Pemuas Hasrat Tuan Eric

Pemuas Hasrat Tuan Eric
bab32


__ADS_3

Karena beberapa kancing atas kemeja terbuka sehingga mengekspos pundaknya yang sangat indah.


Leticia juga tak sengaja duduk bersila saat membangunkan suaminya, tak heran jika pahanya pun ikut terekspos dengan sempurna membuat Eric seketika terbelalak dengan pemandangan pagi ini.


Saat terbangun, Eric langsung memalingkan wajah tanpa menatap lekat manik indah Leticia, sementara Leticia buru-buru segera ingin beranjak dari kasur.


"Tuan, bangun! Katanya ingin menyaksikan matahari terbit. Sekarang sudah jam 5 pagi loh," seru Leticia.


"Iya, baiklah! Segera ganti bajumu, tidak mungkin kamu keluar menggunakan baju seperti itu apalagi cuaca di luar sangat dingin," tutur Eric seraya menghempaskan selimut yang menutupi tubuhnya.


Leticia mengangguk, setelah beranjak ia bergegas mengambil celana dari dalam lemari dan memakainya, kemudian mengenakan jaket tebal untuk menutupi kemeja putih.


Lalu, Leticia juga menggulumg rambut ke atas sehingga memperlihatkan leher jenjangnya. Eric hanya bisa terpukau seraya menggigit bibir bawahnya kala mengingat kejadian tadi malam itu.


Kejadian itu adalah kejadian pertama yang ia lakukan pada Leticia karena ia benar-benar tak bisa lagi menahan hasratnya saat melihat kecantikan Leticia yang terpancar saat tertidur pulas.


***


Pagi itu, Eric dan Leticia bergegas keluar dari tenda kamar. Kemudian, mereka buru-buru menyambangi halaman depan tenda, akhirnya Leticia juga menghampiri kedua adiknya dan membangunkan anak kembar itu secara bergantian.


Tak berselang lama, Leticia lalu mengajak mereka untuk menyaksikan matahari terbit dari ufuk timur, kemudian mereka sama-sama menyesap minuman hangat sekaligus menunggu fajar terbit.


Beberapa pelayan sudah mulai melayani keluarga kecil itu, membuatkan mereka minuman bahkan juga diminta untuk membuakan sarapan segera sehingga setelah menyaksikan matahari terbit, semuanya bisa melanjutkan menyantap sarapan pagi.


Saat ini, Eric sibuk menyesap kopi yang dibuatkan oleh Leticia. Eric sudah tak mau kopi yang diseduh oleh orang lain selain buatan istrinya.

__ADS_1


Sementara, Fani dan Fano menyesap susu yang dibuatkan oleh pelayan, sementara Leticia tampak menikmati coklat hangat yang juga diseduh oleh pelayan. Kemudian, mereka menatap langit yang masih gelap, secara perlahan-lahan matahari muncul mulai dari sepertiga bentuknya hingga mulai meninggi dengan sempurna, menunjukkan sinar pagi itu ketika matahari telah naik, otomatis seketika suasana mulai menghangat.


Meskipun masih terasa sejuk tetapi mereka menikmati semua yang ada dalam pemandangan pagi ini. Beberapa sajian sarapan pagi telah disiapkan oleh para pelayan, diantaranya sarapan roti, omlete, sereal dan berbagai makanan lainnya.


Semua makanan disiapkan oleh pelayan, Eric pun mengajak istri dan iparnya untuk menyantap sarapan pagi ituz


"Ayo kita sarapan," ujar Eric, sembaru mengajak mereka untuk menghampiri meja makan bersama-sama.


Leticia dan adik-adiknya hanya mengangguk, lalu mengekori pria itu yang berjalan dengan gagah itu. Seusai menyantap sarapan pagi, Eric juga mengajak Leticia dan adik iparnya untuk melakukan kegiatan outbond, saat itu memang sudah tersedia berbagai arena yang bisa dimainkan oleh kegiatan kelompok.


Salah satunya, paintball yang dilakukan oleh Eric dan Leticia. Mereka memainkan kegiatan embak-tembakan, Erik dengan Fani satu kelompok, sementara Leticia dengan Fano, mereka melakukan tembak-menembak dengan cat yang dihasilkan dari pistol tersebut.


