
Tepatnya jam 5 sore, Frederic tiba di rumah. Beberapa tamu pun ikut mulai hadir, lantaran mereka mengekori CEO mereka untuk menuju kediamannya.
Leticia yang sudah berdandan cantik, mengenakan dress berwarna merah muda, dengan rambut diblow curly, make up tipis naturan tapi flawless membuatnya semakin cantik dan anggun.
Di depan rumah, ia menunggu kedatangan suaminya. Frederic melangkah dengan rasa bangga saat melihat kecantikan Leticia yang sempurna. Diekori oleh sekretarisnya, serta beberapa direktur yang telah sampai di rumah itu.
Leticia tersenyum ramah menyambut para tamu. Mereka langsung dipersilahkan masuk, melewati pintu samping sehingga tak perlu mengelilingi rumah Frederic.
Pria yang tampak gagah itu, mendekati istrinya. Merengkuh pinggul Leticia dengan lembut agar mereka memperlihatkan rumah tangga yang begitu harmonis.
Lalu, Frederic dengan segala aktingnya, mencium pipi Leticia. Adegan itupun diikuti oleh Leticia, ia mencium punggung tangan Frederic sebagai bukti baktinya sebagai seorang istri.
Frederic berdiri disamping Leticia. Tamu yang lebih dulu berjabat tangan dengan Leticia adalah sekretaris suami kontraknya.
"Leticia." Ia mengulurkan tangan ke arah Nia.
Nia pun menyambut dengan baik, mereka berjabat tangan. "Saya Nia, bu, sekretaris bapak yang baru." Nia menunduk sebagai bentuk penghormatan.
Kemudian, tamu yang lain ikut berjabat tangan dengan Leticia. Frederic dengan bangga memperkenalkan istrinya. "Ini istri saya, Leticia." Frederic terkekeh bangga saat memperkenalkannya ke beberapa direktur.
"Ayo, masuk, pak!" Frederic dan Leticia melangkah, diekori oleh beberapa direktur yang datang hari itu juga.
Frederic berjalan gontai seraya melingkarkan satu tangan dipinggul Leticia. Beberapa tamu sangat takjub melihat party garden dadakan dengan dekor yang sangat cantik.
"Ini semua, Bu Leticia yang mempersiapkan?" tanya seorang direktur.
Leticia tersenyum ke arah pria paruh baya itu, kemudian mengangguk. "Benar pak, saya yang mengurus semuanya. Silahkan dinikmati."
Tak lama kemudian, Varrel Pratama tiba di kediaman putra semata wayangnya. Ia langsung saja menyelonong masuk melalui pintu rumah depan.
Para maid langsung menunduk saat ayah tuan mereka masuk ke dalam rumah.
"Tuan Besar." Ketiga maid itu menunduk sebagai bentuk penghormatan.
__ADS_1
"Iya, iya, saya mau langsung ke belakang saja." Varrel melangkah dengan lebar agar ia segera sampai ke tujuan utama, di mana party garden digelar.
Melihat pria tua yang sangat bersemangat itu sudah hadir, semua tamu langsung berdiri. Hari ini, Varrel pun tak perlu ke kantor lagi. Ia sudah memempercayalan kepada Frederic untuk mengurus segala pekerjaan di Varrel Grup.
Sementara dirinya, sebagai presdir cukup memantau kinerja putranya itu dari rumah saja. Jika ia ingin bekerja pun bisa langsung mendatangi kantor Frederic.
"Duduk saja!" titah Varrel setelah menjabat tangan para direktur yang hadir.
Kemudian, para manager pun menyusul kedatangan Varrel Pratama. Semua sangat takjub dengan pesta kecil-kecilan untuk merayakan pengangkatan CEO baru mereka.
Setelah semua berkumpul, Frederic langsung maju ke panggung kecil. Ia memberikan sepatah-dua kata untuk para tamu undangan.
"Selamat sore semuanya. Hari ini, saya mensyukuri apapun yang sudah diberikan Tuhan pada hidup saya. Saya juga berterima kasih pada ayah saya tercinta, Varrel Pratama telah memberikan jabatan ini." Frederic menunjuk ke arah Varrel dengan telapak tangan.
"Kemudian, saya juga ingin memperkenalkan istri saya satu-satunya. Ehm ... iya, satu-satunya karena tidak akan ada yang kedua maupun ketiga hahaha," canda Frederic.
