Pemuas Hasrat Tuan Eric

Pemuas Hasrat Tuan Eric
bab35


__ADS_3

Eric langsung membulatkan bola mata dan menatap lekat Leticia.


"Enggak, aku baru bangun kok," kilah Eric, buru-buru memberikan jawaban karena Leticia sudah menaruh rasa curiga.


"Tapi kenapa, Tuan senyum-senyum sendiri dari tadi? Apa, Tuan meledekku?" imbuh Leticia, mencebikkan bibirnya lantaran kesal.


"Astaga, siapa yang senyum-senyum? Aku tidak tersenyum dari tadi," bantah Eric, dengan tatapan datar dan nada ketus.


"Sudahlah, cepat bangun kita harus segera ke bawah, sudah mau hampir jam 8 malam, makanan juga sudah disiapkan oleh para main," sambung Leticia dengan kesal.


"Ya," kata Eric dengan ketus, lalu ia pun mengusap wajah agar benar-benar tersadar.


Namun lagi-lagi yang ada di pikirannya yakni kejadian tadi saat tadi siang, ia ingin juga mendapatkan sentuhan nyata dari Leticia yang begitu intim.


Dengan pasrah, Leticia akhirnya berjalan gontai menuju meja makan. Namun kaki Leticia terhenti saat tepat berada di depan kamar adik-adiknya. Ia memanggil dan menyerukan nama adik kembarnya agar ikut bergegas keluar menghampiri dan berkumpul di meja makan.


"Fani, Fano, ayo, makan!" ucap Leticia, sedikit berteriak sementara Eric tetap saja berjalan dengan acuh hingga sampai di meja makan.


Saat itu, menu yang tersaji di meja makan pun sudah banyak. Namun Eric yang baru bangun tidur, ingin sekali rasanya menyesap kopi padahal ia belum menyantap makan malam.


"Cia, tolong buatkan aku kopi," perintah Eric, dengan nada yang tegas dan tatapan tajam.


"Kita kan mau makan, Tu—" Ucapan Leticia terhenti karena ia hampir saja salah mengucap panggilan pada suaminya di depan para maid.


"Kita kan mau makan, Mas." Leticia kembali meralat ucapannya.


"Tapi aku masih ingin menyesap kopi dulu, tolong buatkan aku segelas kopi," pinta Eric, dengan ketus.


"Baiklah, saya akan buatkan Tuan," sambar salah satu maid.

__ADS_1


Namun, perempuan itu malah dicegat oleh Eric dan mengusirnya untuk kembali menyibukkan diri di dapur. Eric tetap memerintahkan bahwa Leticia lah yang harus membuatkan kopi untuknya.


"Saya mau lnya kopi buatan istri," tegas Eric, masih bernada ketus sehingga membuat Leticia merasa jengah.


"Ck!" Leticia berdecak, sembari hanya bisa mencebikkan bibirnya.


Lalu, Leticia akhirnya .menyeduhkan satu gelas kopi untuk suaminya. Tak lama, setelah kopi dihidangkan di depan wajahnya, Eric langsung menyesap kopi tersebut.


Tetap baginya terasa nikmat kopi buatan Leticia, walau hanya dalam satu sesapan sepertinya ia sudah memuaskan keinginannya untuk meminum kopi.


Kini, ia sudah sibuk mulai ingin menyantap makan malam. "Satu lagi, sendoki nasi ke piringku," titah Eric, sontak membuat Leticia tampak jengkel karena ia sudah seperti seorang maid bagi pria itu.


Dari tadi Eric terus saja memerintah pada dirinya. Padahal di sana banyak sekali maid yang bisa mengerjakan apa yang dinginkan oleh Eric.


"Tuan, kenapa sih dari tadi merintah-merintah saya," bisik Leticia karena mereka berdua duduk bersampingan, Leticia juga tak ingin percakapan itu diketahui oleh orang lain.


Leticia tak mau ucapannya terdengar oleh para maid serta adik-adiknya yang belum datang. Ia juga tak mau membuat Eric merasa malu karena dibantah oleh perempuan itu.


Leticia akhirnya menyendokkan beberapa sendok nasi ke dalam piring Eric. Kemudian, tiba-tiba Fani dan Fano baru saja datang menghampiri dan menarik kursi mereka masing-masing.


"Buruan makan biar bisa langsung istirahat dan jangan lupa dikerjakan pr-nya," kata Eric sedikit memberikan teguran pada ipar-iparnya.


Suasana di meja makan tampak tegang. Fani dan Fano hanya mengangguk, lalu mereka semua akhirnya menyantap makanan malam dengan tenang, hanya ada suara denting sendok dan piring malam itu. Proses santapan makanan hanya berjalan selama 30 menit, mereka sudah menyelesaikan makan malam dengan tenang.


