
"Jadi gini, kemarin Fani itu terlibat perkelahian dengan teman satu kelasnya. Ternyata dia difitnah oleh teman sekelasnya, dia dianggap melakukan tindakan buruk pada teman satu kelasnya yang berujung pada pembullyan," ungkap Leticia, tak mau menutup-nutupi persoalan keluarga mereka.
"Tapi apakah Fani melakukannya?" sergah Eric seraya meyakinkan.
Leticia hanya menggeleng kecil, lalu dia melanjutkan perkataannya. "Tidak! Aku yakin dia tidak akan pernah melakukan hal seperti itu. Aku yakin memang teman-temannya sengaja memfitnah Fani, aku tahu betul bagaimana sikap Fani," terang Leticia.
"Kalau begitu akan aku selesaikan dan aku tuntut pihak sekolah!" tegas Eric, semakin berang karena ia tak tega melihat Fani mendapatkan hukuman dari pihak sekolah.
"Ja–jangan! Aku sudah menyelesaikannya kok, pihak sekolah memberikan hukuman pada Fani, hukumannya dia diskor selama seminggu, tidak boleh mengikuti jadwal pembelajaran. Namun aku yakin suatu saat kasus itu akan segera terungkap!" lanjut Leticia lagi.
"Ini tidak bisa dibiarkan, jangan sampai pihak sekolah mendukung orang yang melakukan pembullyan dan memfitnah orang yang tidak bersalah," kecam Eric, seraya mengernyitkan dahinya.
Leticia mengurutkan kening, ia tampak bingung karena melihat tingkah Eric yang begitu perhatian apalagi Eric sengaja membela keluarganya ingin menyelesaikan persoalan tentang Fani. Ia sedikit merasa lega karena suaminya itu memberikan perhatian kepada keluarga kecilnya.
"Sudahlah biarkan saja Fani yang mendapatkan hukuman itu, aku juga tetap meminta dia agar belajar di rumah saja. Sementara Fano tetap belajar seperti biasa. Karena dia tidak pernah menyangkut masalah seperti itu," ucap Leticia hingga akhirnya menutup pembicaraan inti mereka.
"Yasudah kalau itu maumu, kalau begitu nanti kalau terjadi sesuatu yang lebih mengkhawatirkan, katakan saja padaku, aku akan menyelesaikannya!" jelas Eric.
"Iya, silakan saja kamu ke kamar, aku ingin membenahi semua barang-barang dan pakaian kotor ini, aku mau memasukkannya ke dalam keranjang baju kotor," sela Leticia.
Eric tampak diam sejenak, lalu ia berdecak dan menatap datar istrinya. "Sudahlah jangan terlalu capek untuk mengurusi pekerjaan rumah tangga. Biarkan saja para maid yang mengurusnya, kamu lebih baik beristirahat saja daripada harus lelah mengurus semua itu."
__ADS_1
Leticia hanya mengangguk, lalu menurut dengan apa yang dikatakan suaminya. Setelah Eric berlalu pergi, Leticia segera memanggil salah satu maid untuk membenahi semua barang-barang bawaan yang berada di dalam tas.
Akhirnya Leticia bergegas menyusul kepergian suaminya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar. Melihat Leticia yang menghampiri dirinya di kamar, tiba-tiba Erik merasa kikuk. Entah mengapa suasananya terasa aneh dan mencanggungkan.
Berbeda halnya dengan Leticia, dia justru menganggap keberadaan dirinya dan suami yang bersama-sama adalah hal yang biasa. Saat menatap wajah Eric pun tak ada pikiran aneh yang terlintas di dalam pikiran Leticia karena dia tidak mengetahui awal mula sentuhan yang sudah dilayangkan oleh suaminya sejak tadi malam.
