
Setelah itu, barulah untuk kegiatan perkemahan malam, Eric mengambil sebuah gitar dan menyanyikan lagu, diiringi diiringi oleh Fani dan Fano yang ikut bernyanyi. Sementara, Leticia tampak sibuk mulai memanggang berbagai makanan dibantu dua orang koki yang ada di sana. Leticia hanya membawa dan menyajikan makanan ke meja makan yang sudah tersedia di depan tenda.
Tak hanya itu, Leticia juga memerintahkan untuk para pelayan menyajikan makanan hidangan utama, steak sirloin yang dipesan oleh Eric, Leticia ingin keluarganya merasakan keistimewaan dalam menu makan malam ini.
Leticia memanggil Eric dan adik-adiknya, setelah semua makanan tersaji. Kemudian, pelayan disuruh pergi sejenak dan diperintahkan akan datang kembali setelah mereka menyelesaikan makan malam tersebut.
"Mas, Fani, Fano, ayo ke sini, kita makan malam dulu," ajak Leticia sedikit berteriak agar ketiga orang itu berhenti bernyanyi dan meluncur ke meja makan.
Ketiganya langsung menghampiri Leticia, seketika Fani dan Fano tampak takjub dengan berbagai makanan yang dihidangkan. Makanan itu sangat banyak bahkan sangat menggiurkan, malam itu berbagai sajian steak, sosis bakar, sayur-sayuran, salad serta yang lainnya disajikan semasih hangat.
Tak berselang lama, satu keluarga kecil itu langsung menyambar makanan karena cuaca yang dingin semakin menusuk, sehingga mereka segera menyantap kakanan sebelum terasa dingin.
Semuanya menghabiskan makanan yang dihidangkan dengan porsi sedang serta menu sajian berbagai pilihan. Saat memulai makan malam, semua orang tampak memilih-milih makanan yang ingin disantap.
Hanya membutuhkan waktu selama 30 menit saja makanan itu sudah tandas, mereka segera beristirahat di kamar masing-masing karena cuaca semakin menusuk ke dalam kulit.
"Fani, Fano istirahatlah! Besok pagi bangun sekitar jam 5 pagi karena kita ingin menyaksikan matahari terbit jadi jangan sampai kelewatan dengan kesempatan itu," ucap Eric Seraya memperingati adik iparnya.
"Oke, Mas!" Jawab Fani.
"Siap, Mas!" jawab Fano.
Keduanya memberi jawaban dengan waktu bersamaan sehingga membuat Eric dan Leticia tertawa sembari bergeleng-geleng kepala.
__ADS_1
Lalu, Eric dan Leticia segera pergi ke kamar termasuk Fani dan Fano juga berlari langsung masuk ke dalam kamar, semuanya ingin segera menghangatkan diri dari cuaca malam itu.
Hawa terasa semakin dingin tepat saat jam 9 malam, cuacanya semakin menusuk ke dalam kulit sehingga lebih baik memilih mengistirahatkan tubuh di dalam kamar dengan suasana yang hangat karena ada penghangat di dalam ruangan kamar tenda.
Ketiga kamar itu masing-masing menutup pintu tenda agar tidak bisa terlihat dari luar. Mereka pun menikmati malamnya, termasuk Eric yang sudah mulai mencuri-curi pandang saat Leticia menghempaskan tubuh di atas ranjang.
Namun Leticia beranjak kembali dan membasuh wajah, tak lupa ia mengganti pakaian dengan kemeja yang berwarna putih yang oversize hingga panjangnya sepaha, membalut tubuhnya terlihat semakin seksi.
Leticia tampak sederhana dan sangat cantik tetapi memikat mata Eric, bahkan pandangannya tak bisa beralih lagi dengan pandangan tubuh indah istrinya yang terlihat sangat ramping dan sangat menggiurkan.
Tanpa merasa ada yang aneh, Leticia membaringkan tubuh di atas ranjang sementara Eric juga bergantian membasuh wajah.
ceklek ...
Tak lama setelah keluar dari kamar mandi, Eric melihat Leticia sudah terlelap ulas karena cuaca yang dingin dengan rintik hujan yang membasahi perkemahan.
