
Pagi hari sudah menyapa, Eric tampak bersiap-siap untuk menuju sekolahan Fano. Ia memang sudah berjanji pada Leticia bahwa dirinya akan menemani istri dan adik iparnya untuk ke sekolah bahkan dengan tegas ia akan mengeluarkan anak yang membully dari sekolahan.
Pagi itu, setelah menyantap sarapan pagi, tanpa basa-basi Eric langsung memboyong Fano dan istrinya untuk berangkat ke sekolah. Sementara Fani dipinta tetap berada di rumah karena ia masih skors oleh pihak sekolah sehingga tetap melanjutkan belajar di rumah seorang diri.
Setelah berjalan menyusuri rumah, lalu Eric diekori oleh Fano dan Leticia masuk ke dalam mobil. Leticia tampak santai duduk di samping suaminya. Bahkan ia memegang map coklat yang berisi lembaran hasil visum wajah dan tubuh Fano.
Nantinya, visum akan digunakan sebagai bukti bahwa Fano memang benar-benar di mendapat kekerasan di sekolah. Dalam waktu tempuh perjalanan selama 20 menit, mereka sudah tiba di halaman sekolah. Eric pun berjalan menggandeng tangan istrinya untuk menunjukkan sikap keharmonisan keluarga di tengah-tengah pandangan semua orang yang melihat kedatangan mereka.
Eric ingin menutupi status kontrak dan status mereka yang memang tak saling mencintai satu sama lain. Setelah tiba di sekolah, Fano tak lantas masuk ke dalam ruangan kelas. Ia diajak untuk menemui guru agar persoalan itu cepat selesai.
Tepat saat itu jam 06.30 pagi, semua guru sudah berkumpul di ruang guru karena Eric memerintahkan semua guru untuk hadir menyaksikan persoalan tersebut. Tak hanya itu, Eric juga memerintahkan wali kelas Fano agar memanggil anak yang bersangkutan sebagai tersangk utama dalam kasus tersebut.
"Hari ini saya di sini datang ke sekolah ini untuk menyampaikan kekesalan saya karena saya melihat terjadi tindak kekerasan di sekolah ini, apalagi menyangkut adik ipar saya sendiri," ujar Eric dengan tegas dan lantang.
Guru tampak terpukau dengan Eric yang berada di depan menyampaikan kata-kata. Ia memang terlihat sangat tampan dan sangat berwibawa bahkan semua guru seakan terpana melihat ketampanannya.
Kemudian, saat berbicara di depan ruangan, ia benar-benar menunjukkan seseorang yang berjiwa pemimpin, jadi tak heran jika guru-guru di sekolah Fano pun ikut kepincut akan ketampanan dan kegagahan suami Leticia tersebut.
Wali kelas Fano menjalankan perintah Eric untuk memanggilkan pelaku utama dalam kejadian itu. Saat ini memang pihak sekolah tidak mengetahui adanya tindakan yang terjadi pada siswa mereka. Apalagi sampai hari ini, keluarga Fano sengaja datang hanya untuk melaporkan tindakan kekerasan dari sekolah.
__ADS_1
Oleh karena itu, meski komite sekolah pun tidak hadir dalam kegiatan itu. Namun Eric sudah memerintahkan agar kepala sekolah bertindak cepat dan mengumpulkan semua komite sekolah untuk memberikan persetuiuan atas penindakan pada anak pembully seperti Marks.
***
"Marks ikut dengan saya," ujar wali kelas Fano, saat ia berdiri di ambang batas pintu, lalu ia menjadi pusat perhatian para anak-anak asuhnya.
"Ada apa, ya, Bu?" tanya Marks, merasa bingung sembari menoleh pada wali kelas yang tengah berdiri dengan tetapan yang tajam seakan-akan ingin menerkamnya.
"Sudah ikut saja, ada sesuatu yang harus kamu dengarkan dan akui," tambah wali kelas dengan kata yang sedikit ketus.
Tanpa bicara, Marks pun ikut mengikuti wali kelasnya. Ia segera pergi ke ruang guru, di sana Marks terkejut melihat Fano yang berdiri di samping kakak serta iparnya. Saat itu, Marks langsung mengenali wajah Leticia karena ia sempat bertemu sekali saat terlibat masalah dengan Fani. Oleh karena itu, kali ini wajah Marks menyeringai saat melihat wajah perempuan itu lagi untuk kedua kalinya.
