Pemuas Hasrat Tuan Eric

Pemuas Hasrat Tuan Eric
bab52


__ADS_3

Di dalam rumah, Fani langsung berlari setelah mendengar kedatangan kakak dan adik kembarnya. Ia datang dengan heboh menanyakan bagaimana kelanjutan kasus bersama Marks. Bahkan, Fani merasa sangat penasaran dengan kejadian pembullyan hingga membuatnya sejak tadi tak fokus belajar karena memikirkan nasib Fano.


Fani berlari-lari dengan kencang menghampiri Fano yang baru saja masuk dan menyusuri ruang tamu. Kedatangan Fani lantas membuat saudara kembarnya itu sangat terkejut. Sebab, Fano melihat Fani datang dengan nafas yang terengah-engah. Meski begitu, Fani sibuk menanyakan bagaimana akhir dari kejadian pembullyan yang dilakukan oleh teman sekelas mereka.


"Fano, gimana jadi akhirnya?" seru Fani seraya menetralkan nafas yang masih terenggal-renggal.


Melihat tingkah saudara kembarnya Fano hanya terkekeh apalagi Fani tampak sangat penasaran.


"Tenangkan dulu dirimu. Nafasmu sampai terengah-engah lagi, yang pasti sih semuanya sudah terselesaikan dengan aman!" jawab Fano dengan bangga.


Pria itu lantas duduk di ruang tamu sembari menceritakan kejadian dan merunutkannya secara rinci.


"Aman bagaimana?" timpal Fani, duduk di samping Fano sembari menatap lekat saudara kembarnya, perempuan itu terus bertanya-tanya apa maksud perkataan Fano.


"Yang pasti sih, Marks sudah dikeluarkan dari sekolah jadi semuanya sudah diselesaikan sama mas Eric. Aku sangat bangga dan salut pada mas Eric yang sangat bersikap sangat berani membelaku. Aku tidak menyangka mas Eric sepeduli itu pada keluarga kita," jelas Fano.


"Wah ... jadi kamu dibantu sama mas Eric?" ucap Fani, kemudian Leticia juga baru masuk dan melihat kedua adiknya tengah asik mengobrol dengan sangat serius.


"Eh ... ada apa ini? Bukannya membiarkan Fano istirahat dulu malah dicecar berbagai pertanyaan," keluh Leticia sembari ikut menimbrung dengan adik-adiknya dan duduk di ruang tamu.


"Hehe ... aku penasaran Mbak apa yang terjadi pada Marks si pembully itu, aku ingin sekali meninju wajahnya tapi karena aku memang tidak diperbolehkan masuk sekolah, alhasil aku hanya bisa mendengarkan kabar dari Fano." Fani sangat menggebu-gebu mengatakan isi hatinya.


"Wajar sih, kamu kan saudara kembarnya Fano jadi kamu tidak suka melihat saudaramu mendapatkan perlakuan buruk seperti itu," tambah Leticia.


"Jadi benar Marks nggak akan sekolah lagi di sekolah kita?" tanya Fani lagi.

__ADS_1


Ia mengepalkan tangan dan meninjukan ke dalam telapak tanga yang satunya.


"Ya, dia tidak akan kembali ke sekolah lagi dan kamu tahu kalau dia tadi sampai bertekuk lutut di depan Fano untuk meminta maaf karena mas Eric yang meminta agar dilakukan dia melakukan seperti itu!" ujar Leticia, sembari berdecit dengan kesal.


"Hahaha ... pasti dia malu sekali karena sampai meminta maaf dengan cara bertekuk lutut di depan Fano," kata Fani, sembari meledek dan membayangkan Marks bertingkah seperti yang diceritakan sang kakak.


"Ya, mukanya memang sangat memalukan. Bahkan dia cemberut dan terlihat konyol sekali," ungkap Fano sembari terkekeh.


Fano sangat suka mengingat kejadian momen tadi, terutama saat terjadi permintaan maaf walaupun akhirnya Famo memaafkan Matks tanpa bisa membalas pukulan-pukulan yang dihantamkan pada dirinya kemarin-kemarin.


"Harusnya kamu balas dulu dong, Fano. Kasih dia tinjumu biar dia merasakan bagaimana sakitnya dipukul seperti itu," tandas Fani semakin kesal.


"Tadinya aku juga berniat seperti itu tapi nyaliku tidak terlalu besar. Sebab semua guru menyaksikan perdebatan dan permintaan maaf itu di depan ruang guru," balas Fano menjelaskan.


