
Sementara Eric, di saat orang-orang sedang tertidur pulas, dia justru terus saja larut dalam sentuhannya, membuat Leticia bergidik ngeri dan menikmati sentuhan itu.
Sekujur tubuhnya meremang, bahkan dia menikmati sentuhan yang diberikan oleh suaminya dengan menggigit bibir bawahnya dengan lembut seraya mengerang dengan suara yang pelan, beruntung rintihan suara itu tak berhasil membangunkan orang-orang yang ada di dalam mobil tersebut.
Namun rasa deg-degan mengacu di dalam dada Eric, lantaran perempuan itu tengah menikmati sentuhan darinya dengan rintihan yang cukup terdengar ke telinga.
"Sial ... kenapa dia merintih sih," gerutu Eric seraya masih saja meremass sepasang gunung kembar itu dengan lembut.
Ia meremass secara perlahan-lahan hingga membuat Leticia semakin larut dalam sentuhan pria itu, namun akhirnya karena tak ingin ketahuan oleh yang lain serta membangunkan orang-orang yang ada di dalam mobil, Eric berakhir menyudahi permainan itu, ia mengeluarkan tangan dari dalam balik baju perempuan tersebut.
Entah mengapa Eric seakan tergiur untuk memasukkan tangan ke dalam balik celana istrinya, ia ingin memijat serta memegang benda kenyal sesuatu di bawah sana yang sangat intim milik perempuan itu.
Perlahan, tangan Eric mulai menjulur masuk ke dalam sebuah goa meski tak kelihatan secara kasat mata. Eric pun semakin dalam dan semakin lihai dengan tangan yang bergoyang bak tengah menari-nari di dalam goa tersebut.
Ia mengitari goa itu dengan lembut dan perlahan hingga membuat Leticia kembali merintih menikmati sentuhannya.
"Ah ... ah ..." desah Leticia dengan suara lembut dan pelan. Oleh karena itu Eric pun menjadi khawatir, ia langsung menarik tangan dengan sekejap, lalu menghentikan aksinya karena khawatir kalau Leticia benar-benar akan terbangun akibat sentuhan yang ia berikan.
***
"Ada apa mas?" tegur Fano dari belakang, seketika membuat Eric tampak terkejut meski ia telah mengeluarkan tangannya.
Ternyata Fano baru saja terbangun dari tidurnya, ia terganggu dengan suara rintihan yang keluar dari mulut sang kakak.
__ADS_1
"Nggak tahu, emang ada apaan?" sergah Eric seraya menoleh ke belakang, ia memastikan kalau Fano tak melihat aksinya saat beberapa menit yang lalu.
"Ituloh, aku seperti dengar suara rintihan, kayaknya berasal dari suara Mbak Leticia deh tapi kok dia tidur, ya?" seru Fano, melihat kakaknya dan ia melihat mata Leticia terpejam dengan erat.
"Hem ... mungkin dia sedang bermimpi," jawab Eric dengan asal, seraya menatap lekat wajah istrinya.
Entah mengapa jantung Eric beepacu dengan kencang, merasa degupan jantung itu bahkan tidak normal, ia takut bahwa aksinya akan ketahuan apalagi bisa disadari oleh Leticia.
Permainan Eric kali ini tak berlangsung cukup lama, sebab terlalu banyak gangguan. Jika ia melakukan sentuhan itu di dalam mobil apalagi banyak mata yang menjurus untuk melihat kelakuannya, justru ia akan terciduk oleh orang-orang di sana.
"Mungkin Mbak Leticia beneran bermimpi kali, soalnya dia memang benar-benar tidur, kalau gitu aku tidur lagi deh, Mas soalnya tadi aku merasa terganggu. Aku kira terjadi sesuatu," ungkap Fano, seraya mengucek kedua bola mata.
"Iya, tidur gih sana! Sebenarnya nggak ada apa-apa, Mas kan sedang terjaga karena tadi tiba-tiba juga terbangun sepertimu makanya tahu," ucap Eric, sesaat ia bernafas lega kalau ternyata Fano tak memergokinya.
"Oh itu untuk apa, Mas? Kenapa ada jaket yang menutup di sana?" cecar Fano, seraya menatap tajam wajah sang kakak ipar.
"Tadi saya kegerahan sehingga menggantungkannya di sana," balas Eric.
