
Leticia beranjak dari kasur, ia bergegas pergi ke meja makan lantaran ingin mengecek beberapa maid yang harusnya sudah sibuk memasak makanan untuk makan malam.
Perempuan itu beranjak, lalu meninggalkan suaminya seorang sendiri di dalam kamar, menuruni anak tangga perlahan, setelah tiba di tempat yang dituju, tak lupa ia menyapa ketiga maid yang sedang sibuk memasak.
"Menu apa saja hari ini, Mbak?" ucap Leticia.
"Banyak, Nyonya tumben sore-sore begini ke sini," ucap salah satu pembantu—Beta.
"Iya nih, kebetulan merasa lapar, apakah ada yang bisa dicemilin?" sahut Leticia seraya menarik sebuah kursi di meja makan, lalu mendudukkan bokongnya.
Kemudian, ia juga menyandarkan tubuh dan menunggu beberapa maid untuk mengambilkan cemilan.
"Ada kok, Nyonya ini baru dimasak gorengan untuk cemilan malam ini," jawab Beta, lalu ia segera menyajikan dan membawakan sebuah piring yang berisi gorengan yang dimaksud serta memberikan pada Leticia.
"Kamu duduk saja di sini, Mbak biar makan bersama saya," titah Leticia.
"Maaf, Nyonya saya masih banyak pekerjaan di belakang. Nyonya nikmati saja gorengannya, saya pamit dulu mau membantu teman-teman yang lain," balas Beta dengan sopan.
Leticia ganya mengangguk, lalu mengambil satu gorengan untuk dimakan, beberapa saat kemudian, ia juga kembali bertanya kepada para maidnya.
"Menu apa saja untuk makan malam kita?" tanya Leticia lagi.
"Banyak, Nyonya kami lagi mempersiapkan masakannya," jawab pembantu yang lain—Dei.
"Yasudahlah, masak yang enak," pesan Leticia.
Perempuan itu tampak menikmati cemilannya, kemudian Leticia meninggalkan dapur, ia menuju kamar Fani dan Fano untuk mengecek kedua adiknya tersebut. Terutama memastikan kalau adiknya sudah mengerjakan PR terutama Fano.
Ceklek ...
Leticia menarik handle pintu, ia melihat Fano tampak sibuk mengutak-atik dengan mencoret buku dengan sebuah pulpen. Saat pintu terbuka lebar, pria yang tengah sibuk mencoret-coret bukunya, lalu langsung menoleh kepada Leticia.
__ADS_1
Ia langsung menutup buku yang baru saja dicoret-coret karena khawatir membuat Leticia merasa curiga.
"Habis ngapain kamu, Fano kenapa langsung ditutup bukumu? Bukannya kamu lagi mengerjakan PR?" cecar Leticia.
"Iya, Mbak baru selesai kok," jawab Fano dengan datar.
"Lanjutkan lagi pekerjaanmu. Ingat besok kamu tetap sekolah sedangkan Fani tidak bisa menemanimu karena dia sudah diskors selama satu minggu ke depan," desah Leticia, sembari menghembuskan nafas kasar kala mengingat persoalan yang menimpa adiknya.
"Ya, Mbak aku tahu." Fani kembali membuka buku pelajaran yang lain untuk dibaca, tak lama Leticia pun meninggalkan kamar Fano dan beralih ke kamar Fani.
Ceklek ...
Leticia langsung membuka handle pintu, melihat Fani yang tengah sibuk membaringkan tubuh di atas ranjang, perempuan itu malah bermalas-malasan di atas kasur.
"Fani, kamu nggak belajar?" celetuk Leticia, menatap penuh selidik.
"Nggak mbak, ini kan weekend. Lagian besok juga aku nggak sekolah, lebih baik besok saja aku belajarnya. Aku ingin bersantai sejenak karena capek sudah berlibur bersama," sela Fani memberikan alasan.
"Yasudahlah, terserah kamu saja! Yang penting kamu tetap harus belajar walaupun diskors!" tampik Leticia.
"Bentar lagi kita akan makan malam, jangan lupa nanti langsung ke meja makan tepat jam 8 malam." Leticia memperingatkan adik perempuannya agar tidak lupa karena adiknya tampak bersantai dan sibuk memainkan ponsel.
