
Namun akhirnya, Eric membiarkan pikiran hilang. Ia tidak ingin mencampuri urusan pribadi dengan pekerjaannya, pagi itu Eric langsung bersiap-siap menyelesaikan penandatanganan berkas agar ia bisa menghadiri rapat bersama seluruh karyawan kantor.
Kemudian, Eric memanggil Nia—sekretarisnya dan menyerahkan semua berkas yang sudah ditanda tangani, lalu mereka segera pergi ke ruang rapat.
***
Bugh ... Plak ... Brak ...
Fano yang baru saja tiba di sekolah sejak 30 menit yang lalu, sudah mendapatkan berbagai hantaman.
Fano langsung diseret oleh Marks ke depan kelas, di sana Fano langsung mendapatkan gebukan. Awalnya gebukan di perut, lalu merembet dengan tamparan di wajah, hingga akhirnya ditendang dan Fano terlempar ke dinding di depan kelas.
Meskipun disaksikan oleh teman-teman yang lainnya, hingga terdengar erangan Fano yang kesakitan sembari memegangi pipinya yang tampak memar, serta sudut bibirnya pun sudah memerah karena telah keluar darah dari ujung sana tetapi tidak ada satupun temannya yang berani menolongnya.
Tak lama kemudian, Marks kembali melayangkan pukulan pada Fano.
Bugh ... Bugh ... Bugh ...
Marks berhasil meninju perut Fano dengan kencang. Bahkan, Fano pun tak melakukan perlawanan sehingga satu orang pun siswa yang berada di dalam kelas tidak berani ikut campur dalam pertikaian tersebut.
Padahal saat Fano datang ke sekolah, ia tidak melakukan kesalahan apapun. Ia langsung bergegas menuju kelas, tiba-tiba saja Marks dan teman-temannya mencegat di depan ambang batas pintu.
"Heh ... kembaran Fani yang bodoh, kenapa lo masuk sekolah sementara kembaran lo tidak ikut ke sekolah ini?" bentak Marks dengan menunjukkan tatapan yang tajam.
"Kamu kan tahu sendiri Marks, Fani tidak bisa ke sekolah karena dia diskors itupun gara-gara ulahmu," jawab Fano asal tanpa memikirkan perkataannya.
__ADS_1
Namun, jawaban Fano malah membuat Marks semakin marah dan mengamuk. "Tolol lo, kenapa lo malah menuduh gue yang membuat saudara kembar lo itu diskors?" hardik Marks, sembari menunjuk-nunjuk wajah Fano penuh kekesalan.
"Apa kamu tidak puas sudah berkali-kali memukulku, lihat wajahku penuh dengan memar dan perutku juga pasti akan tersisa bekas memar karena ini bukan pertama kalinya kamu meninju perut," sosor Fano mengeluarkan pendapatnya dengan tegas, sembari mencoba berdiri.
"Sudah berani lo melawan gue!" timpal Marks, dengan tatapan yang sinis.
Bahkan, Marks tanpa segan menoyor-noyor kepala Fano dengan kesal.
Kring ... kring ...
Tak berselang lama, bel pertanda masuk kelas pun berbunyi. Semua siswa berlarian ke tempat duduk masing-masing sembari berbisik-bisik dengan kejadian yang tadi mereka saksikan.
Sayangnya, tidak ada salah satupun siswa yang berani membela Fano, meski mereka tahu kalau Fano tidaklah bersalah. Bahkan ia menjadi bulan-bulanan Marks selama Fani tidak masuk sekolah.
Kesempatan itu pun dimanfaatkan oleh Marks untuk mencari kesenangan sendiri, dengan membully Fano secara terang-terangan. Entah mengapa, ia merasa puas jika menyakiti teman-teman sekelasnya.
Sebab, dulu Leticia berpesan pada wali kelas Fani dan Fano sebelum meninggalkan sekolah. Ia berpesan bahwa pasti suatu saat akan terungkap siapa yang salah dalam kasus Fani sebelumnya.
"Fano, kamu maju ke depan," titah Wali Kelas, lantaran melihat Fano yang sengaja ditutupi.
Namun, Wali Kelas itu sudah melihat wajah Fano yang memar serta sudut bibirnya yang berdarah. Padahal, Fano sudah berusaha menyembunyikan dengan kepala yang tertunduk. Tapi karena mendengar namanya dipanggil oleh wali kelas, ia pun akhirnya beranjak dan menghampiri sang guru di depan kelas.