"Tidak ada kok, semuanya tidak ada yang berani membela si Marks, bahkan papanya sendiri yang terang-terangan membela akhirnya ujung-ujung meminta maaf pada pada mas Eric dan Mbak Leticia."


"Iya, mbak kesal sekali dengan paparnya Marks sudah tahu anaknya salah malah dibelain terus," sambar Leticia, mendelik dengan kesal.


"Ah ... kacau sekali itu papanya Marks. Pantas aja anaknya bersikap seperti itu, ternyata papanya juga sangat arogan," gerutu Fano.


"Mungkin didikan dari papanya sangat otoriter sehingga anaknya menjadi seperti itu, atau mungkin anak itu kurang kasih sayang makanya dia melampiaskan kekesalan pada anak-anak lain," ungkap Leticia dengan geram


"Yang aku tahu sih si Marks itu sudah tidak memiliki seorang ibu sama seperti kita, Mbak tapi dia memiliki ibu tiri yang kejam. Mungkin saja dia ingin membalas ibu tirinya tapi tidak bisa akhirnya dia meluapkan kekesalannya pada teman-temannya yang lain," sahut Fano.


"Oh ... jadi perempuan yang tadi di samping Papannya Marks itu adalah ibu tirinya? Pantas aja lah anaknya bersifat seperti itu, mungkin memang dia sepertinya kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya," lanjut Leticia, merasa semakikn larut dalam dunia pergosipan tersebut.

__ADS_1


Pembicaraan itu tak henti-henti, mereka sangat serius menggerutu dan memarahi sikap Marks yang bikin kesal bahkan sampai hingga masuk waktu jam makan siang, akhirnya Leticia mengajak kedua adiknya untuk membubarkan diri dari acara gosip yang sangat hot itu.


"Eitss ... yasudah, ayo makan dulu. Tidak terasa loh, sudah jam 12 siang ternyata. Kita juga harus segera istirahat, sudahlah yang terpenting si Marks itu sudah dikeluarkan dari sekolah. Mungkin dia bisa bersekolah di tempat lain tapi dia tidak akan pernah bertemu kalian berdua lagi!" sambung Leticia, sembari beranjak dari kursi.


"Mbak, aku juga lapar karena dari tadi menunggu Mbak dan Fano pulang. Tetapi aku sangat penasaran bagaimana dengan kelanjutan kisah Fano," papar Fani terkekeh seorang diri.


"Iya, Mbak mengerti. Fano kamu letakkan dulu tasmu dan ganti bajumu segera datang ke meja makan. SedangkN Fani kamu langsung ikut Mbak saja!" titah Leticia.


Fani dan Leticia berjaan ke meja makan, ia meletakkan tas yang di bawa tadi saat ke sekolah secara sembarangan di meja ruang tamu. Kemudian Fani pun mengekori dari belakang, keduanya langsung duduk di kursi makan.


Leticia tak lupa mengajak para maid untuk ikut bergabung untuk menyantap siang yang sudah disajikan.


"Mbak, semuanya ikut makan dulu," ajak Leticia sembari menganggukkan tangan pada ketiga maid


Lalu, ketiga maid berbondong-bondong datang ke meja makanc mereka memang sudah terbiasa diajak makan siang oleh Leticia bersama-sama karena itu sudah kesepakatan Leticia. Sebab, menurut Letici masakan itu terlalu banyak, ia tidak mau makanan di meja makan malah mubazir.


Meskipun pada akhirnya tetap dimakan oleh para maid, tetapi Leticia ingin memberikan kesempatan pada mereka untuk menikmati makan malam bersama dan bergabung dengan kumpulan keluarga.


Leticia sangat suka jika makan bersama-sama daripada membiarkan maidny berdiam diri di dapur tanpa menyantap makan siang.


"Ayo, buruan jangan sibuk bersih-bersih. Lebih baik makan dulu," tegur Leticia dengan tegas.


"Kita juga lagi jalan ini, Nyonya menuju ke sana," sahut Beta—Seorang Maid.


Tak lama, Fano juga bergabung di meja makan, semuanya menikmati makan siang itu dengan nyaman dan tenang. Hanya berlangsung selama 20 menit, mereka sudah menyelesaikan makan siang. Leticia pun akhirnya berpamitan pada adik-adiknya dan meminta kedua adiknya beristirahat di kamar masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2