Pemuas Hasrat Tuan Eric

Pemuas Hasrat Tuan Eric
bab64


__ADS_3

Kemudian, Nia mengeluarkan amplop yang sudah disiapkan oleh perusahaan mereka untuk anak tersebut. Jadi Dika anak berusia 6 tahun, masih belum mengerti apapun, ia menganggap jajanan itu bukan racun tetapi karena mengalami hal yang tidak terduga saja. Ya, namanya anak kecil pasti saja mereka tidak pernah berpikiran buruk mengenai sesuai yang telah menimpanya.


Apalagi, ini kali pertama Dika merasakan keracunan makanan saat menyemil snack dari perusahaan ternama milik keluarga Eric.


"Bu, ini ada sedikit kompensasi dari perusahaan kami untuk pada adik Dika, agar dia bisa memanfaatkan uang ini untuk kepentingan pendidikannya. Selain itu kami berharap Ibu Jangan pernah kecewa setelah terjadi kejadian seperti ini, saya harap anak ibu tetap membeli jajanan dari perusahaan kami," ucap Eric, seraya menyodorkan amplop yang diberikan Nia padanya.


"Baik, Pak terima kasih banyak atas pemberian hadiah ini, kami berterima kasih walaupun sebenarnya ini memang tidak diharapkan sejak awal, yang terpenting anak kami kondisinya sehat. Apalagi perusahaan Bapak sudah menanggung proses perawatan Dika selama berada di rumah sakit," turur Ibu Sofi.


"Ya, Bu! Mudah-mudahan Ibu merasa terbantu dengan adanya kompensasi ini," jawab Eric.


Sementara, dari tadi para wartawan telah sibuk memotret momen tersebut, mereka tidak ingin menyia-nyiakan waktu karena Eric juga harus segera pergi dari sana.


****


Leticia dan Fani berhenti sejenak dari kegiatan shopping mereka, saat ini telah memasuki siang hari, kedua perempuan itu memilih untuk menyantap makan siang di sebuah restoran ternama yang ada di dalam mall.


Leticia dan Fani masuk ke dalam sebuah restoran mewah, mereka memesan makanan khas western dan menyantap makanan itu setelah pramusaji menyajikannya.


Setelah masuk, Leticia memesankan beberapa makanan yang menurutnya sangat enak dan menarik, beberapa pesanan diantaranya spaghetti, pizza bahka steak, padahal makanan itu belum tentu akan dihabiskan oleh mereka berdua.


"Apa nggak kebanyakan itu, Mbak?" singgung Fan8 karena ia merasa perutnya pun memiliki kapasitas yang kecil.


Jadi tidak mungkin ia akan menghabiskan makanan yang sangat banyak yang dipesan oleh kakaknya.

__ADS_1


"Enggak lah, segitu cukup kok untuk kita berdua, kalau tidak habis bisa dibungkus atau biarkan saja di sini!" sela Leticia.


"Tapi kan mubazir, Mbak! Sayang kalau buang-buang makanan, ingat kan kalau waktu dulu kita sedang susah bahkan makan makan mie instan saja satu bungkus dibagi untuk 4 orang hingga dicampur dengan nasi!" beber Fani, mengingatkan sang kakak agar tidak lupa dengan status mereka dulu.


"Udahlah, kamu tidak perlu mengingat masa lalu, kini hadapilah masa depan. Lagian kita sudah merasakan hidup enak dan Mbak yakin kita tidak akan merasakan kesusahan seperti itu lagi," sahut Leticia dengan kesal.


"Mudah-mudahan saja, Mbak! Makanya Mbak harus tetap bertahan dengan Mas Eric agar hidup kita tetap seperti ini," sanggah Leticia.


"Hemm ..." Leticia hanya berdehem sembari berpikir tentang nasib pernikahannya kelak.


Padahal nyatanya meski kontraknya masih cukup panjang tetapi waktu pernikahan mereka hanya akan berlangsung selama 2 tahun saja. Saat itu, Leticia harus siap-siap angkat kaki dari rumah mewah milik Eric.


Bahkan, Leticia tak pernah berpikir bahwa Eric akan sungguh-sungguh meminangnya dan menjadikannya seorang istri yang nyata.


