
Leticia ternyata tak tahan dengan alkohol. Kepalanya seolah berputar-putar. Untung saja ia sudah mengenyangkan perutnya.
"Kepalaku pusing! Aku ingin kembali ke kamar, Tuan!" racau Leticia.
Frederic ternyata meneguk beberapa gelas wine. Ia juga mulai merasa pusing. Tapi masih sempat memboyong istrinya ke kamar.
Dihempaskannya tubuh leticia diatas ranjang. Tanpa berganti pakaian, keduanya tidur berdampingan. Namun semakin tak sadarkan diri, Frederic justru memeluk Leticia.
Sama halnya dengan Leticia, ia merasa hangat menerima pelukan suaminya. Frederic mulai mencium istrinya dan disambut dengan kecupan yang semakin dalam dan lama oleh Leticia meskipun ia tengah tak sadarkan diri.
Leticia terbangun dari tidur, posisinya yang tengah memeluk Frederic membuatnya kaget ketika terbangun. Ia perlahan melepaskan pelukan erat dari Frederic secara diam-diam agar tak membangunkan suaminya dari tidurnya.
Usahanya berhasil, Leticia bergegas mandi dan merapihkan barang-barang. Ia tak sadar apa yang terjadi tadi malam. Sehingga ia tidur dalam keadaan memeluk suaminya.
Kepalanya masih terasa pusing sisa alkohol yang diteguk tadi malam. "Mengapa itu bisa terjadi? kalau ketahuan Tuan Eric bagaimana? bisa-bisanya aku peluk dia! Jangan sampai tahu!" batin Leticia menggerutu.
Frederic sebenarnya sudah bangun dari tadi. Ia tak ingin membangunkan Leticia yang masih tidur dengan nyenyak. Bahkan ia juga sengaja tak melepaskan pelukan hangat dari istrinya itu. Ketika Leticia belum bangun, bahkan ia sempat memperhatikan wajahnya.
__ADS_1
Frederic melihat dengan teliti. Saat bangun Leticia tampak sederhana tapi memancarkan wajah cantik. Frederic mulai merasakan benih-benih cinta dari istrinya itu. Ia semakin takut kalau sewaktu-waktu Frederic akan jatuh cinta bener-benar pada Leticia.
Bahkan, Frederic sempat mengelus-elus pucuk rambut Leticia yang tampak acak-acakan. Melihat istrinya mulai bergerak, ia segera berpura-pura menutup matanya seolah-olah belum bangun.
Frederic juga tertawa dalam batinnya dengan tingkah Leticia yang melepaskan pelukan secara diam-diam. Dia juga tak ingin membuat Leticia merasa malu dengan kejadian pagi ini.
Leticia keluar dari kamar mandi dengan wajah memerah. Betapa ia kaget, ketika keluar sudah mendapati tatapan tajam Frederic yang masih bersantai diatas kasur.
"Apa dia merasa memelukku. Mengapa tatapannya tajam sekali," batin Leticia.
Frederic mulai beranjak dari kasur dan segera masuk ke kamar mandi. Tanpa mengucap sepatah kata, ia melewati tubuh Leticia begitu saja seolah-olah cuek, tidak ada yang pernah terjadi.
Hanya Leticia yang tak memiliki ingatan tentang ciuman itu. Dia hanya sadar memeluk Frederic saat tidur.
"Yuk kita berangkat!" ajak Frederic, sembari mengangkat barang-barang miliknya dan milik Leticia.
Leticia mengangguk, membiarkan barang-barangnya dibawa oleh suaminya. Mereka melangkahkan kaki menuju lobi Hotel.
__ADS_1
Dengan sigap, Leticia melakukan chek out ke resepsionis hotel dan menyerahkan kunci kamar mereka. Sementara Frederic menunggu di sofa panjang lobi Hotel.
Kemudian, supir antar jemput bandara bagian fasilitas dari hotel sudah menunggu Frederic dan Leticia. Ia mengambil barang-barang dari lobi dan memasukkan ke bagasi mobil.
Habis sudah waktu liburan Leticia dan Frederic. Saatnya mereka kembali ke rumah untuk segala aktivitas pekerjaan yang akan mereka lanjutkan.
Didalam mobil tidak ada pembicaraan, sepanjang jalan terasa hening hingga tiba di Bandara pun mereka terasa canggung. Satu setengah jam berada di dalam pesawat, keduanya tetap mengunci mulut.
Leticia takut kalau Frederic tahu bahwa ia semalaman memeluk tubuhnya. Kemudian, Pramugari pesawat menawarkan makanan untuk sarapan pagi sehingga membuyarkan lamunan keduanya. Apalagi, Leticia dan Frederic sudah tak sempat untuk sarapan sebelum meninggalkan hotel sehingga sepanjang perjalanan mereka kelaparan.
"Selamat pagi, Tuan, Nyonyab, apa mau sarapan ?" tanya pramugari yang tatapan tertuju pada Frederic dan Letista.
Dengan serentak dan bersamaan mereka mengatakan "Mau".
Dengan malu-malu Frederic dan Leticia saling bertatap-tatapan. Mereka pun diberikan sarapan oleh pramugari. Perjalanan panjang hingga sampai di rumah membuat Leticia dan Frederic lelah. Mereka membiarkan barang-barang mereka yang berisi baju kotor untuk dibersihkan oleh para maid.
Baru saja merebahkan diri diatas ranjang. Tiba-tiba bel rumah berbunyi. "Siapa sih yang datang! Baru saja sampai rumah. Nggak tahu apa badan remuk dan capek," keluh Frederic yang membiarkan bunyi bel tersebut agak lama.
__ADS_1
"Sudah kamu tidur saja, Tuan. Biarkan para maid yang membukakannya. Aku saja malas mau turun dari kasur," celetuk Leticia dengan malas.
Salah satu maid, segera keluar dan membuka daun pintu. Sosok pria yang tua dengan senyum simpulnya berada di depan pintu. Ya, dia mertua Leticia, Varrel Pratama yang penasaran akan perjalanan honeymoon anak dan menantunya.