
"Tidak ada apa-apa sih. Aku hanya ingin memberikannya saja padamu sebagai tanda rasa terima kasihku karena kamu masih tetap di sampingku sebagai istri kontrak," tambah Eric.
"Oh ... tidak perlu sungkan, lagian itu kan sudah berdasarkan kesepakatan kesepakatan kita berdua."
"Yasudah, kalau begitu kamu tidur saja, kasihan sudah malam seperti ini."
"Emangnya saat ini jam berapa?" tanya Leticia seraya mengerjapkan kedua mata untuk mencari jam dinding yang ada di sekitar.
"Jam 1 pagi."
"Astaga, malam sekali, Tuan pulang? Ada urusan apa sampai selarut ini?"
"Tadi aku ada jadwal meeting sampai jam 12 malam sehingga aku tidak bisa cepat-cepat pulang karena semua schedule ku semuanya diundurkan," jawab Eric.
"Oh, begitu! Pantas aja kamu pulang terlalu larut malam, kalau begitu istirahatlah karena aku juga sudah semakin mengantuk lagi," kata Leticia sembari mengucek kedua bola mata
"Hmmm." Eric hanya berdehem saat menjawab perkataan Leticia.
Namun, tak lama setelah percakapan itu, Leticia kembali tidur, Eric pun memanfaatkan momen tersebut. Kali ini, ia tak ingin lagi ketahuan jika tengah meraba tubuh istrinya. Alhasil Eric akhirnya pasrah untuk hari ini, dia tidak akan melakukan kegiatannya yang spesial itu.
Eric lebih memilih untuk mengambil baju yang terhempas di lantai, lalu memakainya dengan lengkap dan kemudian lanjut untuk beristirahat dan tidur.
***
Pagi itu, Leticia sempat termenung saat melihat suaminya telah mengenakan piyama. Padahal saat tadi malam, Eric tak mengenakan apapun di tubuh bagian atasnya karena Leticia sempat memastikan pundak pria itu terlihat jelas. Namun kini, Eric telah mengenakan piyama dan pundaknya tak lagi terekspos.
__ADS_1
Saat terduduk di ranjang, Leticia meneliti wajah suaminya yang tengah tertidur pulas, dia juga memastikan dan menyibakkan selimut sehingga melihat dengan jelas baju yang dikenakan oleh Eric hingga akhirnya Leticia benar-benar memastikan kalau Eric memang mengenakan pakaian piyama dengan lengkap.
Tetapi karena merasa biasa saja dan tidak curiga, akhirnya Leticia segera pergi meninggalkan kamar, dia ingin memastikan lebih dahulu sarapan yang akan disajikan oleh para maid sehingga nantinya tidak akan diprotes oleh Eric.
Selain itu, Leticia juga menyiapkan bahan untuk seduhan kopi sehingga tinggal menuangkan air panas saja saat suaminya sudah bersama di meja makan.
Saat sampai di dapur, Leticia lagi-lagi kagum dengan para maid yang sangat cekatan, mereka sudah menyiapkan berbagai menu sarapan dan mempersilahkan nanti siang untuk duduk di sana.
"Pagi, Nyonya," sapa Dei kepada Leticia, sontak sapaan itu dijawab dengan senyuman olehnya.
Kemudian, Leticia juga mengeluarkan ponsel di saku piyama karena sebelum menuruni anak tangga, sebelum keluar dari kamar ia memang sengaja membawa ponsel dengan maksud untuk menghubungi wali kelas Fani sehingga Fani bisa bersiap-siap jika harus disuruh berangkat ke sekolah.
"Selamat pagi, Bu saya ada perlu makanya pagi-pagi begini menghubungi, Ibu," ujar Leticia saat panggilan telepon itu telah diterima oleh wali kelas Fani dan Fano.
"Iya, ada perlu apa ya, Bu?" tanya wali kelas itu.
"Ehm ... kalau soal itu saya belum bisa memutuskan, Bu karena semuanya harus seizin kepala sekolah tetapi nanti saya akan tanyakan dulu kepada kepala sekolah, apakah skors itu akan dibatalkan!" jawab Wali Kelas.
