
Frederic akhirnya mendapatkan jawaban setelah pusing dengan pikirannya sendiri. Ia semakin yakin untuk mempertahankan Pratama News, perusahaan yang berdiri setelah puluhan tahun lamanya.
"Terima kasih atas pendapatmu, sedikitnya aku mendapat pencerahan! Kalau begitu aku akan menyampaikan kabar ini ke ayahku!" jelas Frederic.
Saat hendak beranjak, Leticia mencegah kepergian Frederic. Ia menangkis tangan Frederic, menatap pria itu seraya mendongakkan kepala.
"Ada apa?" kata Frederic, menatap lekat Leticia.
"Nanti saja hubungi ayahmu, mungkin dia masih sibuk. Duduk disini saja," kata Leticia, semakin merasa nyaman saat mengobrol berdua dengan Frederic.
Pria yang sempat berdiri itu langsung mendudukkan bokongnya di tepi ranjang. Jarak mereka sedikit jauh.
"Ngomong-ngomong, apakah ayahmu sekaya itu? Kenapa banyak sekali perusahaan yang dimiliki?" ujar Leticia, tanpa pikir panjang.
Frederic masih berpikir sebelum mengeluarkan kata-kata. Ia memikirkan cara menyusun kata yang tepat sehingga penyampaiannya sempurna dan tak menyinggung.
"Aku sendiri baru tahu kalau ayahku sekaya itu. Ia memiliki banyak sekali perusahaan, berada dibawah naungan Varrel Grup. Dulu, aku hanya karyawan yang bekerja di perusahaan inti, setelah menjadi CEO, pikiranku malah semakin banyak."
"Apakah kamu kesulitan untuk mengatasinya?" seloroh Leticia, menatap lekat, manik indah mereka saling beradu.
"Bisa dikatakan begitu, jujur aku belum bisa beradaptasi. Duniaku seakan berbeda, kamu bisa bayangkan, dari seorang karyawan tiba-tiba menjadi seorang CEO."
"He'em, aku mengerti perasaanmu! Setidaknya, kamu tidak pusing banting tulang untuk mencari nafkah. Semua yang kamu inginkan bisa tercapai begitu saja." Leticia melayangkan senyum lebar, ia mengapresiasi Frederic yang merupakan seorang tuan muda kaya raya tanpa harus bekerja keras.
Hari sudah semakin malam, tanpa terasa obrolan Leticia dan Frederic sudah berlarut-larut. Asalnya, hanya ingin berbincang sekedar tukar pikiran, tetapi mereka malah asyik mengobrol hingga lupa waktu.
*****
Di meja makan, Fani dan Fano sudah menanti kehadiran sepasang suami istri kontrak yang terus menyembunyikan status mereka. Jam makan malam telah tiba, para pelayan sibuk menyajikan makan malam sebelum tuan mereka hadir berada di meja makan.
Fani dan Fano dengan sabar menanti hingga masakan terakhir berhasil dihidangkan.
"Fan, mbak Letic mau ke sekolah kita? Apa alasanmu dengan adanya pemanggilan pihak sekolah?" ujar Fano, membuka obrolan di meja makan, sebab mereka belum memulai makan malam.
__ADS_1
"Untungnya mbak Letic mau hadir, lagi pula yang salah bukan aku! Kenapa aku harus takut sama preman sekolah itu! Dia pembully, harus ditindak!" tegas Fani, menatap lekat kembarannya.
"Hmm ... seharusnya seperti itu. Tapi kenapa kamu tidak takut melawannya? Padahal dia laki-laki loh," ungkap Fano, dirinya sendiri tidak berani melawan salah satu anak pembully di sekolah.
"Ngapain takut sama anak seperti itu! Apakah kamu pernah diganggu olehnya? Kalau pernah, besok biar aku ungkapkan pada pihak sekolah."
Fano berpikir sejenak, ia memang sempat menjadi bulan-bulanan pembully yang dicap sebagai preman sekolah.
Ada kekhawatiran untuk mengungkapkan hal itu. Bahkan, ia takut Fani bertindak lebih jauh setelah ia mengungkapkan yang terjadi sesungguhnya.
"Tidak! Untungnya aku tidak pernah ketemu dengannya," ucap Fano, berbohong tentang si pembully.
"Syukurlah! Jangan takut sama orang seperti itu! Sampai kapanpun jangan pernah takut. Bila kamu tidak berani melawannya, seterusnya kamu akan menjadi korban," tegas Fani memperingati.
