
Setelah memunguti bajunya, Varrel akhirnya memakai kemeja itu dengan cepat. Ia sempat menoleh ke belakang, menatap Mira yang pura-pura sudah ternodai. Namun, Varrel tetap percaya kalau ia tak pernah menyentuh wanita manapun, sebab selama ini Varrel masih sangat mencintai istrinya meski istrinya itu sudah pergi sejak sang anak berusia remaja.
"Tuan, anda mau ke mana?" tanya Mira seraya menatap lekat wajah Varrel yang hendak buru-buru pergi keluar dari ruangan karaoke yang sangat luas tersebut.
Alhasil, Varrel menoleh ke belakang dan menatap Mira sembari tertegun sejenak.
Pada akhirnya, Varrel membalas pertanyaan Mira dengan ketus. "Saya ingin pulang!"
Lalu, Varrel Pratama segera keluar dari ruangan itu, meninggalkan Mira meski masih dengan tubuh yang polos karena bajunya disimpan di atas lantai.
"Sial, dasar tua bangka. Aku gagal untuk menjebak dia," gerutu Mira seraya mengepalkan tangan.
Setelah melihat kepergian Varrel, ia beranjak dari kursi yang ada di sana. Lalu dia memungut dress yang ada di lantai dan memakainya dengan cepat.
Seharusnya aku benar-benar menjebak dia sungguh-sungguh sehingga dia benar-benar harus menjadi milikku secara nyata, lihat saja nanti kalau kita bertemu lagi.
Mira membatin sembari menyeringai dengan tajam, menatap arah daun pintu dengan kesal.
***
Tok tok tok ...
Suara ketukan pintu langsung membuat seorang maid berlari untuk membukakan pintu. Betapa terkejutnya malam itu, saat Dei membukakan pintu dan ia menatap buket uang yang disertai selipan beberapa tangkai bunga, terlihat sangat indah dan sangat istimewa.
"Selamat malam, Bu. Kami ingin bertemu dengan ibu Leticia," ujar seorang pengantar buket.
"Oh, Nyonya sedang di kamar, sebentar saya akan panggilkan," jawab Dei dengan lugas.
__ADS_1
Ia segera berlari setelah mempersilahkan pengantar bunga itu untuk masuk dan menunggu di ruang tamu.
Dei langsung memanggil Leticia. Ia mengetuk pintu dengan kencang lantaran betapa semangatnya ia untuk memberikan kabar bahwa ada sebuah buket uang yang menanti Leticia.
Tok tok tok ...
Ketukan pintu mengalihkan pandangan Leticia yang sedang menunggu Eric sejak dari tadi, sudah jam 10 malam, Eric tak kunjung pulang ke rumah dan membuat Leticia tampak khawatir tetapi ia tetap enggan untuk menghubungi suami kontraknya.
Leticia beranjak dan bukakan pintu dan melihat siapa sosok yang baru saja datang ke kamar. Lalu, ia menatap wajah Dei dengan rasa kebingungan. "Ada apa, Dei?"
"Maaf, Nyonya mengganggu. Sedang ada tamu yang menunggu di ruang tamu," ucap Dei seraya berpamit pergi setelah menyampaikan pesan yang sangat krusial menurutnya.
Leticia mengekori Dei yang sudah berjalan terburu-buru, ia penasaran siapa yang malam-malam seperti ini datang ke rumah padahal ia tidak memiliki orang terdekat manapun untuk sekedar mampir.
"Dei, siapa emang yang datang?" tanya Leticia sembari menatap punggung Dei yang berjalan menuruni anak tangga, perempuan itu pun menoleh dan menjawab pertanyaan Leticia.
"Nyonya, lihat sendiri saja, pasti Nyonya akan merasa bahagia."
Kemudian, Leticia dan Dei berpisah, maidnya itu kembali ke dapur sedangkan Leticia menemui seorang tamu yang sedang menunggunya.
