
Setelah semua tamu undangan bubar, Mertua Leticia—Varrel Pratama tetap masih berada di rumah itu. Berkali-kali ia memuji hasil kinerja Leticia.
Dekor yang cantik, makanan yang enak, minuman alkohol dengan konsep self service, dessert yang menyegarkan, semuanya mendapatkan pujian bertubi-tubi.
"Hahaha!" Di ruang tamu, Varrel bertepuk tangan meriah, tertawa terbahak-bahak lantaran banyak tamu yang memuji acara hari ini.
"Leticia kamu memang pantas menjadi istri Frederic! Selain parasmu cantik, penampilanmu sederhana tapi otakmu cerdas," puji Varrel terang-terangan.
"Kenapa ayah berkata seperti itu?" tanya Frederic menatap sang ayah dengan datar.
"Ya, kenyataannya memang seperti itu. Lihat tadi? Banyak yang memuji istrimu. Luar biasa pintar, bisa ia menyiapkan acara sempurna hanya dalam sehari." Varrel pun mengeluarkan suara keras gelak tawanya.
"Iya sih, memang banyak sekali yang memuji. Kamu pintar Cia." Frederic mengangkat kedua jempolnya ke arah Leticia.
"Lain kali, kalau kita mengadakan acara, kita serahkan pada Leticia! Kalau begitu, ayah pamit dulu."
Leticia dan Frederic bergantian mencium punggung tangan pria paruh baya itu. Ia berlalu begitu saja tanpa diantarkan oleh kedua pasutri itu.
Itulah kebiasaan Varrel, datang sesukanya, pergi pun sesukanya. Bahkan, ia tak menyukai bila anak dan menantunya mengantarkan dirinya bahkan melambai-lambai seakan-akan pergi jauh dan tak kembali lagi.
Sementara itu, Frederic dan Leticia langsung masuk ke kamar. Semenjak acara digelar, Fano dan Fani pun berdiam diri di kamar berdasarkan perintah Leticia.
Ia tak ingin, Fani dan Fano berlalu lalang di sekitar acara. Namun, kalau hanya untuk sekitar rumah, Fani dan Fano diperbolehkan kemana pun yang mereka mau. Sebab, para tamu tak akan memasuki rumah mereka.
Sebelum naik ke atas, Leticia meminta agar kedua adik kembarnya itu makan malam berdua. Dia dan Frederic sudah makan sepanjang acara.
Tok ... Tok ...
"Fan, kamu sudah makan?" tanya Leticia di kamar Fani.
"Sudah mbak tadi. Disiapkan sama mbak Dei," balas Fani.
"Kalau Fano kamu ajak makan nggak?" Leticia menanti jawaban adiknya itu.
__ADS_1
"Sudah juga mbak! Makanannya enak-enak semua. Itu makanan sama diacara juga?" tanya Fani.
"Iya, sama kok! Mbak minta mbak Dei menyisihkan tadi sore. Biar kalian berdua tidak kelaparan. Soalnya acaranya cukup lama. Kalau begitu, mbak pamit dulu ke kamar."
Leticia langsung melangkah gontai, menaiki anak tangga. Frederic sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar. Mengganti bajunya dengan sepasang baju tidur.
Leticia langsung menghapus make up, mencuci muka, serta mengganti dressnya dengan piyama di kamar mandi.
Setelah selesai, ia menghempaskan diri di atas ranjang sampai Frederic terbangun dari tidurnya karena guncangan dari tubuh Leticia. Pria itu baru saja memejamkan mata, langsung tertidur pulas karena kelelahan hari ini.
"Cia, aku tidur dulu. Besok harus berangkat pagi." Pria itu kembali memejamkan mata, lalu lelap dalam tidurnya.
Sementara, Leticia masih terjaga. Matanya tak bisa terpejam. Ia hanya bisa menatap langit-langit. Membolak-balikkan tubuhnya.
Entah mengapa, ia tak bisa tertidur malam itu. Leticia mencoba mendekati suami kontraknya, tangan pun ia bentangkan ke arah Frederic. Lalu memeluk pria itu, rasanya cukup menenangkan.
Tak terasa, Leticia tiba-tiba tertidur lelap sembari berada pada dekapan pria itu. Kebiasaan yang kerap ia lakukan setelah menikah.