Seorang pramusaji bergantian membawakan makanan sesuai menu yang dipesankan oleh Leticia, mereka meletakkan di atas meja. Kedua kakak beradik itu, lalu dengan cepat menyantap makanan itu dengan sangat lahap.


Karena makanannya sangat terasa nikmat, tidak sia-sia Leticia memilih restoran mahal dan mewah seperti itu, karena makanannya pun memiliki kualitas dan kuantitas yang sangat baik.


Setelah menyantap makan siang, Leticia melakukan pembayaran. Hanya untuk memakan makanan seperti itu, ia sudah menghabiskan uang hampir satu juta, padahal makanan yang dipesan hanya untuk dua orang saja tetapi anehnya makanan itu pun habis dilahap mereka berdua karena porsi yang memang sedikit serta keduanya tengah dilanda kelaparan.


"Mbak, enak juga makanan-makanan mahal kayak gitu, aku baru sekali ini memakannya!" sahut Fani sembari berjalan beriringan dengan sang kakak.


"Iya, Mbak juga jarang kok keluar seperti ini. Baru kali ini bahkan keluar bersamamu, biasanya Mbak selalu di rumah, tidak ada kegiatan apapun menunggu sampai mas Eric pulang," jawab Leticia, menatap nanar wajah adiknya seketika ia teringat masa-masa susahnya dulu bahkan rasanya tidak mungkin ia mencicipi makanan mahal apalagi di dalam sebuah restoran mewah.

__ADS_1


Kini, Leticia bisa merasakannya berkat kehadiran Eric yang masuk ke dalam hidupnya serta yang memiliki kekayaan yang fantastis.


"Mbak beruntung banget sih bisa dapat pria kaya raya seperti mas Eric, nggak nyangka banget, Mbakku bisa menikah dengan tuan muda kaya raya sepertinya," sosor Fani sembari naik turunkan alis.


"Jujur saja, pernikahan Mbak nggak pernah direncanakan, itu terjadi begitu saja dan Mbak hanya menjalaninya," kilah Leticia.


"Tapi, Mbak keren banget kok, sudah bisa punya suami kaya raya bahkan bisa mengangkat derajat keluarga kita. Kini, kita tidak lagi terjerat kemiskinan. Bahkan aku dan Fano bisa menikmati sekolah tanpa harus lagi meminta biaya dari pemerintah," hardik Fani, menatap lekat wajah sang kakak.


"Iya sih, Mbak juga bersyukur banget bisa dipertemukan dengan mas Eric. Mudah-mudahan pernikahan ini sampai kakek nenek," lanjut Leticia dengan asal.


"Ya, jangan gitu dong, Mbak! Tapi harus beneran sampai kakek nenek loh!" papar Fani.


"Pastinya, kamu doakan saja."


"Mbak juga soakan aku supaya bisa dapat suami kayak mas Eric yang kaya raya, pengertian bahkan tidak pelit," kekeh Fani, memberi timpukan di bahu sang kakak.


"Kalau itu sih kamu harus usaha dong, Fan! Cari pria yang kaya raya. Jangan mau kamu terjerat pernikahan yang terjerumus dalam kemiskinan, bisa-bisa hidupmu benar-benar seperti keluarga kita," tutur Leticia memberikan pendapat.


"Iya, Mbak lihat saja Bapak dan Ibu karena mereka susah, alhasil kita juga ikut merasakan kesusahan seperti mereka. Kasihan sekali hidup kita selama bertahun-tahun di didera kemiskinan," keluh Fani seraya mengusap wajah.


"Itulah makanya kamu juga harus bekerja keras, jangan sampai setelah lulus SMA kamu langsung menikah tetapi selesaikanlah pendidikanmu dulu. Kalau bisa nanti Mbak akan membuatmu kuliah sehingga kamu dan Fano bisa mendapatkan pendidikan yang tinggi!" balas Leticia.


"Mbak doakan saja aku dan Fano bisa menjadi orang penting dan orang yang sukses!" kekeh Fani, keduanya malah tertawa terbahak-bahak sembari menyusuri mall yang sangat luas.

__ADS_1


Leticia kembali melanjutkan perjalanan sembari memproses makanan yang sudah masuk ke dalam perut. Mereka menyusuri mall dengan fokus.


__ADS_2