"Ada apa, Bu?" tanya Fano sembari menahan rasa sakit di wajah.
Sebelum guru masuk ke dalam kelas, Fano tak sempat menyeka darah serta memarnya pun terlihat dengan jelas.
__ADS_1
"Wajah kamu kenapa memar seperti itu, apalagi sudut bibirmu tampak berdarah!" sosor Wali Kelas, dengan tatapan penuh selidik.
Fano seketika melirik ke arah Marks, ingin saja rasanya Fano mengadukan perilaku Marks yang sudah kelewat batas, menjadi seorang anak pembully. Namun, saat Marks menangkap wajah Fano, ia memberikan ancaman dengan tatapan tajam, memperingati Fano agar tidak berani membuka mulut.
"Oh ... tadi saya terjatuh, Bu di halaman sekolah, terbentur sebuah batu uang menghantam wajah saya. Akibatnta ternyata membuat pipi saya memar dan sudut bibir saya berdarah," kilah Fano, sembari memegang pipi dan sudut bibirnya.
"Yang jujur kamu, Fano! Mana mungkin lula seperti itu karena terjatuh. Sepertinya luka itu bukan jatuh karena lukanya sangat berbeda, kalauoun jatuh pasti tidak seperti ini!" sela Wali Kelas.
"Ayo, semuanya yang ada di dalam kelas ini, mengaku apa yang terjadi sebenarnya pada Fano!" cecar perempuan itu seraya mengedarkan pandangan.
Namun seluruh siswa tampak diam dan tak ada yang berani menjawab pertanyaannya. "Baiklah kalau kalian tidak mau jujur pada saya. Kalau begitu, Fani kembali ke tempat dudukmu. Ibu yakin nanti suatu saat persoalan ini akan terungkap. Buat kalian jangan sok-sokan menjadi pembully karena sekolah tidak akan mentolerir murid yang berani membully teman sekelasnya. Mereka nantinya akan dikeluarkan dari sekolah ini tanpa peringatan apapun, bahkan tidak akan bisa melanjutkan studynya ke sekolah lain!" ancam Wali Kelas.
Ancaman itu sedikit membuat Marks bergeming, ia tampak takut. Termasuk teman sebangku Marks yang juga berbisik dan mempertanyakan tentang ancaman wali kelas mereka.
"Marks, gimana nih kalau kita ketahuan?" tanya teman sebangkunya sembari berbisik.
"Hush! Tenang aja, orang miskin seperti itu nggak berani berbuat macam-macam apalagi mengadukan kita pada guru!" jawab Marks dengan yakin.
Kemudian, Setelah Fano kembali duduk, akhirnya menyeka sudut bibirnya agar kucuran darah segera berhenti. Lalu, ia membiarkan pipinya memar seperti itu. Fano pun semakin larut dalam pikirannya, bagaimana cara menyembunyikan luka memar yang ada di pipinya, sebab sang kakak pasti akan menanyakan persoalan tersebut dan tidak akan membiarkannya bisa terluka separah itu.
Tak hanya itu, dalam pelajaran yang dijelaskan oleh wali kelas mereka bahkan Fano sama sekali tak melirik pelajaran. Ia merenungkan nasib dan persoalan yang menjadi permasalahannya, mengapa ia bisa menjadi salah satu korban pembullyan di dalam kelas tersebut. Padahal awalnya dulu karena memang Fani sering sekali menegur Marks jadi akhirnya Marks meluapkan kekesalannya pada Fano.
Apa lagi semenjak mengetahui Fano tidak berani melawan Marks, membuat Marks semakin semangat untuk membully Fano.
Selama 1 jam pelajaran hingfa usai, Marks kembali memperingati Fami agar tidak berani bertindak untuk membuka mulutnya pada satu orang pun. Jika itu terjadi, dia tak segan-segan akan menyakiti Fano apabila persoalan itu semakin meluas.
__ADS_1
Setelah Wali kelas meninggalkan ruangan, Marks langsung menghampiri Fano, ia memberikan ancaman pada lelaki itu.
"Awas, kalau lo berani macam-macam, ngadu sama guru atau wali kelas kita!" bentak Marks sembari menunjuk wajah Fano dengan tatapan tajam.