
Frederic langsung menyesap kopi itu setelah diberikan oleh Leticia. Lagi-lagi, rasa yang sama seperti kemarin. Entah mengapa, kopi yang diseduh istri kontraknya itu sangat nikmat.
Aroma kopi itupun merebak keseluruh ruangan. Meski ia menikmati kopi yang dibuatkan oleh Leticia, Frederic malu untuk memuji keahlian wanita itu di depan para maid dan adik iparnya.
"Ayo, sarapan!" ucap pria itu, lalu menyuapkan nasi goreng dalam sendok ke mulut.
Usai sarapan, Frederic menawarkan diri untuk mengantarkan Fani dan Fano ke sekolah. "Mau mas antar?"
Fani dan Fano saling menatap, lalu beralih menatap ke kakak tertua mereka. Leticia hanya mengangguk, akhirnya kedua adiknya itu mau diantarkan oleh ipar mereka.
Frederic memperhatikan adik iparnya yang sudah memakai baju baru pemberian darinya. Tak ada lagi alasan bagi Frederic untuk mencemooh baju kedua remaja itu.
Leticia mengantarkan ketiga orang itu hingga ke halaman rumah. Fani dan Fano masih terkejut dengan tingkah Leticia yang sangat berbeda hari ini. Ia sudah mulai memperdulikan suaminya.
Saat menyusuri ruangan, Fani membisikkan sesuatu di telinga Fano. "Tumben amat mbak Letic ngantar mas Eric sampai ke depan rumah."
Fano hanya mengangkat kedua tangan, menghentakkan hingga bahunya terangkat. Pertanda bahwa ia juga tak tahu apa alasan perempuan itu sudah merubah sikap.
Bahkan, Leticia yang melambai ke arah mobil membuat Fani dan Fano sangat bertanya-tanya.
"Mas, kok tumben mbak Letic berubah hari ini?" celetuk Fano saat berada di dalam mobil.
"Mungkin mbakmu mau berubah kali," jawab Frederic santai.
"Iya, ya, aneh sih. Aneh banget lihat mbak Leticia perhatian gitu sama mas Frederic!" tambah Fani yang heboh di belakang Frederic.
"Entahlah, mungkin mbak Leticia sudah mencintai mas Frederic," sahut Fano cuek.
Alhasil, Frederic langsung melirik Fano. Lalu, mengalihkan kembali pandangan ke jalanan. Kata-kata Fano barusan teriang-ngiang di kepala.
Padahal, dialah yang meminta Leticia bersikap demikian. Namun, Frederic tak bisa mengaku lantaran itu sudah menjadi kesepakatan mereka dalam kontrak pernikahan.
__ADS_1
*****
Leticia berjalan ke dapur, di sana ia meminta ketiga maid segera sarapan di meja makan.
"Mbak-mbak, sarapan di meja saja. Maaf saya tidak bisa mengajak kalian tadi pagi, soalnya ada suami saya."
Ketiga para maid itu hanya tersenyum, lalu menuruti perintah sang nyonya. Ketiganya duduk dengan tenang di meja makan, menyantap makanan yang masih ada di meja makan.
"Maaf, bukan aku bermaksud menyuruh kalian memakan makanan sisa kami. Tapi makanan itu belum tersentuh kok. Tidak ada yang mengaduk-aduk nasi goreng itu. Atau kalau kalian mau makan yang lain, silahkan!" tutur Leticia dengan sopan dan ramah.
"Ti–tidak, nyonya! Ini saja sudah cukup." Dei tersenyum lebar, lalu kedua teman lainnya mengangguk.
"Kalau begitu, saya pamit dulu ke kamar. Silahkan dinikmati," tandas Leticia, kemudian berlalu menuju kamar, menaiki anak tangga.
*****
Setelah mengantarkan dua iparnya ke sekolah, Frederic langsung menancapkan gas mobil ke kantor. Hari ini, ia sangat hectic bekerja.
"Maaf, saya agak terlambat. Jalanan pagi ini terlalu padat," ujar Frederic setelah tiba di ruangan.
Tiga direktur yang hadir saat itu hanya menunduk, memberikan penghormatan pada CEO muda mereka.
Pagi ini, Frederic memang meminta tiga direktur hadir tepat pukul 7 pagi. Namun, ia sendiri telat lima menit tiba di kantor.
