Pemuas Hasrat Tuan Eric

Pemuas Hasrat Tuan Eric
bab28


__ADS_3

"Iya, memang perusahaan itu susah payah ayah bangun tapi karena kamu sudah memegang perusahaan inti, jadi kamu lah yang berwenang untuk menentukan sikap apakah perusahaan itu harus ditutup atau dipertahankan," tegas Varrel.


"Justru aku ingin meminta saran Ayah. Sebenarnya ada suatu hal yang ingin aku lakukan, aku ingin mempertahankan perusahaan itu tapi dengan sistem yang berganti," jelas Eric.


"Sistem seperti apa?" tanya Varrel, pria paruh baya ini tengah sibuk menyantap sarapannya karena memang baru bangun tidur.


Lain hal yang dilakukan dengan Eric, dia sudah duduk di kursi kebesaran dan mulai sibuk bekerja.


"Jadi gini, sekarang kan kita sudah berbasis serba online, Ayah tahu sendiri kehidupan di era modern seperti ini maka kita harus mengikuti zaman sekarang. Oleh karena itu, aku ingin merubah perusahaan Pratama news menjadi berbasis online, kita akan menyebarkan berita melalui website ataupun segala bentuk media sosial lainnya," ungkap Eric.


"Oh ... kalau begitu aku serahkan saja keputusannya padamu yang terpenting sih kamu bisa mempertahankan perusahaan itu. termasuk membuat perusahaan itu untung, tidak seperti sekarang sudah pailit karena orang-orang sudah tak menyukai koran lagi," sambung Varrel.


"Tentu saja, berikan aku waktu 3 bulan untuk mempertahankan perusahaan ini kalau memang masih merugi juga, aku akan menutupnya," sahut Eric.


"Baiklah, kalau itu kemauanmu kalau begitu Ayah tutup dulu teleponnya karena ayah masih sibuk menyantap sarapan pagi, kalau kamu lanjutkan saja pekerjaanmu," titah Varrel.


"Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu!" Eric menutup panggilan telepon tersebut.


****


Leticia menemui wali kelas Fanu dan Fano, kemudian ia berbincang-bincang dengan guru tersebut. Di sana, Fani menemani sang kakak, dia memang sengaja diminta untuk ikut mendengarkan apa yang menjadi pembicaraan tersebut.


Tak hanya Fani, tetapi seorang anak yang menjadi persoalan inti utama mereka yaitu bernama pria bernama Marks, juga berada di sana dan mendengarkan pertanyaan yang dilontarkan oleh guru.

__ADS_1


"Maaf Bu, kami mengundang anda ke sini, ingin meminta penjelasan tentang perkelahian yang dilakukan oleh Marks dengan Fani," jelas Wali Kelas.


"Kami ingin mendengarkan dari kedua belah pihak, serta melibatkan dari pihak keluarga agar mereka berkata jujur. Jadi kami bisa tahu siapa sebenarnya yang salah di sini," lanjut Wali Kelas lagi, ia didampingi oleh seorang guru BP di sana.


"Ceritakanlah apa yang terjadi tentang kamu dan dia," ujar Leticia.


"Seperti yang kemarin saya ceritakan pada Ibu, kalau kalau Marks ini sering merundung anak-anak di kelas, banyak yang melihat, akhirnya saya ingin dia bergegas menghentikan tindakan yang dia lakukan supaya tidak terjadi hal yang tidak diinginkan pada anak tersebut," jelas Fani panjang lebar.


"Siapa saja yang menyaksikan?" cecar Guru Bp.


"Seluruh anak menyaksikan, Bu termasuk saudara kembar saya sendiri tapi semuanya tetap diam. Tidak ada yang berani membela, hanya saya yang memberanikan diri dan korbannya adalah seorang anak yang memiliki nilai paling jelek di dalam kelas," beber Fani.


"Apa benar itu, Marks?" tanya Wali Kelas.


"Dia berbohong, Bu! Saya tidak melakukan apa-apa dengan seorang anak yang memiliki nilai jelek di kelas, saya hanya meminta untuk dibelikan roti saja karena dia memang mau pergi ke kantin jadi saya menitipkan sekaligus," tutur Marks dengan raut wajah yang sendu.