"Berdiri, sayang," titah Frederic menunjuk ke arah Leticia.
"Setelah saya diangkat sebagai CEO baru, saya harap para bapak direktur dan manager tidak segan menegur saya, apabila saya berbuat kesalahan. Kita mulai mengembangkan perusahaan ini dengan semua kemampuan kita." Frederic berteriak menggebu-gebu.
"Di masing-masing meja, sudah tersedia minuman untuk kita bersulang hari ini. Silahkan dibuka, dituangkan ke dalam gelas masing-masing."
Semua tamu undangan langsung mengikuti perintah Frederic. Lalu, mereka mengangkat gelas masing-masing, Frederic pun berteriak.
"Bersulang untuk perayaan hari ini." Frederic juga memegang gelas yang diberikan oleh Leticia lima menit yang lalu. Mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu menengguknya serta langsung menghabiskan.
"Silahkan dinikmati sajian malam ini." Frederic pun turun dari panggung mini itu.
Digantikan oleh pengisi suara, seorang penyanyi menghibur tamu undangan dengan suara indahnya.
Orang-orang bergantian mengantri di prasmanan. mengambil sajian yang disiapkan oleh para pelayan. Beberapa orang juga sibuk mengambil dessert.
Makanan yang enak serta dessert yang manis dan segar membuat para direktur dan manager memuji kinerja Leticia.
__ADS_1
"Beruntung sekali bapak memiliki istri seperti, bu Leticia. Sudah cantik, pintar bahkan sangat telaten untuk mempersiapkan acara ini." Salah satu direktur yang semeja dengan Frederic, Varrel dan Leticia, memuji.
"Hahaha! Itulah kelebihan menantu saya, baru saya katakan kemarin untuk mengadakan party garden, dalam sehari dia sudah menyiapkannya. Tak disangka, acaranya pun semewah ini," seloroh Varrel dengan bangga.
"Iya, pak, pantas saja bapak pintar memilih menantu seperti bu Leticia," balas direktur lain.
"Ayo, ayo, dimakan yang banyak! Semuanya harus kalian coba!"
Khusus untuk tamu undangan yang dimeja Frederic, para pelayan mengantarkan seluruh makanan dan dessert. Ketiga maid lah yang mengerjakan itu, dengan seragam maid berwarna hitam, bercelemek putih, mereka mengantarkan makanan ke kursi tuan besar mereka.
Leticia yang meminta agar maid itu berperan sebagai waiters saat briefing sebelum acara dimulai.
Saat hari mulai gelap, matahari tenggelam, kala memasuki senja. Dei langsung menyalakan lampu hias sesuai perintah Leticia.
Perubahan lampu untuk menyinari pesta itu pun membuat para tamu cukup terkejut. Pemandangan yang indah dari sinar lampu cukup menakjubkan.
Ditambah adanya kejutan kembang api, membuat mereka semakin heboh. "Wawww!" teriak seorang manager.
Varrel dan Frederic pun tak menyangka, acara itu benar-benar dibuat sebaik mungkin. Dipersiapkan dengan matang. Semua tamu undangan menyaksikan kembang api yang terlempar ke langit-langit.
Bintang-bintang dilangit pun dihiasi dengan gemerlapnya percikan kembang api. Sembari menikmati sajian, mereka menonton pesta kembang api malam itu.
"Bagus sekali, terima kasih," bisik Frederic di samping Leticia.
Perempuan itu hanya tersenyum tipis saat suami kontraknya tengah memuji.
"Bagaimana kamu mempersiapkan semua ini?" Frederic kembali melontarkan pertanyaan dengan berbisik, ia tidak ingin mengganggu momen orang-orang yang sedang menyaksikan kembang api tersebut.
"Nanti saja ngobrolnya, nikmati dulu pestanya," kilah Leticia, mendongak ke atas, melihat kembang api yang terus-menerus menembak ke langit-langit.
Tepat pada pukul 8 malam, pesta itu berakhir. Para tamu undangan langsung berpamitan serta berterima kasih atas undangan pesta tersebut.
Tak sedikit yang memuji acara yang mewah berbalut kesederhanaan tersebut. Frederic bahkan sangat bangga pada istrinya sendiri, ia juga tak menyangka kalau acaranya bisa seperfect itu.
__ADS_1