Pemuas Hasrat Tuan Eric

Pemuas Hasrat Tuan Eric
Bab78


__ADS_3

"Sudahlah lupakan saja," kata Eric seraya berlalu pergi, kemudian menutup dengan kencang pintu kamar mandi.


Hal itupun membuat Leticia terkejut sehingga memegang dada dengan kedua tangannya.


Sepertinya dia benar-benar marah kepada aku sehingga dia membanting pintunya dengan keras!


Leticia bergumam seorang diri, netranya menatap sengit daun pintu kamar mandi. Ia pun segera keluar dari kamar, untuk memastikan kalau di meja makan sudah tertata rapi seluruh menu sarapan serta menyiapkan kopi yang nantinya tinggal diseduhkan saja saat Eric menyusulnya ke meja makan.


Kemudian Leticia menatap meja makan, ia memang tak pernah ragu dengan kinerja para maid yang ada di rumah itu. Sebab mereka sangat cekatan dan pagi-pagi seperti ini semuanya sudah tersaji dengan rapi dan komplit.


"Pagi, Nyonya," sapa Beta dengan senyum yang sumringah.


Leticia pun membalas senyuman itu, ia juga meminta untuk diambilkan kopi favorit suaminya, lalu memasukkannya ke dalam sebuah gelas hingga menunggu pria itu datang menghampiri barulah ia melarutkan kopi tersebut.


Namun sebelum itu terjadi, Leticia pun memanggil kedua adiknya untuk ikut menghampiri duduk bersamanya di meja makan.


"Fani, Fano ... ayo, cepetan ke meja makan," titah Leticia dengan sedikit berteriak sehingga anak kembar itu pun terburu-buru.


Saat berada di dalam kamar, Fani baru saja menyudahi pemandiannya dan ia kembali memakai pakaian rumahan meski sebenarnya dia sudah jenuh lantaran hampir seminggu penuh berada di dalam rumah.


Lain hal dengan Fano, ia memakai seragam dengan semangat, dan cepat-cepat melengkapi seragamnya sehinga bisa segera keluar dari dalam kamar.


"Ada apa sih, Mbak! Pagi-pagi udah ribut-ribut aja," singgung Fano saat menarik kursi makan.


Leticia hanya menatapnya dengan tatapan datar kedua adiknya.


"Mbak nggak mau kalian terlambat sarapan pagi. Jangan sampai nanti masmu datang tetapu kalian berdua belum ada di meja makan," terang Leticia.

__ADS_1


"Yaampun, Mbak ini masih jam 6 pagi loh, waktu masih panjang apalagi Fani juga nggak ke sekolah cuma Fano aja yang berangkat," ketus Fani, menatap lekat wajah sang kakak.


"Ya ... Mbak, tahu tapi kan sesuai dengan aturan di rumah ini kita tetap harus makan bersama-sama, lagian tidak boleh ada yang melewatkan sarapan pagi, mau kamu sekolah atau tidak jadi tetap saja harus berkumpul di sini!" tegas Leticia, menasehati sang adik perempuannya.


"Iya, Mbak Jawab Fani dengan malas, lalu memutar bola ada matanya karena merasa jengah ketika harus terus menatap sang kakak yang sangat cerewet dan bawel meski masih pagi hari.


Deru Llangkah kaki menyita perhatian kakak beradik tersebut, mereka langsung menoleh ke arah anak tangga, di sana Eric sudah berpakaian dengan rapi dan gagah, sontak membuat Leticia tampak terpukau dengan suaminya. Ia sepertinya sudah mulai kepincut dengan ketampanan Eric.


"Pagi semua," sapa kata Eric dengan senyum yang lebar, hari ini ia terlihat sangat bahagia dan sumringah sehingga membuat Leticia terheran-heran.


"Pagi, Mas!" jawab Fani dan Fano dengan kompak.


"Wah ... enak kalau punya kembaran. Jawabannya serentak dan senada pula, bahkan kata-katanya pun sama persis," singgung Eric seraya terkekeh kecil.