"Loh ... yang membuat keputusan skors itu kan ibu sendiri waktu itu!" kilah Leticia.
"Iya sih, tapi kan kami harus memberikan laporan kepada sekolah. Oleh karena itu, harus tetap ada persetujuan dari kepala sekolah untuk membatalkan hukuman yang sudah diberikan dari wali kelas," sahutnya.
"Untuk hari ini Fani tidak bisa bersekolah?" sambung Leticia.
"Sepertinya kalau untuk hari ini dia masih diskors, nanti saya akan mengabari lagi bagaimana kelanjutannya."
__ADS_1
"Baik, Bu terima kasih, mudah-mudahan ada pencerahan dari pihak sekolah sehingga adik saya itu bisa melanjutkan studinya karena kasihan sekali dia memang tidak bersalah tetapi harus mendapatkan hukuman," keluh Leticia, sembari duduk di kursi makan.
"Iya, Bu maaf sekali untuk kejadian itu karena kami juga menetapkan keputusan berdasarkan hasil keterangan para saksi," balas Wali Kelas.
"Baik, Bu terima kasih banyak atas waktunya." Leticia mematikan sambungan telepon tersebut, lalu menyimpannya kembali ke dalam saku.
Tak berselang lama, Leticia membangunkan Fani dan Fano. Bahkan, ia juga mengabarkan pada Fano untuk segera bersiap-siap agar bisa berangkat ke sekolah, sementara Fani disampaikan bahwa keputusan pihak sekolah yang belum bisa memberikan kepastian terhadap kelanjutan pembatalan skorsnya.
Fani pun merasa kecewa karena ia tak bisa bersekolah untuk hari ini, meski baru beberapa hari menjalani skors tapi ia sudah merasa bosan apalagi hari-harinya diisi dengan belajar seorang diri di dalam kamar.
"Mbak, desak m saja wali kelasjy, supaya dia memberikan keputusan kalau aku sebenarnya tidak bersalah!" pinta Fani, seraya menggerutu dengan menghentakkan kaki.
"Nggak perlu, tetap harus melalui keputusan dan izin dari kepala sekolah, Fan! Jadi Mbak juga nggak bisa mendesak dia begitu saja," sosor Leticia.
"Tapi kan dia yang buat keputusan dan jelas-jelas si Marks itu yang bersalah dan aku memang tidak melakukan kesalahan apapun," papar Fani.
"Tidak usah terlalu dipikirkan. Nikmati saja masa skorsmu, anggap saja kamu sedang liburan, luangkan waktumu untuk belajar dan bermain sejenak," tutur Leticia.
"Yasudahlah!" desah Fani dengan pasrah, sembari membuang nafas kasar.
Lalu, ia kembali ke kamar untuk segera mandi dan bersiap-siap diri berkumpul bersama keluarga di meja makan.
Sedangkan, Leticia kembali ke kamar. Ia ingin membangunkan Eric yang diperkirakannya masih tertidur dengan pulas, apalagi saat tadi malam ternyata Eric pulang dengan sangat larut.
Namun, saat masuk ke dalam kamar, perhatian Leticia tersita dan melihat 2 buket bunga yang berjajar di sofa, ia melihat dan mencium bunga mawar merah putih dan menikmati keindahan serta aroma semerbak yang muncul dari bunga tersebut.
__ADS_1
Leticia menikmati pemandangan bunga yang sangat cantik, mewah hingga besar. Ia benar-benar tidak menyangka bisa mendapatkan buket bunga sebesar itu. Meski orang yang memberikannya bukanlah dari seseorang yang dianggapnya sangat istimewa.
Namun, ia sangat menyukai bunga pemberian Eric. Begitu cantik dan menawan. Tak heran, jika Leticia betah untuk menciumi buket bunga pemberian Eric untuk waktu yang cukup lama. Wangi khas aroma mawar itu pun membuatnya semakin candu untuk menikmati bunga tersebut