Pemuas Hasrat Tuan Eric

Pemuas Hasrat Tuan Eric
bab68


__ADS_3

Leticia dan Fani memasuki butik yang lain. Mereka juga akhirnya masuk di sebuah butik yang cukup kecil tetapi memiliki koleksi pakaian yang sangat banyak dan keluaran terbaru. Tak hanya itu, harganya pun sangat murah.


Bahkan saat berada di butik itu, Leticia dan Fani sangat kalap hingga mengambil banyak baju mulai dari baju kasual, dress, gaun hingga baju rumahan yang akan dikenakan saat mereka berada di dalam rumah.


Fani juga mencoba beberapa baju yang disukainya. Ia juga mengatakan pada sang kakak agar membelikan baju itu untuknya dan Leticia pun menyetujui.


Fani sangat semang mendengarkan perkataan sang kakak. Sedangkan, Leticia tidak mempermasalahan karena harganya murah hanya sebatas ratusan ribu sehingga dia membeli semua baju-baju yang diambil oleh sang adik.


Kemudian Leticia melakukan pembayaran saat berada di depan kasir, ia membawa beberapa kantong belanjaan yang berisi belanjaan miliknya dan milik Fani, mereka menentengnya dengan semangat dan tersenyum dengan penuh sumringah.


"Mbak, sudah cukuplah belanjanya, ini sudah terlalu banyak," pinta Fani untuk mengajak sang kakak segera menyudahi kegiatan belanja mereka.


Leticia pun mengangguk sebagai tanda persetujuan dengan pendapat adiknya. "OkeC kita istirahat dulu. Mbak juga sudah pegal sekali kakinya karena berkeliling di mall ini," sambung Leticia, lalu memilah salah satu tempat duduk yang disediakan oleh pihak mall.


Keduanya tampak beristirahat sejenak serta meletakkan kantong belanja dan paper bag yang mereka tenteng di sisi tepi kursi.


"Kamu lapar lagi nggak, Fan?" tanya Leticia sebelum mereka akhirnya memilih untuk pulang, Leticia meminta saran untuk mengajak sang adik menyantap makanan berat di sore hari atau hanya sekedar menyemil makanan yang banyak dijual di mall tersebut.


"Lumayan, Mbak tapi kayaknya kita harus cari yang seger-seger deh," usul Fani, kemudian mengedarkan pandangan, ia mencari makanan kecil yang dapat dicemili dan bisa mengisi kelaparan mereka saat di sore hari seperti ini.


"Itu ada es krim Baskin robins, Mbak. Kayaknya enak deh," saran Fani, jari telunjuk bergerak cepat menunjukkan arah outlet itu.


"Wah ... es krim &ayaknya enak deh karena manis-manis dan segar dingin-dingin gitu. Apalagi dari tadi cuacanya terik dan panas, sangat cocok lah untuk mendukung cemilan kita sore ini," timpal Leticia.


"Mbak sini aku aja yang beliin," sosor Fani member usul.

__ADS_1


"Iya deh, ini uangnya." Leticia mengelurkan satu lembaran merah, dia mengira es krim itu berharga murah namun saat Fani sudah memesankan 2 cup es krim ternyata ia terkejut karena harganya kurang dari uang yang diberikan sang kakak.


"Berapa totalnya, Kak?" tanya Fani pada pelayan.


Pesanannya sudah selesai dibuat dan ia meraih 2 cup es krim itu dan diletakkan di kedua tangan.


"Totalnya 350 ribu karena dua-duanya ukuran medium. Jadi harganya totalnya memang segitu," pungkas seorang pelayan.


Nominal angka yang disebutkan oleh pelayan membuat Leticia terkejut sehingga membelalakkan mata. Ia bahkan memastikan kembali dan menanyakan kepada pelayan tersebut.


"Maaf, Mbak tadi harganya berapa?" desak Fani.


"Harga totalnya di Rp350 ribu, Kak!"