"Kalau begitu nanti akan dipanggilkan korban serta beberapa perwakilan kelas yang ada di sana," sambung Wali Kelas, lalu meminta guru BP untuk memanggil anak-anak yang dimaksud.


Tak berselang lama, 3 orang anak sudah dibawa oleh guru BP. Tap semuanya bungkam, tidak ada berani mengungkapkan kejadian yang sebenarnya karena sebelum mereka mendatangi wali kelas beserta guru BP, Marks sudah mengancam bahwa akan terus merundung anak-anak di dalam kelas jika mereka ikut campur. Termasuk juga korban tersebut, Marks mengancam dengan keras bahkan akan memyakiti ketika keluar dari sekolah.


"Kenapa kalian malah diam, ungkapkan saja pada guru supaya Marks ini diberikan hukuman," desak Fani, merasa jengah pada teman-temannya yang datanf.


Namun, ketiga murid itu tetap memilih diam. Sehingga Fani tampak bingung, entah siapa yang harus ia percayai hingga akhirnya wali kelas memberikan skors pada Fani karena ia dianggap mengarang-ngarang cerita. Sementara Marks tetap selamat dari hukuman para guru.

__ADS_1


Leticia pun akhirnya pulang bersama Fani dengan perasaan kecewa, selama seminggu ke depan Fani akan diskors dan tetap akan berada di rumah. Oleh karena itu, Leticia hanya bisa diam tetapi dia meminta kejujuran dari adiknya.


"Sebenarnya siapa sih yang salah, Fan?" sergah Leticia seraya menatap lekat adiknya.


"Aku serius, Mbak yang salah itu si Marks, bukan aku. Soalnya memang dia merundung anak-anak lain," tandas Fani, merasakan kekecewaan mendalam.


"Sudahlah, suatu saat dia pasti akan terkena hukuman karena berani berbohong, kita tunggu saja waktunya tiba!" ketus Leticia.


Leticia yakin bahwa adiknya tidaklah berani berbohong padanya, ia juga sedikit curiga dengan sikap Marks, yang memiliki sikap seperti orang yang sedang playing victim. Bahkan anak itu mampu menghasut teman-temannya untuk tidak mengungkapkan kejadian tersebut.


Leticia dan Fani pulang ke rumah. Sementara, Fano tetap berada di sekolah, ia tetap mengikuti pelajaran. Namun, sebelum pelajaran dimulai, terjadi perkelahian sengit antara Marks dan Fano.


Brugh!!!


Tiba-tiba, Fanio ambruk karena ditendang oleh Marks.


"Bilang sama saudara kembarmu itu, jangan sok ikut campur urusan gue!" kecam Marks, dengan tatapan yang sinis, ia bahkan tak henti memberikan tatapan tajam pada Fano.


Fani hanya terdiam dan mengerang kesakitan seraya memegangi perutnya. Namun tiba-tiba seorang guru mulai masuk ke dalam kelas, semua muris langsung kembali ke kursi masing-masing. Begitu pula dengan Fano, ia langsung bangkit dan berdiri, meski merintih kesakitan tapi ia tidak berani mengatakan sejujurnya yang terjadi pada guru tersebut.


Bahkan, setelah duduk masing-masing, Marks terus memberi kode pada Fano agar tetap diam, ia mengangkat tangan dan menggeser ke arah mulut dengan telunjuk dan jempol dikaitkan, menandakan bahwa Fano harus mengunci mulutnya.


"Awas lo kalau berani buka mulut," ancam Marks dengan mulut yang komat-kamit.

__ADS_1


Fano hanya tertunduk, menatap wajah Marks meski tak lama, lalu ia mengalihkan pandangan menatap penjelasan guru di depan kelas.


Selama ini, Fano memang mendapat perundungan tapi baru kali inilah Marks secara terang-terangan melakukannya di dalam kelas. Bisanya, selalu ada Fani di sana sehingga Marks tak berani melakukan di depan wajah saudara kembar Fano.


__ADS_2