Pemuas Hasrat Tuan Eric

Pemuas Hasrat Tuan Eric
bab54


__ADS_3

"Wah ... Bapak, suami idaman sekali sih, sangat perhatian pada istri, kemudian sangat berbaik hati pada ipar sendiri," puji Nia, sembari menyematkan senyum yang tipis.


"Mau bagaimana lagi, soalnya istri saya itu adalah anak yatim piatu jadi tidak ada lagi yang bisa diandalkan selain saya," tambah Eric.


****


Saat ini sedang menunjukkan pukul 8 malam namun Varrel Pratama tiba-tiba sedang asyik berjoget di sebuah klub malam. Padahal waktunya masih sangat terlalu dini untuk menikmati musik ajib-ajib di dalam diskotik.


Disaat, orang-orang pergi ke klub malam mulai pukul jam 12 malam tapi tidak dengan Varrel Pratama. Ia tetap ingin ke klub malam saat masih jam 8 malam. Sebab, Varrel tidak kuat jika harus bergadang apalagi umurnya sudah tidak muda.


Meskipun sudah memasuki usia paruh baya, dia tetap berjiwa muda, ingin selayaknya seperti seorang anak muda masih berkumpul dengan teman-temannya di klub malam. Tak hanya itu, bahkan ia sengat suka jika beberapa perempuan pun mendampinginya saat mendengar lantunan ajep-ajep musik yang terdengar sangat keras hingga memekakkan telinga.


Selain itu, pemuda yang menjadi teman dekat Varrel Pratama saat berada di klub malam memang menunggu kedatangan pria tua itu. Mereka sangat suka dengan Varrel Pratama karena ia kerap memberikan traktiran jika sudah datang di klub malam.


"Ayo pesankan saja minuman apapun yang kalian inginkan, saya yang akan membayarnya!" teriak Varrel seraya memanggil beberapa wanita untuk mendampingi.


"Pak, apa nanti anak bapak tidak marah kalau pergi ke klub malam seperti ini?" tanya seorang anak muda.


"Ah dia sudah biasa. Lagian saya tinggal sendiri kok di rumah jadi anak saya tidak akan bisa komplain!" tandas Varrel Pratama.


Pria itu, kini tidak lagi menjadi seorang CEO di perusahaan Varrel Grup, sehingga dirinya sudah tidak memiliki kegiatan lain. Dengan pasrah, akhirnya ia memilih untuk bersenang-senang menikmati masa tua, ia ingin menikmati momen yang tidak pernah dilakukannya selama masa muda yaitu salah satunya bersenang-senang di klub malam.

__ADS_1


Saat di klub malam, Varrel juga dikerumuni oleh beberapa perempuan yang sangat cantik-cantik. Ia memang meminta perempuan itu untuk menemani, bahkan dirinya masih bersikap sopan hingga tidak pernah menyentuh perempuan ataupun salah satu dari mereka. Dia hanya ingin tempat yang didudukinya ramai serta ia ditemani untuk menyantap makanan hingga minuman beralkohol.


Di dalam klub malam itu pun masih jam 8 malam, ternyata sudah banyak anak muda maupun yang tua-tua berada di klub malam, bahkan klub itu tidak pernah sepi karena selalu saja banyak yang berlalu lalang pergi dan keluar.


Varrel pun meneguk beberapa gelas minuman alkohol sehingga membuat kepalanya pusing bukan kepalang. Tiba-tiba, ada sosok seorang perempuan muda yang mendekati pria paruh baya itu, ia tahu bahwa pria itu adalah pria yang kaya raya yang tajir melintir sehingga dia dengan sengaja ingin menjebaknya.


"Tuan, ikutlah dengan saya. Saya akan menemani anda," pinta perempuan itu, lalu meletakkan tangan Varrel Pratama di dalam pundaknya.


Sebab, Varrel pertama sudah tidak sadarkan diri lantaran kepalanya terasa pusing dan ia pun menurut saja dengan perkataan perempuan itu.


Perempuan cantik itu, menuntun Varrel Pratama untuk memasuki sebuah ruangan karaoke private yang sangat luas dan besar. Bahkan ia sudah memberikan peringatan pada waiters bahkan pengamanan yang ada di klub malam.


