
Eric mengangkat barang-barang miliknya, berjalan segera menuju lobby hotel. Saat itu ia melakukan check in sesuai dengan pemesanan hotelnya saat tadi sore. Oleh karena itu, ia juga memboyong keluarganya dan membawa mereka masuk ke dalam bersama-sama.
Leticia dan kedua adiknya serta bersama supir sedang berada di lobby, pada kursi tunggu yang disediakan pihak hotel. Sementara Eric melakukan check in, ia memang sudah memesankan ruang kamar sebagai tempat peristirahatan mereka.
Tak hanya itu, Eric juga langsung mendapatkan 4 kunci sekaligus, ia menyerahkan pada Fani dan Fano karena mereka masing-masing memiliki kamar sendiri, berikut juga dengan sang supir yang sudah disampaikan kunci kamarnya.
Leticia dan Eric memiliki satu kamar untuk berdua karena mereka tidak mau membuat pandangan orang-orang memikirkan hal buruk tentang status rumah tangga mereka apabila memaksa untuk tidur dengan kamar yang berbeda. Hal itu juga sudah sesuai dengan kesepakatan yang mereka tetapkan, untuk menjalankan semua rencana tentang pernikahan kontrak serta status sejak awal sebagai sepasang suami istri.
Dalam perjalanan, Eric tersenyum kecil seorang diri. Ia menanti-nanti bahwa Leticia akan takjub dengan hasil kejutan yang ia telah persiapkan. Tak hanya itu, khusus kamar mereka juga memiliki private pool karena Eric memesankan kamar VIP yang ada di hotel tersebut sehingga dia bisa menikmati fasilitas dan seluruh persiapan untuk memberikan kejutan pada istrinya.
"Mbak, kita masuk duluan, ya? Soalnya pengen istirahat nih," celetuk Fani, seraya mengucek kedua bola mata.
Fani dan Fano masih merasa sangat ngantuk karena saat itu sudah hampir jam 12 malam, rasanya Leticia akan mengganggu kedua adiknya itu jika membiarkan mereka tetap terjaga.
Oleh karena itu, ia tak mau membebani adik-adiknya dan memerintahkan agar mereka segera masik ke dalam kamar dan tidur.
Apalagi besok mereka akan berangkat pagi dan mulai menelusuri kawasan Sukabumi. Karena itu, Leticia segera meminta adiknya untuk masuk ke dalam kamar masing-masing, sama halnya dengan sang sopir yang juga memiliki kamar sendiri, akhirnya mereka berpisah menuju kamar masing-masing.
Eric juga sudah memesankan pada sopirnya serta kedua adik Leticia bahwa besok subuh, tepatnya sebelum matahari terbit, da ingin agar semua orang berkumpul karena ia ingin menyaksikan pemandangan sunrise di atas pantai.
Oleh karena itu, Eric kemudian bersama Leticia masuk ke dalam kamar setelah semuanya bubar, ia membuka smart lock pada pintu kamar hotel. Namun, begitu terkejutnya Leticia saat melihat kamarnya begitu mewah dan sangat luas. Selain itu, pemandangan di dalam kamar itu pun tak biasa, kamar itu seperti dipersiapkan khusus bak sepasang pengantin baru yang akan melaksanakan honeymoon.
__ADS_1
Saat baru saja melangkahkan kaki, Leticia tertegun menatap sekitarnya hingga langkah kakinya pun berhenti, ia merasa bingung karena melihat ruangan itu terlihat istimewa. Entah mengapa Leticia jantung Leticia pun berpacu dengan kencang, terus berdegup seakan-akan ia sengaja tengah digoda oleh suaminya.
"Mas, eh ... maksudku, Tuan!" seru Leticia malu-malu, lalu menyadarkan kata-kata yang diucapkan khusus panggilan yang diberikan pada Eric karena mereka kini telah berdua saja.
"Iya, ada apa?" jawab Eric seraya menoleh pada istrinya, ia sekaligus meletakkan koper di dalam lemari, kemudian ia duduk di tepian ranjang sembari menjawab pertanyaan perempuan itu.