"Ayo, pak berangkat!" tandas seorang direktur.
Frederic mengangguk, lalu mengekori tiga direktur ini. Perusahaan yang akan mereka kunjungi ada di tempat yang berbeda-beda.
Oleh karena itu, rombongan mereka berangkat menggunakan mobil operasional kantor khusus pejabat Varrel Grup.
"Ke mana kita hari ini?" tanya Frederic yang duduk di belakang bersama salah satu direktur.
__ADS_1
"Kita akan ke Pratama Foodies, pak!" jawab Direktur Pangan, Dirgantara. Dirgantara pun masih sepantaran Frederic, muda, berjiwa bebas dan seusia Frederic berumur 29 tahun tapi statusnya masih single.
Oleh karena itu, sebelum mereka berangkat, Frederic meminta agar Dirgantara yang mendampingi, lalu duduk disebelahnya.
"Apa saja yang dikelola oleh perusahaan itu?" tanya Frederic.
"Nanti bapak akan lihat sendiri, sebentar lagi kita tiba di sana." Dirgantara tersenyum sumringah.
Tak berselang lama, mereka tiba di perpakiran Pratama Foodies, anak perusahaan dari Varrel Grup yang menangani seluruh produksi makanan untuk dikirimkan ke seluruh penjuru negeri ini.
Beberapa produk dari Pratama Foodies sangat terkenal, bahkan diminati oleh masyarakat. Tak heran, produk yang telah diajukan hak patennya sejak lama itu mampu merajai dunia produksi makanan.
Frederic didampingi tiga direktur berjalan menyusuri perusahaan dengan konsep pabrik produksi makanan. Gedung tua yang berkonsep klasik itu mengisyaratkan bahwa bangunan itu peninggalan sejak zaman belanda.
Namun, gedung itu dirawat dengan baik, arsitekturnya sangat ikonik. Frederic sangat takjub mengapa perusahaan itu berkembang pesat, sebab tak hanya gedung yang dirawat baik tapi hasil produksi juga melimpah sesuai dengan target.
"Ini yang kita produksi hari ini, pak. Makanan cepat saji tengah dinikmati kawula muda. Mereka ingin makan-makanan yang mudah dikelola. Salah satunya nasi rendang kemasan ini, mereka tinggal membeli di minimarket terdekat. Bisa langsung dipanaskan di microwave dan langsung di makan," jelas Dirgantara panjang lebar.
Frederic mengangguk-angguk, produksi nasi rendang kemasan memang top brand dari Pratama Foodies. Tak heran, makanan itu dikirimkan ke seluruh penjuru negeri ini. Makanan itu terbaik nomor satu di perusahaan mereka, belum ada perusahaan yang berhasil mengalahkan.
Lalu, mereka berpindah tempat khusus produksi minuman. Perusahaan mereka memang unggul pada produk minuman kemasan yang digandrungi anak-anak serta anak muda zaman sekarang.
Ada susu kemasan, ada minuman kopi, serta minuman teh. "Tiga produk minuman kita paling tinggi penjualannya pak. Susu anak ini misalnya, dalam satu tahun, penjualan kita menghasilkan puluhan milyar."
Dirgantara terus menjelaskan semua produk itu. "Minuman kopi juga sangat dicintai oleh para remaja saat ini. Mereka tinggal menambahkan batu es untuk menikmatinya. Omset penjualan minimuman kopi ini, tertinggi nomor 2 di perusahan kita."
Terakhir, Dirgantara menjelaskan produk teh yang baru setengah tahun mereka keluarkan tapi sudah mampu menandingi produk yang paling terkenal di negeri ini.
"Teh ini baru beberapa bulan kita keluarkan pak. Kemasan botol yang besar dengan harga ekonomis membuatnya semakin unggul! Sebab, kita sudah mengalahkan salah satu top brand terkenal dari perusahaan lain. Sekarang, teh kemasan ini sudah banyak ditemui di warung-warung klontong serta minimarket dan mall. Mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa menyukai teh ini. Nama minumannya juga unik dan mudah diingat. Teh Ucuk!" papar Dirgantara.
Frederic sangat mengapresiasi hasil perusahaan Pratama Foodies, setelah membaca berkas penjualan produk perusahaan itu, Pratama Foodies adalah anak perusahaan nomor satu yang menempati penjualan tertinggi.
__ADS_1