Pemuas Hasrat Tuan Eric

Pemuas Hasrat Tuan Eric
Bab79


__ADS_3

"Iya, Mbak aku hanya teringat saja pada ibu, mudah-mudahan ibu tenang di sana," kata Fano, seraya menatap lekat wajag sang kakak dengan wajah yang sangat sendu.


"Udahlah, kalian jangan terlalu memikirkan hal itu, lebih baik rencanakan mau liburan ke mana. Biar nanti segera dipersiapkan atau kalian mulai mulai pikirkan saja hari ini karena besok sudah siap-siap berlibur," kata Eric menengahi sembari menyelesaikan santapannya.


Ketigaganta pun mengangguksetuju, lalu Eric menyelesaikan sarapan pagi, mereka akhirnya melanjutkan dengan kegiatan masing-masing. Eric mengajak Fano untuk ikut bersamanya jarena ia memiliki waktu yang cukup panjang untuk berangkat ke kantor sekaligus mengantarkan Fano hingga ke depan gerbang sekolah.


Sementara Fani, tengah bersiap-siap untuk memulai belajar dengan bermodalkan catatan yang sudah diserahkan oleh Fano. Ia juga mempersiapkan diri sebelum liburan tiba karena ia tidak mau saat liburan nanti malah dipaksa belajar oleh sang kakak.


Tak lama kemudian, Eric berlalu pergi, kemudian Leticia pun berpamitan dengan suaminya dengan melambaikan tangan sebagai tanda formalitas bahwa mereka adalah sepasang suami istri yang romantis.


***


Di dalam mobil, Eric menanyakan tentang Fano, bagaimana dengan sekolahnya serta apakah masih ada orang yang berani mengganggunya.


"No, bagaimana sekolahmu? Apakah sudah berjalan dengan lancar, sudah tidak ada lagi kan anak yang mengganggumu?" sergah Eric, sesekali melirik ke arah Fano.!


Fano pun mengangguk dengan penuh keyakinan, lalu ia tersenyum saat menatap kakak iparnya. Tak lama kemudian ia pun bersuara untuk menyampaikan pendapatnya.


"Terima kasih, Mas sekarang selama di sekolah, aku sudah merasa aman. Bahkan aku sudah mulai fokus untuk mempelajari semua penjelasan yang disampaikan oleh guru karena selama aku diganggu oleh Marks, aku sangat tidak fokus untuk belajar," beber Fano, tertunduk malu.


"Syukurlah kalau begitu jadi kamu sekarang sudah mulai membaik kan? Bagaimana dengan lukamu?" tambah Eric, pria itu sangat perhatian dengan adik iparnya.


"Lukaku juga sudah mulai sembuh dan memarnya sudah menghilang sedikit-sedikit. Oleh karena itu, aku juga masih dalam proses pemulihan namun yang sulit sekali aku lupakan adalah rasa trauma saat mengingat pukulan dan hantaman yang diberi oleh Marks!" ungkap Fano, sontak saja perkataan itu mendapat tatapan tajam dari Eric.


Ia begitu terkejut karena tak menyangka Fano bisa seterbuka itu padanya.

__ADS_1


"Jadi kamu masih trauma dengan kejadian itu?" sosor Eric, seraya kembali fokus untuk menatap jalanan, ia kembali mengemudikan setirnya agar tidak terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan


"Iya, Mas aku masih trauma apalagi kalau ada orang yang menyentuh tubuhku, aku pasti langsung menghindar," jawab Fano dengan lugas


"Kalau begitu kita ke psikiater aja untuk memastikan serta mengobati rasa trauma itu, jangan sampai rasa trauma itu menghantui hingga dirimu tua nanti," ujar Eric, memberikan saran.


"Bolehkah, Mas bantu aku? Soalnya aku tidak enak kalau harus memberitahukan pada Mbak Leticia, nantinya dia akan sedih lagi," papar Fano, seraya menatap lekat wajah kakak iparnya.


"Boleh, nanti saya akan jadwalkan jika sudah waktunya untuk mendapatkan perawatan, saya akan mencari seorang psikiater yang handal sehingga rasa traumamu akan hilang!" jelas Eric meyakinkan.


"Baiklah, Mas! Terima kasih, maaf sekali aku selalu merepotkanmu," sesal Fano dengan kepala tertunduk.