"Yaudah deh, kalau gitu aku mau tidur lagi. Mata udah terasa ngantuk berat nanti bangunkan saja kita, Mas kalau sudah tiba di Sukabumi," pinta Fano dengan sopan.
"Ya ... tidurlah yang nyenyak."
Fano pun kembali duduk di kursi tetapi entah mengapa rasanya ia seperti curiga pada Eric, apalagi mendengar suara desahann Leticia yang tampak aneh di telinganya, namun pikirannya kembali buyar saat rasa kantuk itu terus menyerang. Ia tak bisa lagi menahan rasa kantuknya dan segera menyipitkan kedua bola mata dan kembali tidur.
__ADS_1
Sementara itu, Eric akhirnya mengurungkan niat untuk melanjutkan tindakannya, memberikan sentuhan pada istrinya, sebab ia tak mau ketahuan dan terciduk secara massal oleh orang-orang yang ada di dalam mobil.
Tak berselang lama, Eric pun mengambil jaket dan memakainya kembali, sementara Leticia masih tetap saja pulas dalam tidurnya, namun ada rasa kesel di dalam benaknLeticia yang tengah tertidur. Entah mengapa rasanya ia ingin mendapatkan sentuhan yang tadi sempat ia rasakan walau hanya dalam sekejap.
Leticia lagi-lagi seolah bermimpi, ia kembali disentuh seseorang yang sangat dia idamkan. Oleh karena itu, entah mengapa ia selalu menginginkan sentuhan itu karena terasa nikmat baginya, andai saja Leticia tahu bahwa orang yang menyentuhnya adalah suaminya sendiri pasti tentunya ia akan merasa ketagihan dan memintanya secara terang-terangan.
Sayangnya, itu semua ditutupi oleh Eric, lantaran Eric menganggapnya sekarang ini hanyalah sebagai perempuan pemuas hasratnya yang terpendam selama ini. Meski pada akhirnya Eric juga memendam perasaan pada istri kontraknya, perlahan-lahan ia mulai jatuh hati pada perempuan itu, apalagi kebersamaan mereka dan setiap sentuhan yang diberikan oleh Eric membuatnya terasa candu dan semakin ketagihan. Rasanya enggan untuk melepaskan perempuan itu.
Eric memejamkan kedua bola mata, lalu ia kembali tidur dan sebelumnya ia sudah memperingatkan sopir untuk berjalan dengan hati-hati agar tiba di tempat tujuan dengan selamat. Oleh karena itu, dia pun tertidur lagi karena sudah gagal untuk bersentuhan dengan istri kontraknya, lebih baik ia mengurungkan hasrat dan menikmati tidur malam ini.
Saat tiba di Sukabumi nanti, ia pun akan kembali terjaga untuk melakukan aksi sesuai dengan rencana. Meski kini ia tertidur dengan rasa yang mengecewakan, Eric tetap saja tertidur dan akhirnya dia semakin pulas dan larut dalam tidur itu.
Beberapa jam berlalu, di dalam perjalanan karena jalanan lenggang dan tidak macet sama sekali, akhirnya supir berhasil membawa satu keluarga kecil itu tepat selama 4 jam perjalanan dan kini mereka tiba di Sukabumi.
Supir membangunkan semua orang yang ada dalam mobil, kini mereka sudah berada di halaman parkiran Hotel Mutiara karena Eric sudah memesankan hotel tersebut untuk penginapan malam ini dan penginapan esok hari.
"Nyonya, Tuan, kita sudah tiba," kata sopir membangunkan sepasang suami istri itu.
Sontak Leticia pun terbangun karena ia memang tak sulit untuk dibangunkan, lalu Leticia pun bergegas untuk membangunkan suaminya meski Eric terlihat sangat lelah dan mengantuk. Leticia juga membangunkan kedua adiknya agar mereka segera keluar dan membawa barang-barang menuju kamar hotel.
"Ayo buruan, saya akan check in dulu," tandas Eric, lalu menatap secara bergantian orang-orang yang tidak di sana.
Tak berselang lama, mereka pun membawa barang masing-masing. Hanya saja, Eric sengaja membawakan koper yang berisi baju miliknya dan milik Leticia, ia tidak ingin membebani istrinya dengan membawa barang-barang berat seperti itu.
__ADS_1
yuk yuk... kasih vote, like, komentar dan hadiahnya. makasiii