Pemuas Hasrat Tuan Eric

Pemuas Hasrat Tuan Eric
bab27


__ADS_3

Setelah terlepas dari belenggu tuan Eric, akhirnya Leticia bergegas mandi. Sebab, hari ini ia akan pergi ke sekolah Fani dan Fano untuk menindaklanjuti tentang perkelahian adiknya yang nantinya akan berujung pada kasus pembullyan.


Fani memang bermasalah dengan seorang anak pembuly meskipun itu bukan tandingannya karena lawannya adalah seorang anak laki-laki tapi karena Fani ingin membantu temannya, ia terpaksa melawan dan melakukan tindakan sendiri hingga berakhir pada pemanggilan yang dilakukan oleh pihak guru karena terjadi perkelahian di dalam sekolah.


Sayangnya, Fani juga tak mengetahui bahwa si pembully ini kerap juga melakukan penindasan kepada saudara kembarnya. Namun Fano pun tak pernah berkata jujur sehingga Fani belum melakukan apa-apa untuk menolong saudara kembarnya.


Setelah selesai membersihkan diri, Leticia segera bersiap-siap, ia segera memakai baju formal untuk datang ke sekolah Fani dan Fano.


Setelah merapikan diri, memakai baju yang lengkap, kemudian Leticia membangunkan Frederic.


"Tuan, bangun!" ucap Leticia seraya menggoyangkan tubuh Frederic agar terbangun dari tidur nyenyaknya.


Sebenarnya, Leticia tak ingin mengganggu tetapi mengingat lelaki itu harus bekerja sehingga Leticia tetap melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri.


"Jam berapa ini?" celetuk Eric, khawatir akam kesiangan dan terlambat bangun.


"Baru jam 6 kok, Tuan. Bukannya kamu berangkat jam 7 pagi?" tanya Leticia, seraya menatap lekat pria itu.


Meskipun Eric baru bangun tidur, entah mengapa terlihat sangat tampan dan menawan bagi Leticia. Bahkan, ia sampai memalingkan tatapan untuk menghindari tatapan yang sangat membius dari mata elang Eric.


"Kamu mau mau ke mana pagi-pagi begini sudah rapi?" tanya Eric, seraya menelisik penampilan Leticia dari atas ke bawah.


"Aku mau ke sekolah Fani dan Fani karena ada acara di sana!" Leticia sengaja tak mengungkapkan tentang permasalahan pembullyan yang menimpa adik kembarnya.


"Oh ... baiklah, nanti aku antar sekalian," sahut Eric, segera beranjak dari ranjang, ia berlari ke kamar mandi dengan semangat.

__ADS_1


Sementara, Leticia sempat hanya terdiam kaku saat melihat tingkah unik suami kontraknya. Lalu, akhirnya ia tersadar dan bergegas menuju meja makan. Tak lupa, Letici menyeduhkan kopi dan menyajikan sarapan untuk suaminya karena nantinya Eric akan menggerutu jika dirinya tidak menyiapkan makanan tersebut.


Fani dan Fano tengah menyantap sarapan, sama halnya dengan Leticia juga ikut menyantap makanan tanpa menunggu kehadiran Frederic. Tak berselang lama, Frederic pun datang,ia langsung menyantap sarapan yang sudah disiapkan di meja makan, seperti biasa sarapan itu terasa nikmat bila istri kontraknya lah yang menyiapkan.


"Emangnya ada apa di sekolahan Fani dan Fano, sampai-sampai mbakmu harus datang ke sana?" sambar Eric, dengan tatapan penuh selidik.


"Ada per—"


Belum saja jawaban dari Fano disampaikan, Leticia sudah memotomg pembicaraan tersebut. "Ada acara yang harus dihadiri oleh pihak keluarga, Mas," potong Leticia, ia tak ingin persoalan itu terungkit dan diketahui oleh suaminya.


"Oh, kegiatan sekolahan memang harus seperti itu, ya?" kekeh Frederic, dengan senyum yang khas seraya menyeruput kopinya.


"Ya, Mas maklumlah masih remaja jadi masih banyak kegiatan yang harus melibatkan pihak keluarga. Seharusnya sih orang tua yang datang tapi karena Fani dan Fano adalah anak yatim piatu sehingga saya yang mewakilinya," kata Leticia


Eric pun hanya mengangguk-angguk dengan patuh, lalu menyelesaikan sarapannya. Kemudian, dia mengajak keluarga kecilnya untuk segera berangkan dan mengantarkan mereka ke sekolah.


