
Berkali-kali Leticia melihat jam di dinding untuk memastikan bahwa saat ini sudah menunjukkan pukul 7 malam tapi tidak ada tanda-tanda kedatangan Eric. Bahkan ia dan Eric tidak pernah berkabar satu sama lain, memang mereka tidak pernah saling berkomunikasi melalui ponsel masing-masing.
Leticia juga merasa aneh jika harus berkomunikasi dengan suami kontraknya. Sebab dia merasakan tidak ada kedekatan sama sekali yang terjadi pada suaminya. Hal itulah yang membuat Leticia tampak pesimis untuk memiliki jalinan yang lebih dalam dengan suami kontraknya apalagi ia juga berniat untuk mengakhiri masa kontrak itu sebelum tenggatnya habis.
Dengan rasa kesal akhirnya Leticia menghentak-hentakkan kakinya saat masih duduk di tepian ranjang. Ia terus menanti kedatangan Eric, karena sebentar lagi detik-detik menjelang makan malam segera digelar. Namun rasanya semakin aneh jika tidak mendengar kedatangan suaminya.
***
Kesepakatan telah dibuat antara kolega dan Eric, ternyata tak terasa hingga 2 jam mereka bersama karena sibuk membicarakan tentang bisnis dan perkembangan Pratama news. Oleh karena itu, Eric pun sampai lupa waktu ia tak ingat untuk segera pulang ke rumah padahal waktu sudah menunjukkan jam 7 malam.
Tak sengaja, saat Eric melihat jam yang melingkar di tangan, ternyata dia terkejut bahkan waktunya sudah tersisa tersita selama 2 jam lamanya. Dia pun akhirnya mengakhiri perbincangan dengan koleganya karena terlalu asik dan larut dalam pembicaraan tersebut.
"Baiklah, Pak sebaiknya kita harus sudah menadatangani MOU secepatnya. Apalagi bukannya Bapak mau segera berangkat ke bandara karena ada tugas di luar negeri?" tanya Eric, saat menatap lekat pria itu.
"Iya, saya sendiri sampai lupa karena kita keasikan mengobrol. Baiklah kalau begitu kita langsung ke intinya saja untuk penandatanganan MOU kerjasama pemberian ingestasi," jelas pria itu.
Nia kemudian mengeluarkan dua berkas, satu berkas diberikan pada perusahaan yang akan menjalin kerjasama sedangkan satu berkas lagi akan mereka pegang. Di dalan berkas juga dicantumkan angka nominal yang akan diberikan oleh pihak perusahaan sebesar 10 miliar karena pada akhirnya mereka bersepakat dan langsung melakukan penandatanganan.
Setelah proses penandatanganan selesai, akhirnya Eric berpamit diri, mereka segera berpisah dengan koleganya, sebab masing-masing sudah memiliki jadwal tersendiri. Eric dan Nia pun pulang masing-masing. Eric meminta agar Nia pulang menggunakan taksi dan ia memberikan uang ongkos untuk perjalanan pulangnya.
"Nia, saya tidak bisa mengantarkan kamu pulang, lebih baik kamu pulang sendiri saja menggunakan taksi." Eric mengeluarkan 2 lembaran merah untuk digunakan oleh Nia sebagai ongkos.
__ADS_1
"Baik, Pak terima kasih." Nia pun meraih uang yang diberikan bosnya, kemudian berjalan ke halaman depan hotel dan memesankan sebuah taksi untuk menuju pulang ke rumah.
Dalam waktu cepat, ia langsung melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Eric ingin segera bergegas menuju rumah meski tidak ada satu pun pesan dari Leticia yang masuk ke dalam ponsel untuk memintanya pulang.
Hal itupun memicu rasa kesal bahwa istrinya itu seakan tak peduli padanya, padahal untuk berbasa-basi saja sekedar menanyakan keberadaannya justru sama sekali tidak dilakukan oleh Leticia.
Eric yakin bahwa Leticia memang tidak memiliki perasaan sama sekali padanya, dia pun merasa kesal dan jengkel selama masa perjalanan. Eric merasa bahwa dirinya harus memberikan pelajaran pada Leticia sebagai hukuman karena tak memperdulikannya.