"Iya, Mbak!" jawab Fani dengan malas, lalu ia kembali menatap layar ponsel, sembari melirik kakaknya sekali-kali sebelum pergi dari kamar.
Leticia segera pergi dari kamar, kemudian ia juga langsung kembali ke kamar untuk membangunkan suaminya. Apalagi, Eric sudah tidur sejak tadi, bagkan belum juga terbangun padahal hari sudah malam, bisa-bisa nanti Eric akan begadang kalau ia tidur terlalu cepat.
Namun, saat Leticia masuk ke dalam kamar Eric yang sudah membuka mata tiba-tiba pura-pura memejamkan matanya kembali. Apalagi saat mendengar suara tarikan pintu.
Ceklek ...
"Kan apa kataku, Tuan Eric belum bangun," gumam Leticia, laly menarik selimut yang menutup tubuh suaminya.
__ADS_1
Namun, tanpa sengaja kakinya terpeleset dan tubuhnya menghantam tubuh Eric tepat di atas tubuh pria itu. Ia terhempas ke ranjang menindih suaminya dengan gaya yang sangat tidak enak. Keduanya saling berhadapan satu sama lain, Leticia berada diatas tubuh suaminya.
Sementara, Eric menikmati momen tersebut. Ia justru tak merasa keberatan saat ditindih oleh sang istri.
"Sial," kata Leticia menggerutu.
Makian perempuan itu terdengar di gendang telinga suaminya, saat itu juga Eric sempat terkejut meski ia tengah menikmati tubuh ramping sang istri yang berada di atas tubuhnya.
Eric sama sekali tak berani membuka mata. Ia tetap saja memejamkan mata sembari sibuk dalam kepura-puraannya agar Leticia tak mengetahui kalau sebenarnya dia sudah terbangun.
Susah payah Leticia mengangkat tubuhnya, ia mengangkat tubuh, kedua tangannya memegang dada sang suami. Lalu, ia terduduk dengan kaki yang menyangga, sementara bokongnya masih berada diatas paha sang suami.
Area yang paling inti milik mereka masing-masing saling bersentuhan walaupun ditutupi dengan celana masing-masing. Leticia merasa kaku dan aneh dengan posisi duduknya.
Ialangsung menghempaskan tubuhnya ke samping, sementara Eric tersenyum tipis dengan kemenangan malam ini. Bahkan, Eric sepertinya ingin merasakan sentuhan yang benar-benar seperti saat ini dilakukan oleh Leticia.
"Sial ... kenapa momen ini cepat berlalu," batin Eric, dengan mata yang terpejam dengan erat.
"Tuan ... bangun!" titah Leticia, menghentakkan tubuh suaminya agar pria itu terbangun.
Leticia benar-benar tidak menyadari kalau sebenarnya Eric pura-pura tertidur sejak kedatangannya ke dalam kamar.
"Hmmmm," sahut Eric, dengan berdeham, lalu dia masih tak kunjung membuka mata.
Hal itu membuat Leticia tambah kesal, lagi-lagi ia membangunkan Eric, salah satunya cara dengan mengguncangkan tubuhnya begitu erat.
"Bangunlah, kita akan makan malam lagi pula ini terlalu cepat untuk kamu tidur, nanti bisa-bisa malamnya kamu begadang dan tidak tahu mau melakukan apa," papar Leticia.
"Tenang saja, aku tahu akan melakukan apa nanti malam. Aku ingin menyentuh tubuhmu," gumam Eric, sembari tersenyum tipis tanpa diketahui oleh Leticia.
Guratan senyuman tipis itu tak sengaja ditangkap oleh sudut mata Leticia. Saat ia ingin menoleh ke mata suaminya yang masih terpejam, Leticia tampak bingung dan mencurigai apakah pria itu benar-benar sempat tersenyum seakan-akan meledeknya.
__ADS_1
"Tuan, apakah kamu sudah bangun dari tadi?" sindir Leticia dengan kesal sembari berdecak karena pria itu tak kunjung membuka mata.
Letica mengendurkan keningnya, menatap penuh selidik ke arah Eric. Tatapannya begitu tajam, sampai-sampai Eric menyadari tengah mendapat sorotan tajam dari perempuan itu.