Di tengah-tengah perjalanan, suasana di dalam mobil tampak hening, tidak ada pembicaraan atau apapun. Bahkan, Leticia enggan membuka mulut, ia takut keceplosan kalau hari ini tujuan dia datang ke sekolah karena ada permasalahan yang menyangkut tentang kasus pembulian.


Kini, bukan Fani yang harus ketakutan, melainkan Fano yang merasa ketir karena ia takut kalau kasus pembullyan akan terungkap apalagi akan dilakukan sidang antara pihak orang tua untuk mengungkapkan siapa yang salah dalam proses pembullyan.


Sementara Fani yang merasa tidak bersalah justru tampak santai, ia tak mengkhawatirkan apapun, hanya Fano yang terlihat sangat khawatir lantaran ia takut bahwa yang sebenarnya menjadi korban dalam pembullyan tersebut.


"Belajar dengan giat," ujar Frederic, saat mereka berpamitan, entah mengapa Leticia bersikap santun pada suaminya.


Bahkan ia mencium punggung tangan Eric dengan lembut di depan adik kembarnya. Meskipun itu yang yang dilakukan Leticia hanyalah sebagai formalitas semata.

__ADS_1


Karena ia tidak mau ketahuan bahwa dirinya terikat kontrak dengan suaminya saat ini. Oleh sebab itu, mereka menjalankan peran masing-masing tapi tidak dengan Eric, dia menjalankannya dengan sungguh-sungguh. Entah mengapa dia sudah mulai merasa jatuh hati pada Leticia.


"Saya dan adik-adik pamit dulu, Mas!" kata Leticia, lalu menyematkan senyum yang tipis di wajah.


Ia pun segera keluar dari dalam mobil diekori oleh kedua adiknya. Sembari menunggu mobil itu meninggalkan halaman sekolah, Leticia hanya melambaikan tangan dengan pelan walaupun ia sebenarnya enggan melakukan hal tersebut.


Erik sudah melaju cukup jauh dan tak melihat lagi wajah istri dan adik iparnya. Ia tersenyum saat memikirkan rencana esok tentang waktu liburan mereka untuk kemping bersama, rasanya sudah tidak sabar bagi Eric untuk menjadikan peran sebagai kepala keluarga dalam sebuah keluarga kecil dan membahagiakan adik-adik iparnya.


Setelah sampai di kantor, Eric langsung disibukan dengan berbagai pekerjaan. Pagi-pagi, ia sudah dibuat merasa pusing apalagi dengan keputusan Pratama news yang harus segera dihentikan Karena perusahaan itu sudah mulai pailit


Namun, di sisi lain sebenarnya Eric masih bimbang. Ia tak mau menghilangkan perusahaan yang susah payah dibangun oleh sang ayah. Eric tetap ingin mempertahankannya serta mencoba saran dari Leticia untuk mendirikan perusahaan di bidang media yang berbasis online.


Saat ia sudah memasuki ruangan, duduk di kursi kebesarannya. Hal yang pertama dilakukan Eric adalah menghubungi sang ayah, ia ingin mengabarkan pada Varrel Pratama tentang rencana penutupan Pratama News.


Saat Eric menghubungi sang ayah, ternyata Varrel sudah lebih dulu mengetahui tentang kebangkrutan Pratama news.


"Halo, Ayah ada di mana?" sapa Eric seraya berbasa-basi.


"Tentu saja aku di rumah, memangnya aku mau ke mana lagi?" canda Varrel seraya terkekeh kecil.


"Oh, ya barangkali, Ayah lagi bersenang-senang dengan perempuan muda," ledek Eric.


"Ah ... gila kamu, mana mungkin aku bersenang-senang dengan perempuan lain, sementara aku tidak pernah bisa melupakan ibumu," kilah Varrel.


"Oke, kita kembali ke topik pembicaraan. Sebenarnya ada yang harus aku ceritakan, epertinya Pratama news, perusahaan yang pertama kali Ayah bangun sebelum perusahaan pusat haru ditutup."

__ADS_1


"Oh, kalau itu aku sudah mendengar kabar dari orang kepercayaanku, jadi sekarang aku percayakan padamu. Semya tergantung padamu. Apa kau ingin apa kamu ingin menyelamatkan perusahaan itu atau menutupnya," jawab Varrel.


"Kenapa bergantung padaku?" Erik tampak bingung mendengar jawaban dari sang ayah.


__ADS_2