
"Tidak aku hanya tidak ingin wajahku yang baru bangun tidurku dipandang olehmu," ucap Eric.
"Oh ... begitu, yasudah! Tuan, harus segera bersiap-siap karena kita akan segera sarapan pagi," tutur Leticia, kemudian bergegas meninggalkan kamar setelah Eric menjawab perkataannya.
Eric pun hanya mengangguk, lalu ia beranjak dari dari tempat tidur menuju ke kamar mandi, segera ia membersihkan diri di dalam sana. Namun saat memasukkan baju kotor ke dalam keranjang, ia melihat sebuah dalaman yang tadi malam dikenakan oleh Leticia terdampar di sana.
"Kenapa dia mengganti dalaman ini?" Eric pun segera meraihnya dan melihat secara teliti.
Saat disentuh dalam itu, memang tampak basah dan terasa sangat lembab saat disentuh oleh tangannya, ia pun berpikir kemungkinan itulah yang membuat Leticia tampak tidak nyaman.
"Tidak mungkin tahu kan kenapa ********** bisa sampai sebasah ini?" kata Eric dalam gumaman.
Dalaman itu pun kembali dilemparkan Eric ke dalam keranjang baju kotor, lalu ia bergegas mandi, membasahi tubuhnya dengan guyuran air yang semakin deras dari bawah shower, ia menikmati pemandiannya sembari bersiul-siul karena merasakan kegembiraan pagi ini.
Dalam waktu 15 menit, Eric sudah mengentaskan pemandian itu. Pria itu lalu bergegas keluar dari kamar mandi, dan melihat suasana yang sangat sepi saat berada di dalam kamar, tidak ada satupun orang termasuk istrinya di dalam sana.
Tak berselang lama, Eric mengenakan kemeja serta celana dan dasi untuk penampilannya pagi ini sebelum berangkat bekerja.
Selain itu, Eric langsung menuruni anak tangga, keluar menghampiri Leticia yang sudah duduk di meja makan. Lalu, tak lama Fani dan Fano juga ikut keluar menghampiri kakak dan iparnya yang ada di meja makan.
Keduanya pun melanjutkan sarapan pagi ini, terlihat Fani yang sudah rapih dengan seragam sekolahnya, sedangkan Fani hanya mengenakan pakaian biasa karena ia tak bisa menemani Fano berangkat bersama.
"Fani walaupun kamu diskors tapi tetap harus belajar," pesan Eric untuk mengingatkan adik iparnya tersebut.
Fani pun mengangguk dengan mantap, lalu tersenyum dengan sumringah. "Ya, Mas, Fani tetap belajar kok, setidaknya belajarnya bisa lebih santailah daripada harus belajar di sekolah membuat jenuh saja," keluh Fani sembari menunjukkan cengirannya.
Fano hanya tertawa kecil, tetapi ada sedikit ketakutan saat ia ingin berangkat ke sekolah, ia takut bahwa nanti akan menjadi bulan-bulanan Marks. Bahkan, akan dibully lagi saat berada di dalam kelas apalagi Fani tidak ikut datang bersamanya.
Namun, Fani menutupi rasa kekhawatirannya, ia tampak biasa saja dan berpura-pura tersenyum agar tidak ada yang curiga padanya.
__ADS_1
"Yasudah, kalau begitu Fano ikut bersama saya saja, saya akan mengantarkan kamu ke sekolah," celetuk Eric, sembari melirik ke arah Fano.
"Apa tidak apa-apa, Mas?" tanya Leticia seraya menatap lekat suami kontraknya.
"Nggak apa-apa kok. Lagian kantor dan sekolah Fano searah," jawab Eric dengan datar.
Leticia kemudian mengangguk, ia akhirnya mengantarkan suami dan adiknya ke depan rumah. Tak lupa, ia melihat dari ambang batas pintu kepergian mobil yang berada di halaman rumah, tangannya pun melambai ke arah dua proa itu.
Setelah memastikan mobil itu tak terlihat lagi, Leticia kembali ke kamar. Sebelumnya, ia memastikan kalau Fani sudah duduk di meja belajar denganbeberapa lembaran buku dan meyakini kalau buku-buku itu akan dipelajari dengan serius oleh Fani.
"Ingat waktunya belajar, ya belajar jangan sambil main ponsel," tegas Leticia, dengan tatapan sengit.
"Iya, Mbakku tenang saja," ucap Fani, kemudian terkekeh.
Akhirnya, Leticia pun bergegas pergi dari kamar Fani, ia menuju ke kamarnya sendiri. Di dalam kamar, Leticia menghempaskan tubuh di atas ranjang, menatap langit-langit kamar seraya berpikir. Lagi-lagi pikirannya mengacu pada persoalan tadi pagi lantaran yang terjadi pada tubuhnya sangat terasa aneh.