Ia juga berkata bahwa tidak boleh diganggu saat berada di dalam ruangan karaoke. Kemudian, saat sudah berdua di dalam ruangan karaoke, perempuan itu melucuti baju Varrel Pratama, membuka aecara perlahan-lahan semua kancing kemeja yang menutupi tubuh para kekar pria paruh baya itu.


Varrel juga selalu menolak ajakan perempuan yang ingin tidur bersamanya. Kini, kesempatan bagi Mira saat Varrel tidak sadarkan diri. Kepala Varrel pun sudah berdenyut dengan kencang, matanya tertutup sangat erat dan tidak kunjung membuka, ia pasrah saja apapun yang dilakukan oleh perempuan itu padanya.


"Ah ... sial, kepalaku pusing sekali," pekik Vartel, sembari memegangi kepala dan merematnya dengan kencang.


Ia ingin segera sadar dan tidak mau terjadi sesuatu apapun pada dirinya. Saat itu, Varrel menyadari jika ada seorang perempuan yang berada di sekitarnya. Seketika, Varrel mencoba langsung membulatkan bola mata, lalu menatap perempuan itu denga tubuh yang setengah polos alias tidak mengenakan dressnya lagi. Mira memang sengaja membuka dress itu agar membuat suasana tampak semakin meyakinkan.


"Siapa kamu? Kenapa kamu tidak mengenakan baju sama sekali?" cecar Varrel, menatap penuh selidik perempuan yang berada di depannya , tengah mengenakan high heels dan hanya berbalut dalaman untuk menutupi area tubuh ramping dan mulusnya.

__ADS_1


"Ah ... Tuan, pura-pura lupa, dari tadi aku menemani tuan dan tidur bersama anda. Bahkan, anda dengan lihai melepaskan baju saya seperti ini," akunya dengan polos.


"Tidak mungkin, aku bukanlah pria yang sebejat itu!" bantah Varrel seraya mengerjapkan mata berkali-kali agar ia tersadar penuh.


Perempuan itu lantas duduk bersampingan dengan Varrel Pratama tanpa rasa malu. Ia pun menggoda dan memegang dada Varrel Pratama yang tampak setengah telanjang.


"Ahh! Itunya terlihat panjang. Tuan juga dari tadi selay menggodaku hingga mengajakku ke tempat ini." Mira meraba sekujur dada Varrel dengan jari jemarinya, lalu menarik tangannya dan menjilat jari telunjuk dengan lidahnya.


Farel tiba-tiba membentangkan tangan dan mendorong tubuh wanita itu sehingga ia terdorong ke pinggiran kursi yang ada di sana. Sontak saha, perlakuan Varrel yang kasar membuat perempuan itu terkejut.


Berani sekali di berbuat seperti ini kepadaku, lihat saja akan kuberikan pembalasan dan kau tidak akan bisa lolos dariku!


Mira bergumam untuk meluapkan kekesalannya.


"Ah ... Tuan, jangan seperti ini, mungkin Tuan lupa karena sedang mabuk berat tapi dari tadi Tuan menyentuhku, anda harus bertanggung jawab," rintih perempuan itu seperti seorang perempuan yang tengah tersakiti.


"Ah ... tidak mungkin aku berbuat seperti itu padamu, tanganku masih bersih dan tidak ada bekas apapun, aku juga masih mengenakan celana panjang ini," sahut para Varrel Pratama dengan lugas, karena ia memastikan seluruh tubuhnya tetap utuh dan tidak pernah menyentuh wanita itu.


"Astaga, aku lupa membuka celananya, bodoh sekali aku!" batin perempuan itu, menyeringai dengan kesal.


"Tuan, tadi anda sudah menyentuh tubuhku bahkan ingin mengajakku untuk melakukan penyatuan tapi aku selalu menolaknya karena aku takut apalagi Tuan sedang tidak sadar!" balas Perempuan itu dengan ketus, seolah-olah ingin meyakinkan Varrel.

__ADS_1


"Ah ... kau sudah gila. Pergi sana, dasar pelayan tololl, tidak mungkin aku menyentuh perempuan kotor sepertimu," sahut Varrel dengan lantang, lalu beranjak unguk mengambil kemeja yang berhamburan di lantai.


Namun, Mira justru pura-pura menangis dan ketakutan, bahkan seperti perempuan sedang merasa kalamg kabut sudah mendapatkan sentuhan dari pria hidung belang. Hal itu membuat Varrel tampak bergeming.


__ADS_2