Efek jera yang akan diberikan Eric satu-satunya adalah dengan menyentuh tubuh istrinya dan ia semakin antusias untuk melakukan aksinya pada malam ini.
Setelah hampir 20 menit di dalam perjalanan, akhirnya Eric sampai di halaman rumah. Ia memasukkan mobil itu ke dalam garasi, kemudian dia langsung keluar dari dalam mobil, tak disangka ternyata Leticia yang mendengar kedatangan suaminya langsung berlari-lari kecil untuk keluar menyambut suaminya itu. Bahkan dia sangat bersemangat untuk menghampiri sang suami.
Leticia lantas langsung membukakan pintu dengan lebar, melihat Eric yang berjalan dengan lesu. Eric pun juga melihat sosok istrinya dan ia menatap dengan datar perempuan itu. Oleh karena itu, ada rasa kekesalan yang ada di dalam lubuk hatinya tetapi rasa itu tak bisa ditutupi ketika ia sudah melihat wajah cantik istrinya yang sangat memikatnya.
"Selamat malam, kenapa Tuan lama sekali pulangnya?" ucap Leticia basa-basi.
Ia berkata dengan lembut, lalu mengambil tas kerja Eric dan membawakannya ke dalam kamar. Eric pun merasa aneh melihat situasi itu. Bahkan dia merasa ada sesuatu yang berbeda pada istrinya yang bersikap sangat baik padanya khususnya malam ini.
"Maaf, saya tadi ada meeting dadakan dengan kolega," jawab Eric dengan datar, ia pura-pura terlihat cuek dan tak peduli pada Leticia.
"Oh seharusnya, Tuan mengabariku jadi aku tidak perlu menunggu kedatanganmu selama ini," ujar Leticia masih basa-basi.
__ADS_1
Sebenarnya ini adalah pembicaraan yang sengaja ua buka untuk nantinya mulai membicarakan hal serius lebih rinci lagi mengenai persoalan Fano.
"Apa pedulimu?" sela Eric dengan ketus.
Seketika perkataan Eric membuat suasana semakin canggung, bahkan Leticia sampai ingin mengurungkan niatan untuk membeberkan masalah mengenai Fano.
"Kenapa, Tuan mengatakan hal itu? Mungkin Tuan merasa lelah makanya bersikap ketus dan dingin!" celetuk Leticia sembari menatap lekat suaminya, saat mereka berjalan beriringan menuju kamar di lantai 2.
"Ya, mungkin saya sedang merasa lelah!" jawab Eric asal.
Ia sengaja menggunakan bahasa yang baku. Entah mengapa Eric sengaja bersikap antagonis dan dingin secara spontan bahkan itu dulakukannya untuk menutup-menutupi sikapnya nanti malam yang ingin menyentuh tubuh istrinya.
"Sudahlah, lebih baik, Tuan istirahat dulu. Mungkin saja, Tuan lelah makanya bersikap ketus dan dingin padaku," desag Leticia.
Setibanya di kamar, lalu ia meletakkan tas kerja suaminya di atas nakas. Ia juga membiarkan Eric untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Sebelum Eric keluar dari kamar mandi, Leticia bergegas menyembunyikan amplop yang merupakan hasil visum Fano.
Ia tak ingin bahwa persoalannya malah semakin rumit jika diketahui oleh Eric. Apalagi sikap Eric yang diingin dan ketus seperti itu membuatnya semakin malas untuk mengungkapkan semuanya secara terbuka.
Sementara Eric, menikmati ritual pemandiannya di dalam kamar mandi. Ia bahkan asik bersiul sembari menyiapkan siasat untuk melampiaskan hasratnya malam ini.
Apalagi, kecantikan Leticia tak bisa hilang dari ingatannya. Leticia seakan membius pria itu, hingga membuatnya kecanduan untuk menikmati tubuh Leticia yang ramping dan aduhai.
__ADS_1
Suara siulan hanya terdengar di gendang telinga Eric. Kamar mandi itu memang kedap suara, sehingga Leticia tak mendengar suara kicauan senandung dari suaminya yang tampak berbeda dari sikap yang ditunjukkan saat pulang tadi.