Pemuas Hasrat Tuan Eric

Pemuas Hasrat Tuan Eric
bab43


__ADS_3

Setelah Leticia dan Famo sampai di rumah, mereka akhirnya kembali ke kamar masing-masing. Saat itu, sudah menjelang sore hari, Leticia tampak bersiap-siap untuk menyambut kedatangan suaminya.


Ia segera membersihkan diri, menyiapkan hasil visum yang berisi di dalam amplop dengan menyimpannya di atas nakas. Ia ingin membeberkan tentang yang terjadi hari ini pada Eric. Apalagi setelah kemarin mendapat persetujuan dari Eric kalau dia diperbolehkan untuk mengadukan apapun demi melancarkan sekolah adik-adiknya.


Oleh karena itu, Leticia berkeyakinan akan membeberkan semua yang terjadi pada suaminya sehingga ia bisa mengambil sikap dan keputusan untuk besok apa yang akan diperbuatnya pada pembully yang berani menyentuh adiknya.


***


Waktu sudah menunjukkan jam 5 sore, seharusnya Eric sudah bersiap-siap untuk pulang. Eric mengambil setelan jas yang menggantung di dekat kursi kebesarannya, tetapi tiba-tiba Nia mengetuk pintu dan masuk.


Tok ... Tok ...


Suara ketukan pintu mengalihkan pandangan Eric.


"Permisi, Pak saya ingin menyampaikan sesuatu," ucap Nia sembari menatap lekat wajah bosnya.


"Ada apa nih?"tanya Eric, ia sudah siap memakai setelan jas.


Kemudian, Eric bahkan ingin meraih tas kerja. Namun tindakannya terhenti karena terhalang dengan raut tatapan Nia yang tampak kebingungan.


"Maaf, Pak kita ada meeting dadakan dengan salah satu kolega di restoran hotel, sebenarnya meeting itu seharusnya dilakukan esok. Namun karena jadwalnya bentrok mereka meminta dipercepat untuk saat ini juga," ungkap Nia, untuk mengkonfirmasi pada CEO mereka agar bisa menghadiri rapat sepenting itu.


"Hm ... apa harus sekarang juga?" Ini sudah jadwalnya kita pulang loh," tampik Eric seraya memicingkan mata.


"Iya, Pak seharusnya kita sudah pulang tapi mau tidak mau karena ini bersangkutan dengan salah satu investasi untuk perusahaan Pratama News, jadi bapak harus menghadirinya. Sebab, mereka sudah yakin bahwa ingin memberikan investasi untuk membangun perusahaan ituloh, Pak!" jawab Nia dengan lugas.


Pernyataan sekretaris yang membuat Eric sedikit bergeming. Ia tampak berpikir, sebab saat ini tujuan Eric adalah untuk mempertahankan perusahaan Pratama News agar tidak bangkrut.


Sementara, meeting dadakan yang akan diselenggarakan justru bersangkutan dengan perusahaan itu. Sehingga mau tidak mau, Eric pun harus melanjutkan pekerjaannya, salah satunya yakni berjumpa dengan salah satu kolega mereka.

__ADS_1


"Oke, kita sekarang ke sana, kamu ikut saja denganku, Nia!" sahut Eric dengan tegas.


"Baik, Pak." Nia pun berpamit pergi, lalu mempersiapkan tas dan memasukkan barang-barangnya.


Sebab, setelah usai melaksanakan meeting dadakan, dia juga harus pulang karena tidak memungkinkan kembali ke kantor karena hari semakin larut.


Kemudian, Eric sudah keluar dengan menenteng tas kerja. Ia pun berjalan dengan cepat dan diekori oleh Nia dari belakang.


"Aku tidak bisa pulang cepat gara-gara harus meeting dadakan!" gerutu Eric seraya membatin.


Pria itu kini merasa kesal karena waktunya tersita, seharusna dia sudah pulang ke rumah, tetapi jadwal kepulangannya terganggu padahal Eric sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Leticia sore ini.


Bahkan, entah kenapa ada rasa rindu yang merebak di dadanya, sebab mereka sudah beberapa jam tidak bertemu. Sore itu, Eric merasa kecewa dengan adanya meeting dadakan dari salah satu kolega tersebut.


Namun, kesempatan itupun tidak boleh dilewatkan karena ini bersangkutan dengan salah satu perusahaan yang tengah di ambang batas kebangkrutan. Setelah berada di perparkiran, Eric dan Nia langsung masuk ke dalam mobil.


