
Leticia segera berjalan dengan cepat, ia menenteng beberapa kantong belanjaan hasil berburu hari ini. Kemudian ia juga segera menyusul suaminya yang tampak dengan wajah mengkerut.
Leticia tahu dan menduga bahwa Eric sedang marah karena ia pulang terlambat sekaligus kalap berbelanja dan menghabiskan uang suaminya.
Oleh sebab itu, Leticia dan Fani buru-buru masuk ke dalam rumah, dibantu oleh Fano dengan membawa beberapa barang belanjaan, kemudian mereka duduk sejenak di ruang keluarga lantaran Fano mempertanyakan mengapa kakaknya berbelanja sangat banyak seperti itu.
"Mbak, serius kenapa belanja sampai sebanyak ini?" tanya Fano, saat menatap lekat sang kakak.
Kini, Leticia bahkan tak berani untuk menghampiri Eric yang sudah berada di dalam kamar, sehingga Leticia memilih masih bersama adik-adiknya untuk membenahi barang-barang dan memilah barang milik Fani dan barang milik dirinya.
Leticia juga menyisihkan barang yang dia beli seperti baju-baju untuk Fano, sebab memang dia bersama Fani tadi menyempatkan waktu untuk mencari baju yang bisa digunakan oleh Fano. Selain itu, Leticia juga memberikan setelan untuk Eric agar pria itu tak marah lagi.
"Iya, tadi kita muter-muter di mall sampai capek seharian penuh, jadi dengan adanya kesempatan itu Mbak berbelanja sangat banyak. Ini baju untukmu." Leticia memberikan kantong plastik khusus untuk Fano, pria itu sontak gembira dan tersenyum dengan lebar.
"Wah ... ada punyaku juga rupanya." Fano merampas kantong plastik yang diberikan Leticia, melihat ke dalam serta meneliti baju-baju apa yang ada di dalam kantong tersebut.
Kemudian, Leticia juga mempersiapkan kantong khusus untuk setelan baju suaminya. Untung saja ia tadi melihat beberapa baju yang menurutnya sangat cocok di tubuh suaminya sehingga dia membelikan dua setelan baju saat berada di butik. Oleh karena itu, Leticia pun bersiap-siap untuk menyerahkan baju itu pada sang suami.
"Yasudah, Fani dan Fano, kalian ke kamar saja, istirahat karena sebentar lagi kita akan makan malam," titah Leticia.
"Oke, Mbak!" Fano dan Fani segera beranjak menuju kamar masing-masing, begitu juga dengan Leticia ikut beranjak membawa kantongan dan paper bag miliknya.
Lalu, dia menaiki anak tangga dengan buru-buru.
__ADS_1
Deg ...
Namun sntah mengapa rasa degupan jantung yang terus berdetak kencang membuat Leticia khawatir. Ia takut akan dimarahin bahkan dibentak oleh Eric—suami kontraknya.
***
Di dalam kamar mandi, Eric tampak sedang bersiul-siul dengan gembira menanti momen malam ini. Ia sudah tidak sabar ingin melucuti tubuh istrinya yang sangat ramping dan elok dipandang. Rasanya walaupun hanya sehari ia gagal untuk menyentuh tubuh istrinya tetapi baginya itu merasa sudah seperti setahun lamanya walaupun itu dianggapnya terlalu berlebihan.
Namun untuk menutupi semua itu, Eric pun juga lantas memasang sikap yang dingin dan ketus saat istrinya nanti bertatap muka dengannya. Ia memang berdalih untuk memarahi Leticia tetapi sekaligus agar perempuan itu tak curiga padanya.
Dalam selama 10 menit, Eric sudah berada di dalam kamar mandi, ia belum mendengar kabar tanda-tanda kedatangan istrinya yang masuk ke dalam kamar sehingga dia tampak bersantai menikmati pemandiannya.
ceklek ...