Pelayan itu menyetujui dengan ramah dan sopan. Ia bahkan tidak mempermasalahkan jika cup es krim sudah dibawa oleh Nia. Oleh sebab itu, Nia pun .merasa yakin bahwa untuk memenuhi pembayaran yang kurang.


Kemudian, Fani langsung berlari menuju ke arah sang kakak. Ia meminta uang tambahan untuk makanan yang sengaja mereka pesan bahkan Leticia merasa tak percaya hanya untuk dua cup es krim saja bernilai hingga 300 ribu padahal cup eskrim terlihat sangat kecil.


"Uangnya kurang, totalnya 350 ribu, Mbak!" ungkap Fani sembari menatap lekat sang kakak.


Bibir dan wajaynya mengkerut karena khawatir sang kakak akan memarahinya apalagi dia yang mengusulkan untuk menyantap makanan es krim itu.


"Beneran harganya 350 ribu?" balas Leticia Seraya mengerutkan mengernyitkan alis.


"Beneran, kayaknya itu es krim Sultan deh," seru Fani seraya menggaruk-garuk tengkuk yang tidak gatal, ia merasa malu pada sang kakak sudah mengusulkan untuk membeli es krim yang mahal.

__ADS_1


Leticia belum mengomel tetapi ia akhirnya mengeluarkan uang sebesar 250 ribu sesuai nominal yang kurang, kemudian perempuan itu dengan pasrah memberikan uang itu pada Fani.


Fani segera berlari untuk mendatangi outlet es krim itu untuk melengkapi pembayarannya agar pelayan tidak mengiranya tengah menipu. Kemudian Fani kembali lagi, untung saja ia sudah menyerahkan es krim kepada Leticia sehingga dia tidak bolak-balik membawa es krim itu hanya untuk kembali ke outlet.


Ia melihat Leticia sudah asik menyantap es krim, bahkan Fani merasa aneh saat melihat sang kakak menatap es krim dengan tatapan penuh binar sehingga membuat Fani tampak penasaran.


"Pantas saja harga es krim ini mahal. Rasanya saya nikmat," celetuk Leticia setelah ia menikmati beberapa sendok es krim yang meleleh di dalam mulut.


"Jadi nggak salah itu harganya, Mbak?" tanya Fani.


"Emang benar segitu harganya karena rasanya benar-benar membawamu seperti ke surga, saat berada di dalam mulut terasa manis dan meleleh sekai. Pokoknya kamu harus coba sendiri deh," titah Leticia menjelaskannya secara hiperbola.


Fani mengambil satu sendok cup es krim, lalu memasukkan ke dalam mulut, matanya pun ikut berbinar-binar setelah mencicipi satu sendok es krim, entah kenapa rasanya terasa sangat nikmat dan membuatnya merasa ketagihan.


"Wah ... beneran deh ini, Mbak seriusan rasanya benar-benar enak," tambah Fani, serasa tak percaya dengan makanan yang sudah meleleh di mulutnya bahkan benar-benar lumer dan terasa manis.


"Ya, kan pantas saja harganya sangat mahal karena memang sangat nikmat. Tidak sia-sia kita bayar makanan mahal seperti ini," sahut Leticia.


"Yaudah, Mbak kira habiskan dulu saja es krim ini," kata Fani.


Leticia hanya mengangguk seraya menyendoki es krim dan memasukkan ke dalam mulut. Ia dengan cepat menghabiskan es krim itu dan bahkan merasa kurang meski sudah menyantap satu es krim dengan ukuran medium.


Begitu pula, dengan Fani yang tak menyangka bisa menikmati es krim mahal seperti ini, apalagi dulunya mereka berada dalam kehidupan yang melarat. Ini benar-benar tak disangka oleh Fani, berkat kakaknya ia bisa menikmati makanan mahal serta berbelanja barang-barang mahal seperti hari ini.


"Mbak, sudah selesai ayo kita pulang," ajak Fani, sebab ia sudah merasa lelah karena seharian berada di dalam mall, hingga kakinya pun sudah mulai terasa pegal, dan matanya terasa sayup karena tidak beristirahat saat siang tadi.

__ADS_1


__ADS_2