"Berapa nilai investasi yang akan mereka serahkan?" tanya Eric seraya melirik sekretarisnya itu sesekali.


"Lumayan besar, Pak. Soalnya kita kan sudah mengajukan proposal dan menjelaskan secara rinci untuk perkembangan memajukan perusahaan Pratama News. Apalagi konsep untuk membangun perusahaan itu sangat membuat mereka merasa yakin bahwa perusahaan itu akan berkembang pesat dan memberikan keuntungan yang besar untuk mereka nantinya," ujar Nia tanpa menjelaskan rinci jawaban dari pertanyaan Eric.


"Iya, saya paham itu, jadi berapa yang mereka sanggupi untuk memberikan nilai investasinya?" seru Eric, menatap sengit jalanan yang padat.


"Ya, kalau nanti sudah deal, saat Bapak bertemu dengan mereka, minimal kita akan mendapatkan investasi sebesar 5 miliar, itu sangat membantu karena dari satu kolega saja sudah bisa menutupi kerugian yang selama ini ada di perusahaan itu," sosor Nia panjang lebar.


Meskipun Pratama News memang perusahaan besar. Namun, saat ini utang yang dimiliki cukup besar tapi Eric tak kehabisan akal untuk memutarbalikkan anggaran yang ada dari perusahaan pusat ke Pratama News.


Ia juga harus mencari beberapa kolega untuk memberikan investasi tambahan agar perusahaan itu bisa tetap bertahan.


"Lumayan juga dari salah satu investor bisa mencapai 5 miliar, kita harus mencari beberapa investor lagi untuk menutupi kerugian yang selama ini terjadi!" tambah Eric.

__ADS_1


"Kita perlu 5 investor lagi, Pak untuk menutupi utang dan memberikan biaya operasional untuk Pratama News!" jelas Nia.


Tak berselang lama, keduanya pun tiba di sebuah restoran yang mewah yang berada di dalam hotel bintang 5. Koleganya itu memang berasal dari salah satu pemilik perusahaan yang terbesar juga yang ada di negara mereka. Ooeh karena itu, mereka juga merasa yakin sehingga ingin menitipkan dana investasi di perusahaan yang dikelola Eric.


Eric dan Nia verjalan beriringan. Saat masuk ke dalam restoran, keduanya langsung melihat dua orang bos besar dari perusahaan ternama yang kini akan menjadi bagian dari koleganya.


"Selamat sore, Pak saya Eric." Pria itu mengulurkN tangan, kemudian langsung diraih oleh salah seorang pria.


Tak lama, seorang pria lagi pun berdiri, ikut bergantian berjabatan tangan dengan Eric.


"Silakan duduk, Pak Erik!" ujar pria itu mempersilahkannya.


Lalu, Eric dan Nia pun duduk berhadap-hadapan dengan kolega itu, mereka langsung membicarakan pada intinya tentang rencana pemberian dana investasi.


Sebab, kolega tersebut juga tampak terburu-buru ingin segera menyudahi pertemuan, medeka akan pergi ke luar negeri karena mereka memang ada jadwal dadakan untuk meeting di luar negeri.


"Jadi bagaimana,Pak? Apa Bapak setuju untuk menginvestasikan dana di perusahaan milik saya?" tanya Eric, menatap lekat dua pria itu secara bergantian.


"Iya, Pak proposal ini sangat bagus dan kami sudah yakin ingin menginvestasikan sebanyak 10 miliar, dua kali lipat dari rencana awal yang kami sampaikan. Saya rasa dengan adanya kucuran dana ini, Pratama News akan semakin berkembang!" ujar Pria itu.


"Wah ... bagus sekali itu, Pak sepertinya Bapak sangat optimis untuk menanamkan modal di perusahaan ini," tandas Eric, seraya terkekeh.


"Iya, Pak karena konsep kalian sangat bagus. Konsep itu bisa-bisa menghalangi perusahaan media lainnya. Dan saya yakin perusahaan kalian akan berkembang pesat dalam waktu beberapa bulan. Oleh karena itu kami sangat percaya diri untuk menanamkan investasi," sosor Pria itu.


***


Leticia sejak tadi, mondar-mandir di dalam kamar. Sebab, hingga jam 6 sore, tidak ada tanda-tanda kedatangan Eric. Biasanya pria itu datang tepat pukul jam 5 sore, Leticia bahkan harus menyambutnya di depan pintu.


Namun, kini Leticia tampak termenung dan gelisah. Larut dalam pikirannya, mengapa suaminya tak ada kabar dan tak kunjung pulang.

__ADS_1


__ADS_2