Pemuas Hasrat Tuan Eric

Pemuas Hasrat Tuan Eric
bab49


__ADS_3

"Kan apa kata saya, Marks itu tidak mungkin melakukan hal sejahat itu. Dia adalah anak yang polos dan baik hati bahkan suka menolong teman-temannya tapi nggak mungkin dia membully. Mungkin saja adik iparmu yang playing victim dan manipulatif mengaku-ngaku kalau dia dibully oleh Marks!" ujar Papanya Marks dengan yakin jika anaknya tidak melakukan pembullyan.


Apa yang dilakukan papa Marks lantas membuat Marks semakin angkuh karena mendapatkan pembelaan secara sepihak. Bahkan ia sengaja mengelabui seluruh orang-orang yang ada di sana dan menyakinkan para guru kalau dia bukanlah seorang anak pembully. Namun tidak bagi Eric, karena ia tidak percaya dengan ucapan anak itu yang jelas-jelas terlihat sangat manipulatif.


"Baiklah kalau memang tidak ada keputusan dari pihak sekolah untuk mengeluarkan anak ini, siap-siap saja kalau sekolah ini akan saya tuntut. Termasuk kamu Marks siap-siap saja malam ini akan tidur di penjara!" tegas Eric seraya mengambil ponsel untuk menghubungi seorang pengacara handal yang sering digunakan oleh pihak keluarganya.


Sementara, Kepala Sekolah dan Papanya Marks justru malahterdiam dan bingung akan melakukan apapun. Mereka seolah-olah tak percaya dengan yang diucapkan oleh Eric. Padahal ancaman itu sudah nyata bahkan Papanya Marks menganggap remeh sosok Erikv yang tidak dikenalnya, sebab dia tidak tahu kalau Eric adalah pemilik perusahaan terbesar di negara ini.


Satu perusahaan tetapi meliputi anak perusahaan yang banyak, sementara Papanya Marks hanyalah orang-orang kecil yang dianggapnya sangat angkuh dan bersifat arogan.


"Halo ... Bapak, tolong segera datang ke sekolahan ini, saya ingin bapak segera menangani kasus adik ipar saya. Nanti akan ada visum yang akan saya serahkan kepada bapak, jadi segera dilaporkan saja ke polisi biar anak itu segera ditangkap. Kemudian, pihak sekolah juga harus dituntut agar mendapat penindakan dari dinas pendidikan!" beber Eric panjang lebar dengan suara yang tegas dan terdengar oleh seluruh guru beserta Papanya Marks.


Pria itu sengaja membesarkan suaranya saat menghubungi seorang pengacara. Sebab, dia lelah sudah mendesak Papa Marks tetapi malah tidak digubrks.


"Siap, Pak!" jawab seseorang dari seberang telepon.


Lalu Eri segera menutup panggilan itu secara sepihak tanpa mengucapkan apapun. Kemudian ia duduk di sebuah kursi yang sudah disediakan pihak sekolah sembari mengangkat satu kaki yang disilangkan.


Eric dengan sabar menunggu kedatangan pengacaranya, tidak ada kata apapun lagi di dalam ruangan itu. Namun kepala sekolah mencoba untuk bernegosiasi agar persoalan segera cepat selesai dan Eric tidak akan melaporkan ataupun menuntut pihak sekolah.

__ADS_1


"Pak Eric, bagaimana kalau kita bicarakan ini secara baik-baik? Kami ingin persoalan ini diselesaikan dengan kepala dingin jangan sampai emosi seperti ini!" sergah Kepala Sekolah masih membujuk Eric.


Disisi lain, Fano sudag tidak merasa takut lagi. Bahkan dia sudah berani menatap wajah Marks yang justru tampak ketakutan. Apalagi Eric mengiming-imingi bahwa sebentar lagi Marks akan masuk ke dalam penjara karena mereka akan melaporkannya sesegera mungkin.


"Papa, bagaimana ini, Marks nggak mau kalau sampai dipenjara!" kata Marks sembari berbisik agar suaranya tidak sampai ke telinga yang lain.


"Sebenarnya kamu membully anak itu atau tidak?" desak Papa Marks.


