
Eric masih memiliki rasa kasihan. Ia pun akhirnya menyetujui dan memperbolehkan jika Marks hanya melakukan pengunduran diri bukan dikeluarkan dari pihak sekolah. Ia juga tidak ingin merenggut masa depan seorang anak kecil seperti Marks.
"Baiklah, saya setuju."
"Saya mohon, tolong jangan melaporkan anak saya ke polisi, jangan sampai dia di penjara," tambah Papa Marks sembari memohon.
"Saya akan memenuhi permintaan anda, asalkan Marks meminta maaf pada Fano dengan berlutut dan memohon agar Fano memaafkannya, semua keputusan tergantung Fano. Kalau dia memaafkannya. Saya tidak akan melaporkannya ke polisi," jawab Eric dengan lugas.
Tanpa pikir panjang, sang papa pun akhirnya meminta Marks agar menyampaikan permohonan maaf sesuai keinginan Eric. Marks awalnya menolak dengan menggelengkan kepala karena ia merasa gengsi jika harus bertekuk lutut di depan Fano, seorang anak yang dia anggap hanyalah seorang pecundang.
Namun, pada akhirnya Marks menyetujui permintaan itu, apalagi ia takut jika masuk ke dalam penjara dan bergabung dengan narapidana lainnya.
Marks menghampiri Fano, lalu ia menjatuhkan kakinya ke lantai, kemudian berklutut di depan Fano. Tak hahya itu, Marks juga mengulurkan tangan agar mereka bisa saling berjabat tangan.
"Saya minta maaf, Fano sudah melakukan pembullyan kepada kamu. Saya janji tidak akan melakukannya lagi," ujar Marks dengan rasa menyesal.
Fano yang tadinya terdiam, akhirnya meraih tangan Marks. Keduanya saling berjabat tangan, lalu Fano memaafkan Marks karena dia sangat berbesar hati. Apalagi, Fano juga tidak ingin membesar-besarkan persoalan tersebut.
Selama sudah terbebas dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh Marks maka Fano merasa aman. Bahkan, Fano tidak akan melihat wajah temannya itu lagi di sekolah.
"Ya, saya maafkan kamu, Marks. Asalkan kamu jangan pernah berbuat hal seperti itu lagi pada anak lain. Kalaupun kamu pindah sekolah, seharusnya kamu sudah bisa bersikap baik pada teman-teman barumu nanti," kata Fano memberikan pesan.
"Iya, aku janji tidak akan menyakiti anak-anak lain," balas Marks, seraya menyematkan lengkungan tipis di kedua sudut bibir.
Marks sebenarnya merasa sangat khawatir jika ia sampai dilaporkan dan berujung masuk penjara. Sehingga nyalinya menciut dan ia benar-benar ketakutan saat itu juga.
Tok tok tok ...
__ADS_1
Suara ketukan pintu mengalihkan pandangan semua orang yang ada di dalam ruangan, ternyata seorang pengacara sudah tiba di sana. Pengacara itu langsung menghampiri Eric yang tampak duduk santai.
Kedatangan pengacara itu membuat Papanya Marks semakin yakin kalau Eric bukanlah orang sembarangan. Papa Marks bahkan merasa malu karena sudah bersikap arogan saat tadi membela anaknya yang memang bersikap salah.
"Pagi, Pak! Saya ingin mengambil bukti untuk melaporkan kasus yang disebutkan tadi. Saya akan segera melaporkannya," ucap pengacara tersebut.
Namun, Eric mengangkat tangan, menghadapkan telapak tangan pada pengacaranya dan meminta pria itu tetap diam.
"Tidak perlu, Pak semuanya sudah diselesaikan secara baik-baik. Anak itu juga sudah dikeluarkan dari sekolah jadi Bapak tidak perlu lagi melaporkannya. Maaf sudah membuat Bapak repot bolak-balik ke sekolah ini, lebih baik Bapak pulang sekarang," papar Eric.
"Jadi Bapak Ttdak jadi melaporkan kasus ini?" tanya pengacara, sekali lagi memastikan.
"Iya, tidak perlulah, lagian mereka masih anak-anak. Sudah cukuplah bagi saya jika dia dikeluarkan saja dari sekolah," ungkap Eric seraya tersenyum tipis.
"Baiklah, Pak ... kalau begitu saya undur diri dulu." Pengacara kemudian berlalu pergi. Bahkan ia tak ada 5 menit berada di sana.
