
Eric bergegas menuju kamar mandi, sayangnya saat berada di dalam kamar mandi, ia menggerutu seorang diri karena pemandangan pagi ini adalah pemandangan yang sangat langka.
Bahkan pemandangan itu tidak pernah dia dapatkan sama sekali, barulah kali ini ia bisa mendapatkan pemandangan yang sangat dinanti-nantinya sejak dulu, hingga membuat matanya segar bugar.
Eric pun menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal ke lantai karena ia tak bisa langsung meluapkan hasratnya pada wanita itu. Karena wanita itu tengah tersadar.
Oleh karena itu ia pun merasa kesal di dalam kamar mandi, rasa kesalnya kembali meredam setelah mengingat wajah cantik Leticia pagi itu.
Waktu yang singkat bagi Eric unguk menyudahi pemandiannya, ia tak mau terlambat untuk menyaksikan sunrise dan jadwal liburannya berakhir dengan sia-sia. Oleh karena itu, ia bergegas keluar dari kamar mandi meski hanya mengenakan sehelai handuk, ia tak peduli walau Leticia akan menatapnya dengan tubuhnya, bahkan Eric dengan sengaja mempertontonkan pemandangan yang seperti ditunjukkan oleh Leticia saat tadi pagi.
Leticia yang tengah duduk di tepian ranjang sembari memegang ponse. Ia hanya melirik saat pria itu keluar dari dalam kamar mandi, kemudian Eric pun mendekati lemari serta membuka koper yang ada di sana. Ia tiba-tiba tak sengaja menjatuhkan handuk yang dipakainya, seketika membuat Leticia tampak berteriak histeris serta sekaligus memalingkan wajah dengan cepat.
"Tuan, handuk anda jatuh," teriak Leticia sembari malingkan wajahnya, namun Eric yang mendengar perkataan wanita itu tampak santai saja dan tak peduli.
"Astaga, sepertinya aku tidak sengaja menjatuhkannya," celetuk Eric dengan suara yang ada yang datar.
Ia pun tersenyum penuh kemenangan seakan-akan menyadarkan Leticia dengan tindakannya tadi pagi.
"Hah ... apa dia sengaja menjatuhkan handuknya? Itu dia lakukan untuk menyinggung tindakanku tadi pagi? Ah, apa dia benar-benar tahu kalau aku tadi pagi memakai baju di depannya?" kata Leticia membatin, seraya mengernyitkan kedua alisnya.
Leticia semakin yakin kalau ternyata laki-laki itu sempat menatap tubuhnya tanpa terbalut sehelai benang pun, sontak membuat Leticia menggerutu dan ia merasa merutukki kebodohannya.
"Sial ... apa benar Tuan Eric memperhatikanku sejak tadi, jadi dia sengaja pura-pura tertidur gitu?" gerutu Leticia seraya bergumam dengan kesal.
"Ah ... tapi rasanya tidak mungkin kalau dia benar-benar melihatku telanjang," ungkap Leticia lagi.
__ADS_1
Saat Leticia larut dalam pikirannya ternyata Eric sudah selesai mengenakan pakaian kasual, ia pun berjalan dengan rasa bangga dengan kepala terangkat karena merasa menang kali ini.
Pagi ini, Eric mengenakan kaos oblong serta celana pendek. Penampilannya sangat sederhana tetapi memperlihatkan tubuhnya yang gagah hingfa membuat air liur Leticia seakan-akan ingin tumpah karena pria itu terlihat sangat tampan.
"Ayo, berangkat nanti kita malah terlambat lagi," ajak Eric, lalu mendekati Leticia dan menarik dengan istrinya setelah menghampiri dengan jarak yang dekat.
Sedangkan Leticia hanya bisa menurut saja apapun yang dilakukan oleh pria itu, ia hanya bisa diam dan pasrah mengikuti semua apapun yang diinginkan oleh Eric. Mereka berdua berjalan beriringan dengan tangan yang saling bergandengan hingga membuat Leticia tampak kaku dan kebingungan.
Namun, entah mengapa Leticia merasa tidak bisa protes kalau tangannya masih berada di dalam genggaman pria itu. Ia akhirnya hanya bisa pasrah dan diam saja. Disisi lain, entah mengapa dia menikmati genggaman tangan yang diberikan pria itu karena terasa menghangatkan baginya.