"Iya, Pa ... maaf, Marks takut dikeluarkan dari sekolah ini," tambah Marks masih dalam keadaan berbisik.


"Yasudahlah, kamu membuat Papa malu saja, tadi kamu berkata tidak membully dia tapi sekarang kamu sudah mengaku apalagi yang harus Papa ucapkan pada lelaki itu, bisa hancur wivawa Papa jika mengakui kesalahanmu!" desah Papa Marks seraya memelototi bola mata anaknya.


Marks hanya diam seraya mengacak-acak rambutnya dengan gusar karena semakin merasa frustasi, apalagi Eric dan Leticia beserta Fano tampak terdiam menunggu kedatangan pengacara mereka. Leticia pun menyerahkan semuanya pada Eric untuk menyikapi persoalan pembullyan itu, intinya Leticia meminta bahwa Marks segera dikeluarkan dari sekolah.


"Gini, Pak bagaimana kalau kita melakukan negosiasi dulu. Saya minta maaf karena tadi sudah melemparkan uang ini pada anda." Papanya Marks pun mengambil segepok uang yang masih berada di depan ujung kaki Eric


"Mau negosiasi apa lagi? Benar kan anak anda yang melakukan pembullyan pada adik ipar saya?" tuntut Eric seraya mendelik kesal.


"Mungkin itu hanya kenakalan anak-anak remaja biasa saja, Marks tidak bermaksud untuk membully adik ipar anda jadi kalau begitu mari kita selesaikan secara baik-baik," pinta Papa Marks.

__ADS_1


"Tidak! Saya tidak mau."


"Yasudahlah kalau anda keras kepala, kalau begitu saya akan melawan anda," tandas Papa Marks mulai angkuh dan arogan lagi.


Namun, karena papanya Marks sangat keras kepala dan tidak pernah mau mengaku salah, akhirnya kepala sekolah mengambil tindakan sendiri dengan ia mengeluarkan sebuah surat dari laci meja kerja. Kemudian, dia menandatangani surat yang merupakan surat pengunduran diri yang seharusnya diisi oleh Marks.


"Tanda tangani saja ini, Pak. Lebih baik bapak mengalah saja daripada pihak sekolah juga dilaporkan oleh keluarganya Fano," titah Kepala Sekolah demgan tegas.


"Hah ... untuk apa Marks harus keluar dari sekolah ini, apalagi mengundurkan diri. Jadi kamu mau kalau sekolah ini tidak akan saya danai lagi?" decit Papa Marks seraya meremehkan.


"Tenang, Pak kepala sekolah, saya akan menggantikan posisi dia di sekolah ini, menjadi donatur terbesar bahkan nilainya 2 kali lipat dari yang dia berikan pada kalian!" erang Eric.


"Pak Eric, serius mau menjadi donatur di sekolah ini?" sahut kepala sekolah meyakinkan karena ia masih merasa bingung sebenarnya Eric itu siapa dan sepertinya memang dia tampak seperti orang yang sangat disegani.


"Ya, saya serius saya akan menjadi donatur di sekolahan ini!"


"Baiklah, Pak lebih Baik bapak tanda tangani saja surat pengunduran diri ini. Marks masih bisa melanjutkan sekolahnya di tempat lain daripada kami mengeluarkan surat pengeluaran siswa dan ia tidak bisa melanjutkan sekolah di manapun!" sesal kepala sekolah.


Papanya Marks tanpak kebingungan, ia tidak memiliki pilihan lain selain menandatangani surat pengunduran diri untuk anaknya. Daripada Marks harus dikeluarkan secara tidak hormat dan tidak bisa melanjutkan sekolahnya dan lulus dari tingkat SMA.

__ADS_1


Papa Marks mengambil sebuah bolpoin dan menandatanganinya, lalu menyerahkan kepada pihak sekolahan.


Kemudian, kepala sekolah menunjukkan pada Erik lalu berkata sesuatu. "Apa tidak masalah kalau Marks hanya mengajukan pengunduran diri? Saya kasihan kalau dia tidak bisa mendapat pendidikan yang layak, jika dia dikeluarkan dari sekolah. Saya harap Pak Eric memberikan kebijakan," papar kepala sekolah.


__ADS_2