Leticia terbingung-bingung, ia juga keheranan mengapa ia bisa mengalami mimpi basah karena itu adalah kali pertama yang ia alami. Bahkan, mimpi itu benar-benar membuatnya basah kuyub.
"Ah ... sial, aku tidak boleh ketahuan kalau ternyata bisa sampai mimpi basah seperti itu, apalagi sampai ketahuan, Tuan Eric!" racau Leticia dengan lirih.
Lalu, Leticia membubarkan pikiran buruknya, akhirnya ia memilih untuk menyibukkan diri dengan membaca majalah terbaru yang tadinya sudah disimpan oleh maid di dalam kamar. Leticia memang sengaja berlangganan majalah untuk melihat trend mode pakaian terbaru masa kini, itupun atas permintaan Eric, jadi sewaktu-waktu, kalau ada acara, Leticia bisa menempatkan posisinya, berdandan ala istri seorang CEO, tidak norak dan memalukan.
Leticia duduk di tepian ranjang, ia membolak-balikkan majalah, setelah setengah jam larut melihat majalah, akhirnya ia merasa bosan, lalu beralih menjelajahi ponsel.
Tak sengaja, Leticia melihat media sosial milik suaminya karena Leticia menyimpan nomor ponsel suaminya, otomatis akun tersebut pun muncul dan terhubung di media sosial miliknya.
Leticia melihat dan menjelajahi akun tersebut, sebelumnya Eric mengaku memang tak pernah berkencan dengan wanita manapun tapi pada akhirnya saat melihat media sosial miliknya, ada foto seorang perempuan yang selalu bersamanya.
Meskipun jadwal postingan tersebut sudah beberapa tahun yang lalu. Saat melihat media sosial itu, Leticia yakin rasanya Eric sudah lama tidak lagi menggunakan media sosial miliknya.
__ADS_1
"Apakah perempuan ini adalah perempuan yang dicintai oleh, Tuan Eric?" tanya Leticia, yang semakin larut dalam pikiran, menelisik wajah perempuan yang cantik jelita dalam foto tersebut.
"Tapi setahuku dia mengaku tidak pernah dekat dengan wanita manapun, lalu mengapa ada foto perempuan yang lebih muda darinya?" Leticia semakin termenung, entah perasaan apa yang dialaminya, seperti ada sesuatu yang berkecamuk di dalam dada.
****
Di dalam kantor, Nia sudah menyambut kedatangan bosnya, ia menyapa dengan lembut. Eric yang baru masuk ke ruangan juga sudah menatap beberapa berkas yang tertimbun di atas meja kerja.
"Pagi, Pak itu beberapa berkas yang harus Bapak tanda tangani, kemudian hari ini juga Bapak harus menghadiri rapat dengan para karyawan dan manajer. Selain itu juga, ada rapat lanjutan dengan para kolega yang sudah bekerja sama dengan perusahaan kita," ungkap Nia, sembari melayangkan senyuman lebar di kedua sudut bibir.
"Baiklah, kalau begitu saya akan selesaikan dulu berkas-berkas ini, baru kita melanjutkan untuk menghadiri rapat," seru Eric.
"Kalau begitu saya pamit dulu, kalau ada yang perlu dibantu nanti silakan panggil saya saja," pesan Nia—sekretaris Eric.
Eric pun anya mengangguk, lalu mengusir sekretarisnya dari ruangan.
*hening ...
Ruangan sudah kembali sepi, Eric kembali duduk di kursi kebesarannya, ia mengambil suatu berkas untuk segera ditandatangani dan berlanjut ke berkas-berkas lainnya.
Saat menata berkas-berkas itu, bayang-bayangan wajah Leticia malah muncul di atas kertas. Eric bahkan tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian tadi malam yang sangat membuatnya bergairah.
"Malam ini aku harus lebih lebih dahsyat lagi permainannya," ucap Eric dengan gagah seraya tersenyum dengan lebar.
Pria itu sibuk memikirkan konsep permainannya untuk malam ini. Eric akan mulai menyentuh istrinya nanti malam, agar istrinya itu dalam terbelenggu dalam ikatan pernikahan mereka.
Apalagi, mengingat Leticia sempat melayangkan pembatalan kontrak, membuat Eric tampak geram. Ia tidak akan pernah lagi membiarkan Leticia mengeluarkan ucapan seperti itu.
Eric akan mengikat pernikahan itu dengan cara menyentuh istrinya. Tak hanya itu, Eric juga bersiap-siap ingin mendapatkan hati istrinya.
__ADS_1