"Tidak masalah, sekarang ini kan aku sudah menjadi keluargamu. Apapun yang kamu keluhkan sampaikan saja padaku, aku akan membantu sebisaku!" kata Eric dengan penuh keyakinan.


***


Perempuan itu memintanya untuk mencari tempat liburan yang cocok.


"Gimana kalau kita ke pantai aja," usul Fani seraya menatap wajah sang kakak.


"Hm ... kayaknya mendaki gunung lebih seru deh, soalnya Mbak sama sekali belum pernah melakukan hal itu, mwndaki gunung adalah salah satu wishlist yang harus dipenuhi sepanjang hidup Mbak sebelum meninggalkan dunia ini," sergah Leticia.


"Mbak kok ngomong kayak gitu sih, walaupun itu wishlist Mbak tapi tetap saja memang harus dipenuhi sih. Mungkin kita bisa ke Bromo, itu kan tempat yang sangat cocok untuk mendaki," tambah Fani.


"Janganlah, terlalu jauh kalau harus ke Bromo. Lagian di sana sangat dingin, perlu persiapan yang matang, bisa berapa lama kita harus mendakinya, sementara waktu libur kamu, Fano dan Mas Eric hanya dua hari saja," sambung Leticia.

__ADS_1


"Jadi kita harus ke mana nih?" Fani tampak berpikir sembari menatap ponsel, lalu ia membuka layar ponsel untuk mencari gunung terdekat yang berada di pusat kota yang mereka tinggali.


"Mbak, pernah dengar katanya Gunung Pangrango juga seru dan sangat dekat loh dari lokasi rumah kita ini," celetuk Leticia.


Seketika, Fani langsung mencari tahu tentang Gunung Pangrango melalui browser yang ada di ponsel. Kemudian, ia menjelajahi dan memang merasa cocok jika mereka harus mendaki ke gunung tersebut.


"Bolehlah, Mbak kayaknya seru juga!" imbuh Fani.


"Kalau liburan di gunung, paling kita tidak bisa menikmati liburan mewah seperti saat berkemah waktu itu, jadi liburannya sederhana sekali dan kita harus membawa tenda juga untuk sampai ke Puncak Gunung," lanjut Fani lagi.


"Nggak masalah sih, selama kita bisa mencapai puncak dan Mbak bisa menikmati pemandangan yang ada di puncak gunung Pangrango!"


"Oke, kalau gitu Mbak hubungi aja mas Eric. Siapa tahu dia punya persiapan untuk rencana mendaki Gunung Pangrango," sahut Fani.


"Iya, lagipula kita juga harus mendapatkan persetujuan dari mas Eric loh, kalau hanya kita berdua saja yang merencanakan tapi dia tidak setuju maka percuma saja!" kata Leticia kemudian mengambil ponsel dan mengirimkan sebuah pesan pada Eric.


****


Eric baru saja menerima pesan dari Leticia, ia melihat setelah menurunkan Fano dari dalam mobil karena ia sudah mengantarkan tepat di depan gerbang sekolah.


Kemudian, ia sembari berpikir setelah membaca pesan itu dan melajukan mobil dengan kencang agar segera tiba di kantor, niat membalas pesan dari perempuan itu dia urungkan dulu, nantinya setelah duduk dan bersantai di ruang kerja barulah ia akan membalasnya.


Di sepanjang perjalanan, Eric terus memikirkan rencana untuk liburan tersebut. Apakah cocok jika harus mendaki gunung seperti yang dipinta oleh istri kontraknya. Tetapi, dia tampak memikirkan ulang dengan matang jika harus mendaki gunung. Sebab Eric tak menyukai pendakian gunung, selain ribet dan memakan waktu yang cukup lama, ia juga tak ingin merasa lelah karena momen liburan seharusnya dinikmati bukan untuk membuat fisik menjadi kelelahan.


Akhirnya dalam perjalanan tersebut, Eric memutuskan bahwa ia akan menolak tawaran Leticia untuk mendaki gunung. Sepertinya dia lebih memilih untuk mengajak keluarganya menikmati pemandangan laut dibandingkan harus capek-capek menaiki terjalnya jalanan menuju puncak gunung.

__ADS_1


__ADS_2