"Pak, maaf tadi saya sudah bersikap arogan pada anda. Saya minta maaf karena kelakuan anak saya yang sangat keras dan saya maaf juga pada Famo karena sudah terluka, saya pastikan hal ini tidak akan terulang lagi," tutur Papa Marks.
"Ya, lebih baik awasi anak anda. Jangan sampai dia masuk penjara karena kejadian seperti ini terulang lagi," celetuk Leticia dengan sinis.
Pria itu hanya menoleh dan menatap wajah Leticia dengan datar, sembari bertanya-tanya siapakah perempuan yang ada di depannya tersebut.
Namun, Leticia seakan mengerti dengan tatapan itu, ia langsung berkata dan mengakui bahwa Fano adalah adik kandungnya.
"Saya kakak kandung Fano, saya satu-satunya Wali yang mengawasi adik-adik saya!" tambah ujar Leticia dengan lantang.
"Oh ... Ibu, maaf sekali anak saya sudah bersikap seperti itu pada adik anda, saya pastikan mulai detik ini, dia akan bersikap lebih baik lagi dan tidak akan pernah menjadi seorang pembully," sahut pria itu.
__ADS_1
"Memang semestinya begitu, masa anak umur 17 tahun sudah bersikap seperti preman, lebih kejam dari orang dewasa," dengus Leticia.
"Iya, Bu maaf sekali lagi, saya minta maaf dengan kelakuan saya yang buruk serta kelakuan anak saya yang lebih buruk lagi. Kalau begitu saya pamit undur diri," pamit Papa Marks.
Papa Marks menarik lengan anaknya yang masih bertekuk lutut di hadapan Fano. Ia sangat malu atas kejadian hari ini, sementara Eri dan istrinya masih tetap berada di sana, mereka menandatangani surat kerjasama sebagai seorang donatur yang akan menggantikan Papanya Marks dimulai hari ini.
"Kira-kira berapa dana donasi yang akan, Bapak berikan?" tanya kepala sekolah sekali lagi, dia ingin memastikan.
Tentunya pihK sekolah tidak ingin merugi dengan perginya seorang donatur dari sekolahan mereka.
"Tadi kan sudah saya katakan, kalau saya akan memberikan dua kali lipat dari yang akan diserahkan oleh Papanya Marks. Jadi berapa nominal yang diberikan oleh keluarga anak itu?" tantang Eric dengan wajah yang tegas.
"Keluarga Marks setiap bulannya memberikan dana sebesar 200 juta, apa Bapak sanggup?" kata pria itu lagi tampak meremehkan.
"Yah ... kalau cuma 200 juta saya hanya tutup mata. Saya kira hampir 1 miliar. Yasudah, kalau begitu saya akan masukkan donasi sebesar 400 juta setiap bulannya. Saya ingin meminta rekening sekolah agar orang di kantor saya yang akan mengirimkan uangnya," tandas Eric.
"Anda serius mau memberikan dana untuk sekolahan sebesar 400 juta?" tanya kepala sekolah lagi merasa tidak yakin dengan ucapan Eric.
"Iya, saya serius besok akan diproses uangnya dan segera masuk ke rekening sekolah!"
"Baiklah, terima kasih banyak." Kepala sekolah pun berjabatan tangan dengan Eric, ia tak menyangka mereka malah mendapatkan nilai donasi yang bakal lebih tinggi dari yang sebelumnya.
"Saya dan keluarga pamit dulu, untuk hari ini saya minta pihak sekolah memberikan izin pada Fano karena ia sedang sakit dan tubuhnya memar-memar akibat kejadian pembullyan tersebut, jadi saya minta izin agar Fano diperbolehkan pulang karena dia perlu istirahat," pungkas Eric.
"Oh ... tidak masalah, Pak lebih baik memang Fano beristirahat di rumah, nanti kami akan berikan keterangan izin pada dia."
Eric mengajak Leticia dan Fano untuk keluar dari ruang guru. Sementara guru-guru beranjak dari kursinya masing-masing, mereka tengah bergosip setelah melihat kepergian keluarga Fano. Bahkan, mereka saling bertanya-tanya siapa pria yang menjadi perwakilan Fano.
__ADS_1
Sebab, selama ini mereka tahu bahwa Fano adalah seorang anak yang miskin apalagi mereka masuk sekolah itu dengan biaya dari bantuan pemerintah sebagai salah satu keluarga yang miskin.