Betapa terkejutnya Leticia, saat melihat seorang pria membawakan buket uang yang besar dan sangat terlihat mewah, ia meneliti punggung pria itu tampak berbeda dengan suaminya. Awalnya Leticia menyangka bahwa pria itu adalah suaminya. Namun ternyata tidak karena sosok tubuhnya sangat berbeda jauh dengan tubuh Eric yang sangat gagah.
"Permisi, Pak ada apa mencari saya?" kata Leticia sembari mengedarkan pandangan.
"Ibu Leticia?"
Leticia pun menggangguk, sontak membuat pria itu segera menghampiri dan menyerahkan buket uang pada Leticia. Perempuan itu terbingung-bingung sembari bertanya-tanya apa maksud pemberian buket uang tersebut.
__ADS_1
Namun, sebelum ia bertanya ternyata pria yang sebagai kurir itu sudah menjawab lebih dulu dari mana bunga itu berasal.
"Ini buket dari Pak Eric."
"Oh ... dari suami saya. Baiklah, terima kasih, Pak tapi suami saya di mana, ya?" ujar Leticia sembari bertanya pada pria itu, tetapi pria itu tampak terdiam kaku karena dia memang tidak tahu keberadaan Eric.
Ia hanyalah seorang kurir yang mengantarkan buket sesuai dengan permintaan pedagang bunga.
"Maaf, Bu kalau soal itu saya tidak tahu menahu. Saya hanya sebagai kurir yang mengantarkan buket ini saja." Lalu pria itu pun berpamit pergi dan meninggalkan Leticia yang masih termenung di ruang tamu.
"Aneh sekali, Tuan Eric tumben bersikap romantis ini. Bahkan dia sengaja memberikanku uang sebanyak ini, untuk apa pula dia memberikan uang sebanyak ini padaku? Padahal dia sendiri sudah memberikan kartu kredit dan atm-nya karena saat ini masih berada di tanganku!" seru Leticia dengan lirih.
Leticia semakin larut dalam pikiran. Namun ia tak ingin melupakan momen sepenting ini, ia mengambil lponsel yang ada di saku dan mengambil beberapa jepretan foto selfie yang tengah memegang buket uang yang besar bahkan ia kewalahan mengangkat buket itu.
"Indah sekali. Baru kali ini aku menerima buket sebagus dan semahal ini, isinya uang bukan hanya bunga," kata Leticia membatin, padahal sudah jam 10 malam.
Namun, mendengar ada suara obrolan, membuat Fani penasaran dan keluar dari kamar serta mengintip ada apa yang terjadi di ruang tamu.
Fani semakin penasaran ketika melihat sosok kakaknya sedang berdiam diri di ruang tamu bahkan seorang diri. Ia pun menghampiri dan menyapa Leticia.
"Ada apa, Mbak?" ucap Fani, hingga membuat Leticia smenoleh ke belakang dan buket bunganya terlihat oleh Fani.
Respon Fani sama halnya dengan Leticia saat pertama kali mendapatkan bunga tersebut. Fani sangat terkejut serta merasa terpukau dengan buket uang, apalagi ini adalah kali pertama Fani melihat buket sebesar karena berisi uang yang banyak.
"Wah dari siapa ini, Mbak bunganya besar sekali. Eh ... bukan isinya bukan hanya bunga tapi uang yang sangat banyak," puji Fani seraya menghampiri Leticia dan menarik buket bunga itu dan ingin memegangnya. Ia merampas milik kakaknya tanpa rasa segan.
"Dari masmu, dntahlah dia sekarang ada di mana, tiba-tiba saja dia mengirimkan buket uang seperti ini," sergah Leticia seraya memberikan buket itu pada Fani sepenuhnya.
__ADS_1
"Bagus banget, Mbak bunganya dan isinya juga sangat banyak," tutur Fani mengagumi buket tersebut.
Kemudian, Fani pun ingin memamerkan bunga seperti itu pada teman-temannya nanti, karena ia baru pertama kali melihatnya. Oleh karena itu, Fani mengambil beberapa jepretan foto dan meminta Leticia untuk mengambil fotonya bersama buket uang milik sang kakak.