Leticia mengedarkan pandangan, menatap area sekitar tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa suaminya berada di dalam kamar. Lalu, ia menempelkan telinga di tepi daun pintu dan ternyata suara percikan air terdengar sangat jelas sehingga ia yakin kalau suaminya itu tengah sibuk mandi.
Leticia menyimpan barang-barangnya di dalam lemari, kemudian ia meletakkan satu kantong di atas nakas untuk diserahkan pada Eric nantinya. Meskipun merasa letih dan lelah, Leticia duduk di tepian ranjang. Ia sengaja menunggu kehadiran suaminya yang habis selesai melakukan ritual pemandiannya.
Tak berselang lama, setelah Leticia masuk ke dalam kamar akhirnya Eric pun keluar dari dalam kamar mandi.
Ceklek ...
Tarikan handel pintu membuat Leticia menoleh. Pria itu hanya mengenakan sebuah handuk untuk menutupi bagian bawahnya dan sontak saja melihat tubuh kekar suaminya, mata Leticia terbelalak lebar seperti ada pemandangan indah yang kini menyejukkan mata.
__ADS_1
Namun, Leticia pura-pura memalingkan wajah agar tidak ketahuan sedang menyorot tajam dada bidang milik suaminya. Sementara Eric dengan santai berjalan memasang wajah yang dingin dan kaku, lalu mengambil beberapa pasang baju yang akan dikenakannya untuk malam ini.
Keduanya tampak saling diam, tidak ada satupun yang berani memulai pembicaraan lebih dulu. Bahkan Leticia yang duduk di tepian ranjang merasa kebingungan dan merasa kikuk, apa yang akan dia ucapkan untuk memulai pembicaraan ini.
Namun, pada akhirnya Leticia memberanikan diri. Ia memulai pembicaraan dengan memberikan baju yang sudah diberikannya untuk Eric.
"Tuan, aku tadi membelikanmu baju. Maaf, aku pulang terlambat karena aku sampai lupa waktu saat berbelanja di dalam mall."
Eric lantas menoleh ke belakang, niat baik Leticia disambut olehnya, ia menghampiri Leticia dan mengambil kantongan yang diulurkan dengan tangan perempuan itu. Kemudian, membuka kantongan itu dan menyebarkannya di atas ranjang.
Bahkan Eric sempat terkejut melihat baju yang dibelikan Leticia untuknya karena terlihat begitu bagus dan sangat cocok jika dikenakan pada tubuhnya. Pakaian itu sebenarnya untuk digunakan Eric saat bepergian khususnya baju kasual yang memang menarik bagi dirinya.
"Makasih atas bajunya, kenapa kamu tidak mengabari saya kalau pulang sampai selarut itu!" sergah Eric dengan ketus.
Sontak suara itu membuat jantung Leticia berdegup dengan kencang karena ia takut akan dimarahi, apalagi belanjaannya mencapai hingga ratusan juta rupiah.
"Maaf, Tuan! Aku tidak sempat soalnya aku sangat kerepotan membawa barang-barangku dan aku kira tiba sampai di rumah tepat waktu sebelum kepulanganmu," kilah Leticia tertunduk penuh penyesalan.
"Yasudah, kalau begitu kamu mandi saja sekarang, saya ingin beristirahat dulu," kata Eric seraya memasukkan kembali semua barang-barang yang dibeli oleh Leticia kepadanya ke dalam kantong plastik.
Leticia beranjak pergi, ia masuk ke dalam kamar mandi. Di sana, ia agak kebingungan lantaran mendapatkan respon yang menurutnya sangat aneh dari suaminya.
Bahkan Eric tak marah sama sekali meski nada bicaranya sedikit ketus dan meninggi. Hal itupun membuat Leticia tampak bingung dan merasa aneh. Ia jadi memikirkan apakah Eric sesungguhnya benar-benar marah kepadanya atau memang sengaja memperbolehkannya bersenang-senang dengan berbelanja.
__ADS_1