat mampir ke tempat pakaian dalam," seru Leticia.
"Aku malu, Mbak apalagi aku masih SMA nanti dikira aku sedang merasakan pubertas tapi sejujurnya memang merasakan pubertas sih, hanya saja aku ingin mencoba sekali-kali menggunakan bikini seperti orang-orang gitu, apalagi kita punya kesempatan untuk ke pantai," jelas Fani seraya asik menatap bikini baru miliknya.
"Berarti kamu sehati dong sama, Mbak karena kita sama-sama menyukai bikini dan Mbak punya koleksi bikini yang sangat banyak hanya saja Mbak memakainya menjadi dalaman saja karena tidak mungkin Mbak pakai di depan Mas Eric," sesal Leticia, mengkerutkan wajahnya seketika.
"Loh, justru bagus dong, Mbak kalau dipakai di depan mas Eric, justru Mbak terlihat seksi dan menggoda," kedek Fani seraya terkikik geli.
"Kamu ini ada-ada saja, mana mungkin Mbak memakai bikini di depan dia," beber Leticia, seakan mengingat status mereka karena mereka hanya sepasang suami istri yang memiliki hubungan dalam pernikahan kontrak.
"Mungkin dong, Mbak. Oleh karena itu, Mbak juga harus punya koleksi lingerie karena dari cerita yang aku baca justru banyak pasangan itu lebih menyukai saat istrinya memakai lingeri yang cantik dan seksi," tutur Fani menasehati sang kakak dan ia merasa sok tahu dan merasa paling benar.
"Kamu ini kayak seperti sudah berpengalaman saja," timpal Leticia dengan tatapan yang sinis.
"Serius loh, Mbak orang-orang tuh sangat menyukai lingerie apalagi kalau sepasang suami istri. Aku sih sering baca di novel-novel online gitu seperti di noveltoon, kalau cerita versi kartunya sih ada juga tuh di mangatoon, dan banyak banget yang memperlihatkan kehidupan rumah tangga mereka dengan kebiasaannya hang sering menampilkan tubuhnya yang seksi dan ramping yaitu menggunakan lingerie," pungkas Fani.
*Malah promo othoorr... makanya jgn beralih ke platform lain yakk readers hehe!!
"Halah ... itu kan hanya dunia halusinasi saja," gerutu Leticia, lau mencubit gemas pipis sang adik.
Ia merasa adik polosnya itu sok tahu dan seperti sudah pernah merasakan kehidupan dunia berumah tangga. Leticia pun berpikir sejenak, sepertinya ia juga harus memiliki koleksi lingerie jika benar-benar mungkin nantinya sudah memiliki suami yang sah dan nyata.
__ADS_1
Tentunya dengan pernikahan yang tidak lagi terikat kontrak, saat ini Leticia ingin sekali sebenarnya mengesahkan hubungan dengan Eric, sebab rasanya ia tidak ingin mencari pria lain. Eric adalah pria yang sesuai dengan kriterianya.
Hanya saja, Leticia meyakini kalau Eric tidak mencintainya. Begitu juga dengan dirinya memang benar-benar belum jatuh hati pada pria itu, jarak diantara mereka memang sangat terpaut jauh jadi rasanya sangat sulit untuk saling mendekatkan diri, jangankan mendekatkan diri saling berkomunikasi saja mereka jarang melakukannya.
"Bikini ini untukku, ya!" pinta Fani, sontak ucapan itu membuyarkan lamunan Leticia dan kakaknya itu pun hanya menggangguk dengan mantap.
Lalu, Fani segera keluar dari dalam kamar setelah pamit pada Leticia. "Mbak, aku pamit dulu, makasih loh untuk bikininya."
**
Eric baru saja tiba di halaman rumah, ia buru-buru memasuki rumah, saat menaiki anak tangga, ia tak sengaja berpapasan dengan Fani yang sedang menuruni anak tangga dari arah kamarnya.