Namun, Eric merasa sangat grogi, apalagi saat dia kedua bola mata mereka saling bertemu dan menatap satu sama lain. Pria itu khawatir Leticia mengetahui apa yang diperbuatnya tadi malam. Namun, pada akhirnya Eric berpura-pura bersantai dengan wajah yang datar, seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Memasuki hari yang menjelang sore, mereka akhirnya bersantai di ranjang, tampak masing-masing pasutri itu mengambil posisinya di atas ranjang. Setelah masing-masing membersihkan diri lantaran Eric sesampainya di kamar, ia langsung mandi dan bersih-bersih, sementara saat Leticia pun menyusul Eric sudah melihat suaminya rapih dan santai duduk di tepian ranjang.
Tak lama kemudian, Leticia langsung masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan diri.
Ceklek
Keduanya tampak berdiam diri dengan kegiatannya masing-masing. Kegiatan di hari Minggu saat weekend terakhir dimanfaatkan dengan beristirahat. Tak terasa Leticia telah menyudahi permainan game di ponsel, lalu ia tiba-tiba tertidur pulas di atas ranjang.
Tak menyia-nyiakan kesempatan itu, Eric yang tiba-tiba melirik wajah Leticia tampak pulas tertidur, seketika tiba-tiba hasratnya kian meningkat.
Dia menatap cukup lama wajah Leticia hingga akhirnya dia menangkup wajah Leticia dengan kedua tangan. Tak berhenti disitu, Eric juga mengusap wajah Leticia dengan lembut terutama dikedua pipi Leticia menggunakan jari jemarinya, mengelus pipi itu dengan lembut dan penuh perhatian.
Tanpa sadar ternyata gairahnya semakin meningkat, dengan susah payah Eric meneguk shaliva yang menyangkut di kerongkongan, lalu ia tiba-tiba menyambar bibir tipis milik istrinya.
__ADS_1
Cup ...
Satu ciuman mendarat dibibir itu, Eric melumattnya secara perlahan dan semakin hanyut dalam buaian pagutan yang terasa manis baginya. Sementara, Leticia tampak pulas dan tak terpengaruh dengan apapun yang terjadi saat ini.
Ia terlihat begitu nyenyak tidurnya dan tak menyadari apapun yang sudah terjadi pada tubuhnya.
Tampaknya, Eric belum puas melayangkan sentuhan di bibir istrinya, Eric pun mulai memainkan tangan dengan meraba sekujur tubuh istrinya. Dimulai dari dada, perut hingga namun kepaha.
Namun tubuh Leticia seakan-akan berdesir, ia bergeliat manja saat menikmati sentuhan suaminya, seperti merasa ada yang tengah memegangi tubuh yang tengah tertidur pulas.
Melihat tubuh Leticia yang bergerak mengikuti alur sentuhan tangan pria itu, akhirnya Eric langsung menjauhi tubuh istrinya, ia langsung mengambil ponsel yang ada di atas nakas dan pura-pura menatap ponsel itu lebih lama.
Eric mencurigai kalau Leticia sudah tersadar bahkan menciduk dirinya saat memberikan sentuhan hangat. Namun, dadanya merasa lega saat melihat Leticia tampak pulas kembali.
Tubuh Leticia kembali tak ergerak, lalu Eric memanfaatkan momen itu kembali dengan melayangkan tangan untuk memastikan kalau Leticia benar-benar tak terbangun.
Eric sengaja menggoyangkan tubuh Leticia, tapi ternyata wanita itu benar-benar tidak bergerak. Namun aksi Eric terhenti, sebab ia tidak mau ketahuan oleh istrinya.
Akhirnya dia pun kembali membersihkan pikirannya dengan menatap kembali ipadnya untuk mengecek beberapa pekerjaan yang belum tuntas.
Tiba-tiba Eric pun merasakan kantuk yang luar biasa, sesaat dia memijat-mijit pelipis matanya kemudian tiba-tiba tertidur lelap. Saat dirinya larut dalam tidur, ternyata Leticia malah terbangun, ia menatap Erik yang bersandar di ranjang dengan datar.
__ADS_1
Kemudian Leticia mengusap kedua bola matanya untuk menyadarkan diri, lalu beranjak dari atas ranjang. Ia bergegas keluar dan menghampiri beberapa maid yang tengah sibuk mulai memasak untuk menyiapkan makan malam mereka.