"Ada masalah apa ini, Bu?" tanya Marks, sebelum masuk ke dalam ruang guru, ia menghentikan langkah kaki wali kelasnya.
"Keluarga Fano baru saja melaporkanmu, kalau kamu katanya melakukan tindakan kekerasan di sekolah. Jadi masuk sekarang!" desak Wali Kelas.
Marks awalnya merasa khawatir dan takut apalagi semua guru berkumpul di sana. Namun, pada akhirnya, ia berjalan mengikuti wali kelas sembari tertunduk dengan lesu. Sebab, Marks tak menyiapkan apapun untuk momen seperti ini.
Padahal kemarin ia sudah memperingati serta mengancam Fano untuk tidak berkata apapun pada pihak sekolah. Dengan terpaksa, Marks akhirnya mengekkori gurunya dengan pasrah dan ikut berdiri di samping Fano sesuai perintah wali kelasnya.
__ADS_1
"Ini dia, Pak anak yang dikatakan sebagai pembully. Bahkan dengan beraninya dia mengeroyok Fano," terang Wali Kelas seraya menunjuk wajah Marks.
"Oh ... kamu yang berani menyentuh adik ipar saya, berani sekali kamu menggebuki dia, .apa tidak ada rasa kasihan dari dalam dirimu sampai kamu memukuli teman satu kelasmu sendiri!" cetus Eric, emosinya semakin terusulut dan memuncak.
Marks pun terdiam kaku seakan-akan mulutnya terkunci, wajahnya merah padam meski ingin sekali ia meluapkan kemarahannya di depan Fano. Namun saat itu banyak yang menyaksikan akhirnya ia mengurungkan niat tersebut. Bisa gagal rencananya bahkan terbongkar statusnya sebagai seorang pembully
Tetapi, Eric terus memaksa agar Marks mengaku. Hanya saja, Marks memilih tetap bungkam, dan berdalih meminta bahwa ingin dipanggilkan juga orang tuanya seperti pada Fano saat ini didampingi oleh kakaknya.
"Bu, saya ingin orang tua saya diundang ke sin. Kenapa mereka mencecar saya yang sendirian! Sedangkan si Fano malah ada yang pasang badan, kakaknya itu!" tandas Marks,bdengan lantang, pura-pura tak ada rasa takut sama sekali.
"Cih ... anak ini tidak ada takut-takutnya," sesal Eric seraya menatap sengit wajah anak itu.
"Ceritakan semua apa yang terjadi kemarin tentang dia," lanjut Eric, berbicara pada Fano agar terbuka secara terang-terangan.
"Marks memang menggebuki saya bersama teman-temannya. Dia mengancam saya agar tidak boleh menyampaikan semua ini pada guru maupun pihak sekolah, termasuk pada keluarga saya sendiri. Tetapu karena kakak saya yang mendesak untuk mengaku ketika melihat wajah yang memar. Akhirnya saya jujur dan mengaku kalau memang Marks melakukan tindakan bully pada saya," ungkap Fano dengan lugas.
Seketika Marks mengepalkan tangan dibalik pahanya. Bahkan, ia menatap sinis wajah Fano seraya merutukki pria itu dengan kesal. Marks ingin sekali memberikan pelajaran setelah momen ini terlewati.
Sementara itu, Wali Kelas menuruti permintaan Marks, ia menghubungi pihak keluarga Marks agar segera datang ke sekolah. Bahkan Papanya Marks yang merupakan pengusaha terpandang dan orang yang paling disegani merasa kesal karena mengetahui dari pihak sekolah kalau Marks terlibat kasus pembullyan. Oleh karena itu Papanya pun langsung bergegas datang bersama istrinya.
__ADS_1
Marks adalah seorang anak berusia 17 tahun. Dia memiliki seorang ayah yang sangat ditakuti, meskipun sang papa selalu mewujudkan apapun keinginannya tapi hanya Marks merasa sangat kurang kasih sayang.
Sementara ibunya yang kandung sudah meninggal sejak ia berumur 5 tahun, saat ini Marks memiliki ibu tiri yang bersikap jahat dan dingin padanya. Hal itulah yang memicu Marks sehingga bersikap jahat pada teman-temannya dan suka membully.