Setelah ia keluar dari kamar mandi, Eric masih terjaga, menatap sang istri yang tertidur sangat pulas. Bahkan, entah mengapa ia tak bisa tertidur sama sekali.
Glek ...
Kecantikan Leticia yang sangat sederhana mampu memikat hati Eric. Wajah polos tetapi sangat bercahaya membuat ia dengan susah payah menelan shaliva. Baju yang sedikit terbuka, mengekspose pundak mulus hingga leher jenjang, apalagi paha mulus tereskpose dengan sempurna karena Leticia tak menutupi dengan selimut, sontak pemandangan itu semakin meningkatkan hasrat Eric malam itu.
Awalnya, ia hanya ingin menyentuh tubuh Leticia. Entah mengapa, setiap sentuhannya membuatnya semakin candu. Mulai menyentuh dada sang istri, mendaratkan wajahnya ke leher jenjang istrinya yang masih pulas bahkan tak terganggu dengan apa yang semua dilakukan oleh suaminya.
__ADS_1
Eric juga mencium bibir istrinya dengan lembut. Meski ia hanya ingin mencoba sekali saja, tapi sentuhannya semakin dalam bahkan membuatnya semakin ketagihan.
Malam ini, ia meremat dada sang istri dengan lembut. Hingga akhirnya, ia juga mendaratkan tanganya pada area yang paling intim milik Leticia.
Anehnya, Leticia justru tidak merasakan keanehan saat tuan Eric tengah melucuti tubuhnya. Sejak malam itu, awal petaka bagi Eric untuk memenuhi hasratnya setiap malam, jika sang istri sudah tertidur pulas.
Ia bermain sendiri dengan tubuh istrinya. Namun, saat mereka sudah terbangun, Eric justru bersikap seolah-olah tidak menyukai istrinya dan tak pernah terjadi apa-apa. Ini awal mula kebiasaan Eric sehingga ia mulai kecanduan dengan tubuh istrinya sejdiri. Kebisaan ini mulai Eric lakukan terus-meneru, mulai malam pertama saat mereka melakukan perkemahan kelarga.
Eric memang menyesali karena sikap Leticia yang berubah saat sang ibu meninggal. Apalagi Leticia mencoba ingin membatalkan pernikahan kontrak yang sudah mereka setujui bersama.
Oleh karena itu, semua yang dilakukan Leticia membuatnya merasa kesal. Hal itulah yang memacu Eric hingga ia merasa tertantang untuk menyentuh tubuh istrinya dimulai malam ini. Ia pun merasakan kenikmatan yang luar biasa setelah menyentuh tubuh istrinya untuk pertama kali.
****
Saat pagi datang, tepat pukul 5 pagi, Leticia terbangun. Ia merasa aneh karena tiba-tiba berada di dalam dekapan suaminya. Namun, tidak ada perasaan curiga yang dilemparkan pada Eric.
Eric memang sengaja setelah melakukan aksinya tadi malam, ia sengaja mendekap erat tubuh Leticia. Karena hal itu sering sekali terjadi, sehingga membuatnya lebih terbiasa.
Oleh karena itu, Leticia bahkan menganggap bahwa dirinya lah yang masuk ke dalam dekapan suaminya. Sehingga dia tak pernah menyinggung persoalan itu, hal ini juga bukan pertama kali terjadi.
Oleh karena itu, saat terbangun perlahan-lahan Leticia membuka dekapan dan lengan Eric yang membelenggu tunuhnya.
Ia tidak membangunkan Eric, tetapi saat menatap jam beker yang ada di nakas, ternyata sudah jam 5 pagi. Kemudian, Leticia teringat akan permintaan Eric tadi malam, ia sengaja membangunkan Eric karena janjinya kemarin saat jam 5 pagi harus menyaksikan fajar terbit.
__ADS_1
"Tuan, bangun! Tuan ... bangun," titah Leticia seraya menggoyangkan tubuh Eric.
Saat itu, kecantikan Leticia terpancar meskipun baru bangun tidur, rambut terurai tertata dengan rapi. Kemudian pundaknya terekspos dengan sempurna dengan kemeja yang sedikit terulur ke bawah.