"Apa kamu sudah menghubungi adik-adikmu atau mengirimkan mereka pesan? Khawatir kalau mereka jam segini belum terbangun," timpal Eric, lalu menoleh dan menatap wajah istrinya.
Bahkan, ia pura-pura tak sadar kalau tangannya masih menggenggam erat tangan istrinya padahal sebenarnya ia sangat sadar sekali dan sengaja melakukan hal itu.
"Sudah, Tuan saat kamu tadi dalam kamar mandi, aku sudah langsung menghubungi kedua adik-adikku. Mereka sudah terbangun kok," jawab Leticia dengan lugas.
"Tuan, sekarang mereka sedang menunggu di lobby," seru Leticia, saat menoleh pada suaminya, kedua manik mereka saling beradu dan bertatapan.
"Baguslah jadi kita tidak perlu lagi membangunkan mereka," jawab Eric dengan santai.
Leticia pun mengangguk, lalu mempercepat jalannya bersama dengan Eric. Keduanya segera melenggang menuju lobby hotel, saat sudah semakin mendekat, ketiga orang yang menunggu mereka langsung berdiri menyambut kedatangan pasutri itu.
"Pagi, Mas, Mbak!" sapa Fano dengan senyum sumringah.
"Pagi, Mas, Mbak! Ayo, kita berangkat!" ajak Fani dengan semangat menggebu-gebu.
__ADS_1
Sementara itu, supir mereka segera berlari menuju perparkiran, ia menyalakan mesin mobil, dan membawanya ke depan lobby hotel agar tuannya tidak perlu berjalan kaki cukup jauh menuju perparkiran.
"Ayo, pak supir sudah menunggu tuh!" kata Eric, seraya menatap tajam ke arah luar hotel.
Keluarga kecil itu bergegas menuju halaman hotel, sang sopir membukakan pintu untuk seluruh orang, ia sengaja turun dan membukakan pintu di kursi penumpang.
"Ke pantai depan aja, Pak!" pinta Eric, karena ia tak mau jauh-jauh melalui perjalanan yang panjang, lantaran di depan hotel ada sebuah pantai yang indah.
"Siap, Tuan!" jawab Supir, lalu melajukan mobil itu dengan cepat.
Hanya butuh waktu lima menit, mereka sudah tiba di pantai. Eric membawa Leticia ke bibir pantai, sedangkan Fani dan Fano menikmati siuran angin pantai yang sejuk.
Saudara kembar itu berlari-lari di tepi pantai sembari menunggu matahari terbit. Sementara, pantai sangat sepi, hanya terlihat satu keluarga itu saja. Suasana benar-benar syahdu dan sejuk dengan angin yang bersiur-siur dengan kencangnya.
Lima menit kemudian, matahari tiba-tiba muncul, sinarnya mulai menerangi wajah mereka. Kini, semakin lama matahari semakin meninggi hingga membuat hawa semakin menghangat.
Eric melirik wajah istrinya, saat itu Leticia pun tersenyum dengan lebar menyaksikan matahari terbit dari barat. Ia juga menikmati terik matahari yang semakin menukik tajam.
Eric sengaja memegang pundak istrinya, dengan alasan untuk memperlihatkan kemesraan antara mereka sebagai sepasang suami istri.
"Tuan, mengapa anda memelukku?" bisik Leticia, saat jarak mereka telah terkikis.
"Ssst ... diam saja, supaya orang-orang tidak curiga kalau kita sepasang suami istri kontrak," kilah Eric seraya berbisik.
Nyatanya, Eric ingin menikmati pelukan hangat dari istrinya dengan pemandangan indah pagi ini. Sementara Fano dan Fano sedang asik menikmati air pantai di bibir pantai. Keduanya saling menyipratkan air asin ke wajah satu sama lain.
__ADS_1
Eric mengedarkan pandangan, sejak matahari terbit sudah banyak wisatawan yang mulai berbondong-bondong datang ke pantai. Mereka juga ingin menikmati keindahan pantai yang ada di sana.
yuhu ... yuk dong bantu supportnya, klik like, komentar untk tinggalin jejak, serta kasih vote utk karya ini, jgn lupa hadiahnya!! biar othor semangat update nih,, abisnya pada sepi ga kasih support jadi agak malas mau update huhu!!