"Kita tidak salah kamar? Mengapa hiasannya seperti untuk pengantin baru?" tanya Leticia, sembari menatap lekat suaminya.
Kemudian ia kembali sadar dan mulai melangkahkan kaki untuk mendekati pria itu setelah menutup pintu kamar dengan rapat.
"Tidak ada yang salah kok, aku memang sengaja membuat tampilan kamar seperti ini, biar terlihat romantis dan mendukung kisah suami istri kita," sahut Eric memberikan alibinya.
Kemudian, Eric merebahkan diri di atas ranjang hingga membuat bunga-bunga yang berada di atas ranjang itu bertaburan ke lantai, tampak dari pandangan Leticia bahwa Eric sengaja membuat pemandangan sangat elok, di mana ada taburan bunga yang berada di atas ranjang l, bahkan handuk pasangan untuk sepasang suami istri seperti mereka.
Tak hanya itu saja, Leticia juga seakan-akan takjub dengan momen yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya. Lalu, Leticia duduk di atas ranjang. Baru saja menempatkan bokong di tepi ranjang, justru Eric mengajaknya untuk keluar.
"Ayo, ikutlah denganku."
Eric menarik lengan Leticia setelah ia beranjak dari tepian panjang. Lalu berjalan mengajak keluar kamar.
"Ada apa lagi? Aku lelah sekali, Tuan," ucap Leticia, tetapi dengan pasrah mengekori suaminya serta berjalan tertatih-tatih.
__ADS_1
Tak hanya itu, ia terus mengikuti langkah kaki yang begitu lebar, lalu Eric menunjukkan sesuatu setelah mendorong pintu kaca yang ada di hadapan mereka.
Ia sengaja menyalakan sebuah lampu, karena khusus kamar dengan private pool itu memang disiapkan sedemikian rupa agar bisa mengejutkan pasangan. Kini, terlihat nyata bahwa sebuah kolam yang sangat cantik berisi dengan campuran bunga mawar merah dan mawar pink.
"Wah ... ini sih benar-benar sangat romantis." Leticia saya mengedarkan pandangan, ia begitu kagum dan takjub dengan semua apa yang disiapkan oleh suaminya.
Entah mengapa Leticia merasa tersentuh, sepertinya semua ini disiapkan oleh Eric sebagai bentuk pernyataan isi hatinya, namun Leticia tak mau menuduhkan apa yang ada di dalam pikirannya karena ia tidak mau membuat Eric merasa tidak nyaman.
"Iya, kan bagus sekali tapi kita tidak bisa berenang tengah malam begini, lebih baik kita berenangnya besok pagi," papar Eric seraya kembali menarik lengan Leticia dan kembali menutup pintu dorongan kaca tersebut.
"Iya, Tuan terlalu dingin kalau malam-malam begini kita berenang," tutur Leticia, lalu mereka kembali duduk di tepian ranjang, tak lama Leticia masih merasakan kantuk yang luar biasa, akhirnya meminta izin pada suaminya agar bisa segera lanjut kembali tidur.
"Tuan, bolehkah aku melanjutkan tidurku?"
"Tentu boleh, nikmati saja tidur malammu. Jangan lupa besok pagi kamu harus bangun sebelum jam 5 pagi karena kita harus berangkat untuk menyaksikan sunrise di bibir pantai yang tak berada di depan Hotel," pinta Eric mengingatkan.
"Baillah, kalau besok aku kesiangan, tolong bangunkan aku," balas Leticia, dengan menyematkan senyum yang lebar di kedua sudut bibir.
Eric pun mengangguk, lalu ia masih tampak bersantai di tepian ranjang, sebenarnya ia menunggu momen saat perempuan itu sudah larut dalam tidurnya karena ia ingin melakukan sesuatu untuk melanjutkan hal yang tadi sempat ia lakukan saat berada di dalam mobil.
Sayangnya, karena merasa terganggu, akhirnya ia tak bisa merasa puas dengan semua apapun yang ia lakukan. Inilah, kesempatan Eric yaitu pada malam ini untuk menyentuh tubuh wanita itu, ia bahkan sudah merasa tidak sabar akan mencumbunya dan menikmati sentuhannya sendiri.
__ADS_1