Pemuas Hasrat Tuan Eric

Pemuas Hasrat Tuan Eric
bab48


__ADS_3

Meski keluarga Leticia mendesak agar Marks mengaku tetapi anak itu tetap bungkam dan merasa percaya diri bahwa ia akan lolos kali ini dari jeratan hukuman pihak sekolah. Namun, nyatanya hal itu tidak akan pernah terjadi walaupun Papanya Marks sebagai donatur terbesar di sekolah mereka.


Sebab, Eric sudah memiliki siasat lain untuk menyingkirkan anak jahat seperti Marks.


"Jadi bagaimana, kamu mau mengakuinya atau tidak?" serang Eric seraya menatap tajam wajah Marks.


Entah menhapa, Marks tetap memilih diam sembari mengepalkan tangan secara sembunyi-sembunyi. Ia tetap memberikan sumpah serapah pada Fano dan bersumpah akan kembali mengeroyok tubuh Fano jika nantinya bisa lolos dari hukuman saat ini.


"Saya tetap ingin menunggu kedua orang tua saya sampai datang!" imbuh Marks, dengan keyakinan yang penuh.


Marks berharap,sang papa akan segera tiba di sini. Mengkngay jika menyangkut permasahan dirinya, tentu saja sang papa akan bertindak cepat karena ia adalah anak semata wayang. Meskipun sang Papa sudah menikah lagi dengan perempuan lain tapi ia tidak memiliki anak lain karena perempuan seorang perempuan mandul.


Benar saja dugaan Marks, setelah menunggu hingga 10 menit lamanya, sang papa dan ibu tirinya sudah tiba di sekolahan. Seorang pria terlihat sangat bengis, bahkan ia ingin membela anaknya walau ia tahu bahwa pihak sekolah sudah menyampaikan kalau anaknya telah berbuat pembullyan.


"Mana anak yang ngaku-ngaku di bully oleh anak saya?" sambar Papa Marks, diambang batas pintu dengan berteriak dan semua orang langsung menoleh pada pria itu termasuk Leticia dan Eric.


"Sa–saya, Pak!" jawan Fano dengan suara sedikit bergetar.


Ia mulai takut melihat wajah bengis Papanya Marks, apalagi pria itu bersikap seolah-olah sangat berkuasa.


"Berani sekali kamu mengadukan pada pihak sekolah kalau anak saya yang membully kamu," kecam Papa Marks, sembari memberikan tatapan yang sangat tajam, ia tidak tahu dan tidak menyangka kalau sebenarnya ada sososk pria yang berada di sana yang menjadi lawannya.


Sejak tadi, Eric sudah menatapnya dengan sangat tajam tapi pria itu tak mendelik sedikitpun ke wajah Eric.

__ADS_1


"Kamu diam saja!" titah Leticia pada adiknya, agar Eric yang mengambil alih pembicaraan tersebut.


"Beraninya anda membentak anak kecil di sini, bicara dengan saya karena sata adalah Wali dari anak ini!" papar Eric dengan suara lantang sembari menatap pria dengan tajam.


"Siapa anda? Berani sekali anda ingin mewakili anak itu!" hardik Papa Marks.


"Saya kakak iparnya, anak itu adalah seorang anak yatim piatu. Apa salahnya saya yang menjadi walinya!" balas Eric.


"Ada-ada saja, anak yatim piatu seperti ini berani-beraninya membuka mulut! Kamu akan saya keluarkan dari sekolah ini," ancam Papanya Marks.


"Loh siapa anda, kenapa Anda berani sekali bicara seperti itu? Memangnya anda pemimpin negeri ini sampai anda yakin bisa mengeluarkan adik ipar saya dari sekolah ini?" tampik Eric seraya menatap sinis pria itu.


"Apa kamu tidak tahu kalau saya di sini adalah donatur paling besar!" beber pria itu dengan angkuh.


"I–iya, Pak, Papanya Marks itu adalah donatur terbesar di sekolah ini, lebih baik ini diselesaikan secara damai saja," pinta Kepala Sekolah yang merasa khawatir dengan kasus yang semakin besar-besarkan.