Fano hanya mengangguk, tiba-tiba Leticia dan Frederic turun kebawah bersama. Bergabung dengan Fani dan Fano yang sudah duduk manis di kursi makan.
"Ayo, makan!" titah Frederic, saat dirinya dan Leticia sudah duduk dengan santai.
Makan malam cukup menenangkan, menu yang disajikan beragam, malam itu ada ayam bakar, nasi kebuli, iga bakar, serta sayur lalapan, dan masih banyak lainnya.
Setelah makan malam, Frederic memilih beristirahat sejenak di ruang keluarga. Namun, tidak dengan Leticia, ia justru langsung pergi ke tempat tidur.
Rebahan di atas tempat tidur adalah favoritnya. Meski sehari-hari sudah menjadi kebiasaan tapi ia menyukainya.
****
"Mas, kita langsung tidur, ya!" pamit Fani dan Fano, saat melintasi Frederic yang bersantai di ruang keluarga.
"Iya, iya! Libur lusa mau ke mana?" Frederic menatap Fani dan Fano secara bergantian.
Besok, hari terakhir bersekolah di pekan ini. Begitu juga dengan Frederic, ia akan libur sekedar meluangkan pikiran. Lantaran penat dengan pekerjaan, ia mengusulkan untuk liburan keluarga mengajak istri dan adik iparnya.
"Kemping seru kayaknya mas!" usul Fano, sejak lama ia ingin merasakan kemping dan piknik di pegunungan tapi tak pernah tercapai karena orang tua dan kakaknya tidak punya cukup uang untuk berhura-hura.
__ADS_1
"Iya, iya, mas! Mending kemping aja, mbak Letic pasti senang deh kalau diajak kemping. Di pegunungan, ya, mas! Biar hawanya dingin, cocok untuk mas dan mbak Letic, romantis," pungkas Fani, mengerlingkan mata.
"Ah, kamu bisa aja, Fan!" kekeh Frederic.
Fano mengusulkan agar mereka berangkat pada sabtu sore, sehingga bisa menginap dan bisa memiliki waktu luang yang banyak.
"Mas, berangkatnya besok sore aja? Sekalian menginap, kalau kemping enaknya, ya, nginap, mas!" tambah Fano.
Frederic hanya mengangguk sembari tersenyum lebar. Ia sangat senang untuk bersenang-senang dengan orang-orang yang dianggap sebagai keluarga kecilnya.
"Baiklah, besok kalian siapkan semua yang perlu dibawa! Kita jadi kemping!" tandas Frederic setengah berteriak.
"Hore!" Fani dan Fano berteriak kompak kegirangan, kebahagiaan mereka tak bisa disembunyikan.
"Kita pamit, mas, besok mau sekolah," ujar Fani undur diri, diikuti anggukan Fano yang mengekori Fani dari belakang.
Mereka masuk ke kamar masing-masing, bersiap-siap tidur. Untungnya, sejak sore keduanya sudah menyelesaikan PR yang diberikan oleh guru masing-masing.
****
Malam berganti pagi, Frederic dan Leticia masih tertidur pulas, saling memeluk satu sama lain. Entah sudah menjadi kebisaan secara tidak sengaja atau memang saling tak sadarkan diri.
Leticia memeluk suami kontraknya begitu erat, sama halnya dengan Frederic. Bahkan, Leticia dengan tenang berada di dekapan suaminya.
Saat membuka mata, Leticia lagi-lagi terkejut dengan kebiasaannya yang aneh. Entah siapa yang memulai lebih dulu, seingatnya ia tidur duluan dari pada Frederic yang masuk ke kamar larut malam.
"Sial!" umpat Leticia, sebab tak kunjung terlepas dari belenggu dekapan suami kontraknya.
"Kenapa hobi pelukan sih, bisa-bisa terciduk aku," lirihnya seraya melepaskan diri dari dekapan itu.
Perlahan-lahan, Leticia membuka tangan Frederic yang melilit di tubuh. Ia tak ingin membangunkan suami kontraknya sehingga menimbulkan suasana yang sangat canggung.
"Kenapa nggak lepas-lepas sih!" gumam Leticia, semakin gusar, kala pelukan tak bisa terurai.
__ADS_1
Dengan susah payah, Leticia akhirnya bisa melepaskan tangan Frederic dari tubuhnya. Lalu, ia berguling ke samping, memberi jarak antara dirinya dan Frederic.