Siapa yang mengenai banyak tembakan, mereka kalah dan akan diberikan hukuman untuk berlari keliling lapangan. Karena Leticia dan Fano kalah, mereka berakhir dengan diberikan hukuman.


Tanya itu, kemudian mereka melanjutkan seru-seruan bermain kegiatan outbound yang disediakan oleh pihak perkemahan, selain paintball, mereka melanjutkan untuk berkeliling di sekitar area perkemahan dengan menaiki ATV.


Tak terasa, mereka bermain di luar ruangan hingga siang hari, setelah kembali lagi ke tenda, mereka pun melanjutkan untuk menyantap makan siang serta berkemas agar bisa segera pulang ke rumah.


Sebab, karena sudah siang hari, mereka juga harus menempuh perjalanan selama 30 menit. Oleh karena itu, Eric juga membutuhkan waktu untuk beristirahat karena besok akan kembali memulai aktivitas.


Sampainya di tenda, mereka kembali menyantap makan siang dengan berbagai sajian menu khas asli Indonesia, berapa makanan khas di antaranya nasi goreng, pecel serta soto memenuhi makan siang mereka, sajian itu terasa nikmat karena memang menu best seller dari pihak perkemahan.


"Ayo, jalannya pelan-pelan aja!" kata Eric, memperingati istri dan iparnya, saat mereka sudah membawa barang-barang menuju parkiran karena lokasi perkemahan dengan perparkiran cukup jauh, mereka harus berjalan kaki untuk menuju depan pintu keluar masuk perkemahan.


Semuanya berjalan tertatih-tatih dengan membawa barang bawaan yang cukup banyak, siang itu matahari sangat terik dan suasana sejuk dan dingin pun sudah mulai menghilang. Kini, terasa hawa panas matahari yang cukup menusuk ke kulit.

__ADS_1


Saat tiba di perpakiran, Eric langsung duduk di kursi sopir, ditemani oleh Leticia yang duduk dengan santai di kursi sebelah suaminya Lalu, Fani dan Fano tampak juga duduk di belakang setelah memasuki semua barang bawaan di bagasi. Mobil pun mulai melaju dengan kecepatan sedang, merekamenempuh perjalanan dengan jalanan yang curam dan terjal.


Entah mengapa perjalanan menuju pulang itu terasa lebih cepat dibandingkan saat mereka pergi kemarin. Semuanya kembali turun dari mobil, setelah tiba di halaman rumah mereka. Eric memerintahkan agar Fani dan Fano beristirahat karena esok mulai bersekolah kembali.


Namun, saat berada di ruang keluarga, Leticia menghentikan langkah kaki Eric. Sebab, ia ingin membicarakan mengenai kasus masalah Fani.


"Tuan, ada yang perlu aku bicarakan," ujar Leticia, menghentikan langkah kaki suaminya.


Eric langsung menoleh ke belakang. Padahal tadinya ia segera ingin merebahkan diri di atas ranjang setelah memasuki kamar. Namun, langkah kakinya terhenti karena Leticia lebih ingin berbicara empat mata dengannya.


"Ada apa?" seru Eric, seraya menoleh dan menatap manik indah istrinya.


Ia pun kembali lagi mundur ke belakang, duduk tepat di samping sang istri. Sementara, Leticia memang sengaja saat memasuki ruang keluarga, dia sudah duduk di ruang keluarga sebelum beralih masuk ke dalam kamar.


"Ada yang perlu aku bicarakan," tambah Leticia.


"Kenapa tidak di kamar saja, justru di kamar itu lebih enak membicarakannya dan lebih leluasa," sahut Eric.


"Di sini sajalah, soalnya ini tentang adik-adikku," papar Leticia.


"Ada apa dengan mereka?"


"Sebenarnya ada suatu masalah kecil tapi aku sudah menyelesaikannya, hanya saja ada hukuman yang harus dijalankan terutama pada Fani."


Eric menatap lebih lekat manik indah istrinya, lalu ia menyorot dengan tatapan tajam, menunggu hingga cerita Leticia tuntas.

__ADS_1


"Lanjutkanlah," titah Eric.


__ADS_2