Pemuas Hasrat Tuan Eric

Pemuas Hasrat Tuan Eric
bab80


__ADS_3

"Mbak, kalau mas Eric nggak setuju bagaimana?" sela Fani seraya kembali menatap ponsel, ia mencari opsi lain untuk liburan mereka kali ini.


"Ya, juga sih kayaknya terlalu berat ya untuk melakukan pendakian di sebuah gunung apalagi pasti mas Eric akan capek dan dia tidak mau merasa tertekan. Soalnya waktu liburan harus digunakan untuk refreshing, lebih baik kita mencari opsi lain saja untuk jaga-jaga," saran Leticia, sembari mengernyitkan kedua alisnya agar Fani mencari opsi lain untuk rencana liburan mereka.


"Kalau menurut aku sih, lebih baik kita ke pantai saja, Mbak kan lebih enak dan lebih seru juga kalau ke pantai, kita juga bisa menikmati pemandangan laut bahkan berenang di lautnya loh," sambar Fani antusiasi, dengan semangat yang menggebu-gebu.


"Iya sih ke pantai kayaknya lebih asik dan lebih seru," tambah Leticia, tampak berpikir, ia memikirkan ulang tentang rencana liburan yang mengarah ke pantai.


Entah mengapa pikiran Leticia serta saran dari Fani justru sepemikiran dengan apa yang diinginkan oleh Eric.


"Iya, Mbak enakan di pantai. Lagian kita masih bisa nginep di hotel kalau kita ke pantai atau mencari hotel di pinggiran pantai. Nah, kalau pantai yang terdekat di sini, kita bisa ke pantai yang ada di Banten atau yang ada di Sukabumi," ungkap Fani, karena ia baru menjelajahi dunia internet dan mencari tahu tentang pantai terdekat dari tempat tinggal mereka.


"Wah ... pokoknya cari jarak terdekat sajalah dari sini," sahut Leticia.


"Tapi bagaimana respon mas Eric, apa dia setuju untuk melakukan pendakian di Gunung," cecar Fani karena Leticia tadi sudah menyampaikan pada Fani kalau ia mengirimkan pesan untuk saran tentang rencana liburan mereka pada Eric.


Letica menatap ponsel tetapi tidak ada satupun notifikasi yang ada di layar pop ponsel tersebut. Akhirnya ia kembali menatap adiknya dengan menggelengkan kepala.


"Nggak ada tuh, Fan! Dia belum balas mungkin masih sibuk atau lagi di jalan," ucap Leticia dengan berpikiran positif.


"Yasudah, Mbak kalau begitu nanti kabari saja, pokoknya kasih saran ke Mas Eric ke pantai saja kalau dia menolak untuk melakukan pendakian," pinta Fani.

__ADS_1


"Oke, nanti aku akan menyampaikannya serta memberikan saran itu kepadanya. Kalau begitu kamu lebih baik belajar saja sana, sekarang banyak pelajaran yang tertinggal malah sok-sokan mau liburan!" omel Leticia dengan tatapan sinis.


"Hehehe ... wajar dong, Mbak kalau mau liburan. Soalnya kita sekeluarga tidak pernah liburan bersama, alhasil aku sangat menginginkannya, dan sudah semangat jika liburan itu terlaksana apalagi kini ada keluarga baru yang menggantikan Ibu yaitu mas Eric. Bahkan dia mampu untuk membiayai liburan kita," racau Fani dengan panjang lebar.


"Iya–ya, sudah sana, belajar dulu baru ngoceh-ngoceh," usir Leticia, lalu mendorong tubuh adiknya agar segera beranjak dari kursi.


"Mbak santai dong." Fani beranjak dengan rasa malas, ia pun berjalan menuju kamar.


Kemudian menutup pintunkamar itu dengan pelan, setelah berada di dalam ia memulai untuk membaca seluruh catatan yang diterimanya dari Fano karena ia memang sungguh-sungguh mau belajar dan memahami pelajaran yang tertinggal. Sehingga nantinya saat masuk sekolah Fani tetap mengerti mengenai lanjutan penjelasan dari para guru.


***


Mereka menyebarkan rumor kalau ternyata suami dari kakak kandung Fano adalah orang terpandang dan orang yang memiliki kekayaan yang fantastis.


Tak heran, jika para pria mendekati dan berkerumun untuk mendekati Fano. Bahkan, tidak hanya dari kalangan pria saja tetapi juga para wanita mulai melirik Fano karena dia pun memiliki wajah yang tampan sehingga para wanita terutama teman-teman sekelasnya mulai mencari perhatian agar dilirik oleh Fano.


Di dalam kelas, teman perempuan Fano tengah berbisik-bisik, mereka membicarakan ketampanan dan kepolosan Fano.


"Semenjak si Marks keluar dari sekolah ini, kayaknya Fano sudah merasa kega deh. Apalagi dia sekarang di gadang-gadang sebagai penggantinya si Marks," ucap seorang anak.


"Ya, nggak lo lihat tuh anak-anak pada ngumpul pengen deketin dia. Kemungkinan dia jadi ketua geng di kelas," kata temannya yang lain.

__ADS_1


"Eh ... asli kalau gue pasti mau sih kalau diajak pacaran sama dia. Siapa yang menolak,orang wajah dia juga ganteng begitu, hanya saja kemarin kita takut mendekati dia karena Marks yang mengancam kita dan tidak boleh ada salah satu orang pun yang boleh menemani Fano," ungkap anak yang lain.


"Lo tau nggak yang paling parahnya lagi, gosip yang beredar kalau ternyata Fano itu anak orang kaya. Eh ... bukan anak orang kaya sih, tepatnya adik orang kaya sehingga keluarganya terangkat dari jeratan kemiskinan," papar teman yang lain.


"Yang bener lo, dapat kabar dari mana gosip kayak gitu?" cecar anak perempuan yang cukup cantik.


"Serius! Lo tau nggak Kalau ternyata gosip yang beredar itu malah diungkapkan dari salah satu guru makanya semua satu sekolah gempar setelah mengetahui kalau keluarga Fano menjadi keluarga yang kaya raya!" balas temannya yang lain.


"Waduh ... kalau begitu Fano sebenarnya orang kaya baru dong?" imbuh anak yang lain.


"Mending lo dekatin dia gih. Siapa tahu lo bisa kecantolan dan kecipratan kekayaannya," kekeh seorang wanita.


"Iya, kalau bisa pacaran sama anak orang kaya seperti itu. Wah ... kayaknya ada peluang untuk kita!" seru anak perempuan yang cukup cantik.


"Ada dong peluang untuk kita, masa nggak ada sih, nggak mungkin dari seluruh banyaknya perempuan yang ada di sekolah ini, tidak ada satupun yang bisa meraih hati Fano!" sergah temannya yang lain.


Sedangkan Fano sudah mulai mengakrabkan diri dengan teman-teman lelakinya. Bahkan mereka bergurau bercanda dan tertawa terbahak-bahak sebelum guru tiba di dalam kelas. Tak berselang lama,!seorang guru pun masuk ke dalam kelas. Suara riuh ricuh di dalam kelas pun seketika menghening.


Semua siswa duduk dengan rapi di kursi belajar, sementara anak-anak lain langsung berlari ke kursi masing-masing.


"Hari ini kita adakan kuis!" ucap wali kelas Fanonyang saat itu setengah mengajar di dalam kelas.

__ADS_1


__ADS_2