Ia tak sadar masih dalam pelukan Frederic, memeluk pria itu begitu erat. Sementara, Frederic tampak tenang dalam tidurnya. Frederic juga tak sadar kalau Leticia ada dalam dekapan tubuhnya.
Frederic yang terbangun lebih dulu langsung tergagap melihat tubuhnya yang memeluk tubuh Leticia. Ia mengira, kalau dialah yang lebih dulu memeluk perempuan itu.
"Apa aku sembarangan memeluknya?" Frederic menatap wajah polos yang tengah tertidur pulas.
Lalu, ia menyeka anak rambut yang berantakan ditepian wajah Leticia. Wajah cantik itu menarik perhatiannya. Kemudian, saat Frederic mendekati wajahnya, tiba-tiba Leticia membuka matanya.
Mereka berdua saling tatap dan diam. Tak ada yang bergerak, keduanya sama-sama kaku saling menciduk satu sama lain.
Ketika sadar, Leticia langsung mendorong tubuh Frederic. Sontak saja, pria itu terkejut dengan dorongan mendadak dari wanita yang ada di hadapannya.
"Ma–maaf!" ucap Leticia langsung mendudukkan tubuhnya. Memalingkan wajah dari pria itu.
Frederic juga langsung salah tingkah. Ia terdiam kaku terbaring. Lalu, akhirnya dengan cueknya beranjak dari kasur. Ia berjalan gontai menuju kamar mandi tanpa menyapa Leticia.
__ADS_1
"Sial! Kenapa dia tiba-tiba membuka mata," umpat Frederic saat di kamar mandi.
Dengan cepat, Frederic langsung mandi. Di tempat tidur, Leticia masih merenung atas kejadian tadi. Ia takut ketahuan oleh Frederic, kalau dirinya lah yang memulai memeluk pria itu.
"Gimana kalau dia menyadarinya?" lirih Leticia, meremas kepalanya karena bertingkah bodoh.
Leticia langsung beranjak ke dapur. Sesuai permintaan Frederic, mulai hari ini, Leticia harus meluangkan waktu untuk menemani pria itu sarapan bahkan menyeduhkan kopi untuknya.
Saat Leticia turun ke bawah, Fani dan Fano tampak terkejut dengan kehadiran kakak tertua mereka. Sebab, selama tinggal di sini, mereka belum pernah melihat kakaknya itu sarapan pagi.
Kemarin, Fani dan Fano memang berangkat pagi buru-buru sebelum Leticia turun kebawah mengurus persiapan party garden. Sehingga kedua anak kembar itu tidak melihat kakaknya sudah bangun pagi.
"Pagi!" sapa Leticia pada Fani dan Fano yang sedang asik sarapan nasi goreng.
Ketiga maid langsung menunduk, menyambut nyonya mereka datang pagi itu.
"Loh, mbak tumben pagi-pagi sarapan?" tanya Fani dengan tatapan penuh selidik.
"Iya nih, biasanya nggak pernah sarapan pagi," timpal Fano menatap sinis ke kakak tertuanya.
"Mbak mau menemani masmu sarapan." Leticia menarik satu kursi, lalu duduk menyendoki nasi goreng ke dua piring. Satu untuk Frederic dan satu lagi untuk dirinya.
Setelah menyelesaikan tugasnya, ia menunggu sosok suami kontraknya itu turun ke bawah baru menyeduhkan kopi untuknya. Sebab, ia tak ingin kopi itu dingin saat diminum oleh Frederic.
"Mas!" sapa Fano setelah melihat pria berpakaian setelan jas menuruni anak tangga.
"Pagi, mas!" ucap Fani lantang.
Leticia langsung menoleh ke belakang, kemudian beranjak dari tempatnya. Ia menyeduhkan kopi panas untuk Frederic.
Ketiga maid di rumah itupun terdiam hanya menatap saat Leticia terlihat tengah melayani suaminya.
"Kerjakan saja pekerjaan kalian," cibir Leticia saat ketiga maid itu tengah menatap dirinya dengan tajam.
__ADS_1
"I–iya, nyonya," jawab Dei sembari tertunduk malu. Ketiga maid itupun bubar, mengerjakan tugas mereka masing-masing.
Leticia membawa satu gelas kopi untuk Frederic dengan hati-hati agar tak menumpahkannya. Lalu menyerahkan kopi itu pada Frederic.