"Kalian sudah gila, anak sejahat ini masih ingin kalian pertahankan apalagi mau berdamai! Saya tidak akan membiarkannya!" desah Eric, sembari mengeluarkan nafas kasarnya.


"Jadi anda mau apa sekarang? Jangan sampai persoalan ini menyebar ke seluruh sekolahan bahkan anak saya bisa dicap sebagai seorang pembully padahal nyatanya tidak," kilah pria itu.


Eric mengulurkan tangan pada Leticia, saat itu istrinya tampak bingung dan akhirnya dia tersadar bahwa Eric yang meminta hasil sistem yang dipegangnya sejak tadi. Ia pun menyerahkannya pada Eric, meraihnya lalu membuka amplop itu dengan mengeluarkan hasil visum dan menyampaikannya pada gurus seluruh.


"Saya tidak mau tahu, ini adalah hasil visum Fano, memang dia mendapat kekerasan di sekolah ini. Bahkan bukan kemarin saja yang pertama kali terjadi tapi Marks sudah berkali-kali melakukan tindak kekerasan pada Fano dan anak lain. Jika kalian tetap bersikuku ingin mempertahankan Marks di sekolah ini, saya yang akan menuntut pihak sekolahan termasuk memenjarakan pelaku bullying.

__ADS_1


Saat itu, Marks seakan tak berkutik, ia terdiam dan sejenak berpikir tindakan apa yang dilakukannya, bahkan pria yang dihadapannya kini sepertinya bukan orang yang bisa dipermainkan ataupun bisa diajak berdamai.


"Halah ... siapa yang tahu sih kalau anak saya yang melakukan pembullyan pada adik kamu," sergah Papa Marks.


Oh ... ya! Saya hampir lupa, Di sini juga ada sidik jarinya yang 100% benar-benar dia!" jelas Eric.


Seketika mulut Papanya Marks terdiam kaku bahkan terasa tak berani lagi menjawab pernyataan dari Eric. Sebab, papa Markstakut anaknya akan segera masuk ke dalam jeruji besi. Oleh karena itu, Papa Marks memilih bernegosiasi dengan Eric untuk mempertahankan Marks agar tetap bisa bersekolah.


"Baiklah sekarang apa mau kalian saya? Intinya kalau saya ingin berdamai tapi saya ingin anak saya tidak sampai dikeluarkan dari sekolah. Bagaimanapun saya adalah donatur terbesar di sekolah ini, jika Marks sampai dikeluarkan maka saya akan mencabut semua donasi yang diberikan ke sekolah ini," ancam Papa Marks.


Kepala Sekolah beranjak, ia membujuk agar anaknya .segera berdamai karena mereka juga tak ingin kehilangan dana yang besar untuk perkembangan sekolah.


"Bagaimana, Pak Eric sebaiknya kita selesaikan persoalannya secara baik-baik," tutur kepala sekolah menengahi perdebatan antara Eric dan Papa Marks.


"Sejak awal sudah ditegaskan kalau saya tidak mau berdamai. Bagaimanapun saya tetap anak ini dikeluarkan ujar Eric.


Tak berhenti sampai situ Marks menunjukkan keasliannya yang brrsikap angkuh. Ia mengeluarkan segepok uang dan melemparkannya pada Eric, sontak saja hal itu membuat Eric tertawa terbahak-bahak karena ia tampak disepelekan.


"Uang untuk mengobati luka anak itu. Satu lagi, jangan pernah lagi mengungkit masalah ini!" tegah Papa Marks, sembari berdecak karena papa Marks menganggap Eric adalah orang yang bisa diremehkan.


Eric pun bertepuk tangan. Bahkan tak sudi rasanya ingin mengambil segepok uang yang berada di depan kakinya. Uang seperti itu malah dianggapnya sebagai recehan karena di uang itu bahkan hanya secuil dari kekayaannya.


"Saya ingin menanyakan sekali lagi kepada Marks, apa dia memang benar melakukan pembullyan dan siapa saja komplotannya?" cecar Eric seraya menatap tajam wajah Marksz

__ADS_1


"Nggak, Pa! Mana mungkin Marks berani melakukan hal seburuk," kata Marks dengan nada yang sangat lembut. Ia bahkan mengelabui orang dewasa yang ada di sana.


__ADS_2