***


Usai menyantap makan malam, di dalam kamar Leticia dan Eric tampak sibuk dengan ponsel masing-masing. Meski tak lama sibuk menatap ponsel, Leticia sementara sudah merasa ngantuk lagi. Padahal sore tadi ia sempat tertidur sebentar.


Sedangkan, Eric masih tetap terjaga, ia sesekali melirik istrinya, berharap perempuan itu akan segera tidur. Sebab, di sinilah kesempatan Eric untuk melayangkan sentuhan-sentuhan yang ia inginkan pada tubuh istrinya, ia ingin Leticia segera tidur pulas

__ADS_1


Sayangnya, Leticia tak mengetahui aksi suaminya, bahkan ia tak pernah berpikiran buruk mengenai pria yang seranjang dengannya.


Tanpa pikir panjang, Leticia meletakkan ponsel di atas nakas karena dirinya sudah berkali-kali menguap dan sudah tak bisa lagi menahan rasa kantuk. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 9.30 malam karena sejak tadi makan malam mereka masih lanjut berbincang-bincang di ruang keluarga dan hingga akhirnya memilih untuk pindah ke kamar tapi saat di dalam kamar keduanya sibuk dengan kegiatannya masing-masing.


Hanya dalam waktu 10 menit, sejak Leticia memejamkan kedua bola matanya, lalu ia tiba-tiba tertidur pulas. Tidurnya pun sangat anggun dan terlihat cantik, berapa helai anak rambut yang ada di sisi wajah sedikit menutupi sehingga Eric menyeka anak rambut tersebut agar wajah Leticia yang cantik meski tertidur dengan pulas terlihat begitu sempurna.


Setelah Leticia tertidur dengan pulas, Eric tak langsung menyentuh tubuh istrinya, ia memastikan kalau Leticia benar-benar sudah tertidur dan tak akan terbangun lagi.


Dengan sukarela, Eric menunggu setengah jam sampai wanita itu tak sadarkan diri. Tepat pada pukul 10 malam, ia kembali melaksanakan aksinya untuk memuaskan hasratnya sendiri.


Perlahan- lahan, Eric menyimpan dahulu ponsel di atas nakas, lalu ia berbaring tepat di samping Leticia. Tak berselang lama, Eric langsung memeluk tubuh Leticia yang tampak kaku dan tertidur dengan tenang.


"Kamu cantik sekali, Leticia," ujar Eric seraya mengusap-usap pipi Leticia dengan lembut.


Cup ...


Kemudian, sebuah kecupan kecil melayang dan mendarat di bibir Leticia. Lantas, Eric belum puas hanya memberikan satu kecupan kecil saja, tiba-tiba ia menempelkan bibirnya dengan bibir sang istri, melumattnya lebih dalam.


Entah mengapa, tak ada perasaan aneh yang terjadi pada Leticia, ia tampak masih tertidur pulas meski ciuman itu sudah menjelajahi rongga mulutnya.


Tak hanya sampai di situ, bahkan Eric memasukkan kedua tangannya ke dalam baju Leticia, Eric sengajak menyibakkan baju perempuan itu ke atas agar tak menghalangi jalannya. Tangan itu bergerak cepat menjelajahi tubuh Leticia, bahkan kulit mereka sudah saling bersentuhan.


Tak puas juga, jika Eric langsung menyentuh kali ini langsung ke bagian dalam istrinya, ia ingin merasakan sentuhan yang mendalam yang seharusnya sudah dinikmati oleh sepasang suami istri jika sudah merasakan perasaan saling mencintai satu sama lain.


Namun, tidak bagi Eric dan Leticia, mereka masih terhalang surat kontrak serta rasa cinta belum memupuk dari diri masing-masing.


Kini, perlahan-lahan kedua tangan kekar itu sudah mendarat di gunung kembar sang istri, ia merematnya secara perlahan-lahan, alhasil membuat tubuh Leticia bergeliat manja.


Entah mengapa, sentuhan yang diberikan pada tubuh Leticia membuatnya kecanduan dan tak ingin melepaskan tangannya dari gunung kembar itu.

__ADS_1


Tak hanya sampai di sana, tangan itu kembali menjalar menjelajahi sisi perut serta masuk ke dalam celana piyama yang dikenakan oleh istrinya. Satu tangan kiri tetap memegang sebuah gunung kembar milik Leticia, sementara tangan kanannya masuk ke area inti perempuan itu dan merogoh-rogoh di dalam sana untuk menjelajahi serta menikmati sentuhannya seorang diri.


__ADS_2