Leticia hanya menatap sengit wajah Eric, sedangkan kedua adiknya merasa bingung dengan suasana yang ada di pagi hari ini. Entah mengapa Eric merasa berbeda dan sepertinya ia merasa senang sekali.


"Tumben sekali, Mas kamu ceria hari ini," celetuk Leticia, sembaru memicingkan mata.


Tetapi, tingkah Eric itu membuat Leticia tampak bingung dan mengkerut.


"Emangnya aku kenapa, sampai kamu bisa sebahagia itu!" tampik Leticia.


"Nggak ngapa-ngapain sih, cuma kamu membuatku lebih bahagia saja hari ini," balas Eric, menyeringa tersenyum dengan sengit.


"Kamu ada-ada saja!" Leticia pun beranjak dan ia baru ingat untuk menyeduhkan kopi agar diberikan pada suaminya.


Ia memasukkan air panas ke dalam gelas tersebut dan mengaduknya, lalu memberi kepada Eric.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang," ucap Eric, dengan memberikan pujian dan mengucapkan kata sayang sehingga membuat Leticia benar-benar terdiam kaku.


Sementara Fano dan Fani hanya terkikik geli melihat pasutri itu terlihat sok romantis. Disisi lain, Leticia benar-benar tak tahu berbuat apa lagi dengan sebuah pujian yang diberikan oleh kepadanya.


"Ini cowok kenapa sih, kesambar apa dia kok bisa tiba-tiba bersifat sok romantis dan sok baik gini," lirih Leticia, tampak larut dalam pikirannya.


Melihat tingkah Eric yang sangat berbeda dengan sehari-harinya. Ketiga orang itu hanya terdiam dan tak lagi menanyakan pada Eric.


"Ayo kita makan!" ajak Eric membuyarkan lamunan Leticia, Fani hingga Fano.


Semuanya bergerak cepat untuk mengambil menu-menu pilihan mereka sendiri agar mengenyangkan perut di pagi hari ini.


"Oh, ya, besok kan sudah weekend dan hari terakhir kalau Fani diskors alhasil waktu liburnya sudah berakhir. Bagaimana kalau kita berlibur lagi?" saran Eric, melirik ketiga orang yang ada di sana secara bergantian.


"Boleh juga tuh, Mas," sahut Fani.


Ia merasa sangat jenuh berada di dalam rumah selama seminggu penuhC hanya kemarin saja diajak jalan-jalan sama kakaknya.


"Aku juga jenuh di rumah, cuma kemarin diajak jalan-jalan sama Mbak Leticia," beber Fani dengan semangat yang menggebu-gebu.


"Kamu masih ngeluh aja, padahal sudah banyak sekali loh belanjaanmu hingga membuat pengeluaranku membengkan," ketus Leticia tak mau kalah.


"Kan, Mbak sendiri yang mau membayarkan belanjaan aku, kalau aku sih tidak keberatan karena memang Mbak punya niatan baik seperti itu," sela Fani, sembari terkekeh lalu menutup mulutnya dengan satu tangan.


"Yaudahlah terserah kamu saja!" sergah Leticia.


"Loh, kan lagian liburannya juga sama Mbak kok! Lagian kita jarang menikmati liburan keluarga gitu, ini adalah kali kedua mas Eric mengajak kita untuk jalan-jalan bersama," sosor Fani bersikeras tetap ingin liburan itu terlaksana.

__ADS_1


"Ya, Mbak Leticia, aku saja jadi meingat Ibu, padahal dulunya Ibu ingin sekali jalan-jalan bersama kita bertiga. Tapi impiannya tidak bisa terwujud karena, Ibu sudah pergi lebih dulu!" sesal Fano dengan wajah yang sendu.


"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan biar Ibu tenang di sana, lebih baik kita menikmati diri kita yang ada di dunia ini," tegur Leticia, tak ingin mengingat kenangan buruk tentang status keluarga mereka yang miskin.


__ADS_2