Lalu Eric menggabarkan pada Fani kalau mereka akan segera berangkat sehingga Fani harus segera bersiap-siap.
"Iya nih, pekerjaan sangat hectic, lagipula tadi saya harus booking kamar hotel dulu. Oh ... ya, kita akan berangkat usai menyantap makan malam. Oleh karena itu kamu harus segera bersiap-siap!" titah Eric, lalu berjalan begitu saja, melintasi adik iparnya.
***
Beberapa jam yang lalu saat Fano setelah pulang dari sekolah, kemudian saat mereka tengah menyantap makan siang, Leticia sudah menyampaikan pada adik laki-lakinya itu kalau harus segera bersiap-siap karena mereka akan segera berangkat ke Sukabumi. Jadi, jika sewaktu-waktu Eric meminta berangkat di hari ini juga, maka semuanya sudah siap.
Oleh karena itu, Fano langsung mempersiapkan seluruh barang bawaan, ia tidak mau ada barang yang tertinggal sedikitpun, kini dia tengah bersantai di atas ranjang menunggu keputusan dan kabar dari sang kakak kalau mereka benar-benar akan berangkat pada malam ini.
Saat menunggu kabar, Fano pun menikmati lantunan musik yang berada dalam ponsel, ia nikmati melalui earphone yang menempel di telinga sembari tampak bersantai.
__ADS_1
Bahkan, seiring musik memutar, Fano juga ikut menyanyikan lagu yang sedang didengarkannya.
****
"Oke, Mas!" kata Fani dengan sedikit berteriak karena kakak iparnya itu sudah semakin menjauh.
Fami begitu semangat karena sebentar lagi akan berangkat menuju Sukabumi. Kemudian Fani sudah kembali ke kamar, ia mengeluarkan koper dan menyimpan di ruang keluarga, lalu ia mengetuk pintu kamar Fano.
Tok ... tok ...
Setelah mengetuk berkali-kali, Fano yang asik mendengarkan musik sampai-sampai tak bisa mendengar ketukan pintu itu, karena ia sedang sibuk mendengarkan musik dari list lagu-lagu yang ada di ponsel.
Fani pun merasa kesal karena sudah bolak-balik mengetuk pintu tapi tidak ada respon dari saudara kembarnya, akhirnya ia membuka pintu kamar itu secara paksa dan ternyata pintu itu tidak dikunci. Kemudian, Fani menatap Fano dengan tatapan tajam dan kesal, sementara Fano tampak bingung mengapa Fani menerobos masuk ke dalam kamarnya.
"Ada apa, Fan kamu tiba-tiba masuk ke dalam kamarku? Untung saja aku sedang tidak pakai baju!" sambar Fano, menatap penuh selidik.
"Aku kira kamu tidur makanya nggak nyaut-nyaut, makanya aku dobrak saja pintunya. Oh, ya ... kita akan segera berangkat, kamu sudah mempersiapkan barang-barangmu?" cecar Fani, mereka berdua pun saling tatap.
"Sudah dong, itu lihat ranselku ada di sudut ruangan." Fano menunjuk tas ranselnya yang tampak menggemuk karena berisi barang-barang miliknya, ternyata ia membawa barang-barang yang cukup banyak sehingga ransel besarnya terisi dengan penuh.
"Wah ... banyak juga barang-barangmu, lebih baik keluarkan saja dan satukan dengan koperku supaya nanti tidak sampai kelupaan, soalnya selesai makan malam kita langsung berangkat loh," desak Fani.
"Oke nanti saja lah, pas sekalian aku keluar menuju meja makan," tukas Fano, lalu ia kembali asik memakai earphone karena tadi saat Fani datang ia sengaja melepas earphone itu agar bisa mendengar apa yang dikatakan oleh saudara kembarnya.
__ADS_1
Sementara Fani kembali lagi ke kamar, kemudian ia sibuk mempersiapkan tas selempang untuk dipakainya bepergian, tas itu untuk menyimpan dompet, ponsel serta make up yang akan digunakannya sehari-hari.