Pemuas Hasrat Tuan Eric

Pemuas Hasrat Tuan Eric
bab61


__ADS_3

"Iya, soalnya dia ada meeting pagi ini dan itu sudah diberitahukan oleh sekretarisnya sejak tadi. Oleh karena itu, dia tampak terburu-buru dan segera ingin tiba di kantor. Mungkin saja sudah banyak yang menunggunya."


"Nggak biasanya lihat Mas Eric sangat terburu-buru, mungkin karena dia setiap hari terlalu terlihat santai bahkan biasanya masih sempar mengantarkan Fano untuk ke sekolah," kata Fani.


"Eh, sampai lupa, Mba. Fano, segera kamu sekarang berangkat soalnya udah jam berapa ini, lebih baik diantar sama sopir saja," titah Leticia dengan tegas.


"Ya, Mbak aku pamit dulu." Fano beranjak dari kursi, ia mencium punggung tangan kakaknya dan berpamitan dengan saudara kembarnya.


Hari ini, sangat cerah bagi Fano, dia pergi dengan rasa gembira karena sudah tidak ada lagi pengganggu yang akan membully saat tiba di sekolah nanti.


***


Kini, saatnya Fani dan Leticia untuk berangkat ke mall, menikmati buket uang yang diberikan oleh Eric, mereka akan menikmati moment shopping yang sengaja disiapkan oleh Leticia, bahkan ATM dan kartu kreditnya juga sudah menunggu untuk digunakan sebagai tambahan jika uang dari buket tidaklah cukup.


Selain itu, setelah menyelesaikan sarapan pagi, Leticia pun kembali ke kamar. Sama halnya dengan Fani, juga ikut kembali ke kamarnya. Mereka berdua bersiap-siap.


"Pakai baju yang bagus, kita akan belanja sekarang. Mbak, akan siap-siap dulu, jangan lupa mandi yang bersih," ujar Leticia seraya tersenyum lebar pada adik kecilnya.


"Iya, dong Mbak apalagi aku akan dibayarin! Jadi nggak sabar mau shopping sama Mbak," kekeh Fani, seraya mengerlingkan mata.


"Oke, Mbak ke kamar dulu." Leticia berlari kecil menaiki anak tangga, ia masuk ke dalam kamar.


Tak berselang lama, ua pun pergi ke kamar mandi, membersihkan diri pagi itu, dia sangat ceria karena sudah mendapatkan persetujuan dari suaminya untuk keluar rumah. Rasanya selama beberapa hari terasa sangat sumpek mesii ia menikmati statusnya sebagai seorang ibu rumah tangga dan istri yang tak pernah melakukan kegiatan apapun, yaitu hanya sekedar berdiam diri di rumah saja.

__ADS_1


***


Eric baru saja tiba di kantor tetapi semua para pemilik saham sudah berkumpul di sebuah gedung aula kantor untuk melakukan audiensi bersamanya.


"Pagi, Pak! Semua pemilik saham sudah menunggu Bapak," ucap Nia, menatap lekat bosnya saat tepat melintas di depan meja kerjanya.


"Oke, sebentar 5 menit lagi saya akan keluar dari ruangan. Saya akan meletakkan barang-barang ini di dalam ruangan," sahut Eric, lalu bergegas menarik handle pintu, ia segera menyimpan semua barang bawaannya termasuk jas dan tas kerja.


Eric kembali keluar dari ruang kerja, ia mengajak Nia untuk ikut bersamanya dalam rapat hari ini, karena Nia memang biasa tugasnya sebagai notulen untuk persiapan pencatatan kinerja saat menyelenggarakan meeting.


Suara riuh ricuh dari keributan para pemilik saham, yang tampak memprotes adanya penurunan saham hari ini. Meskipun penurunannya telah berkurang hanya mencapai 5% saja tetapi mereka tidak terima dan tetap ingin mendapatkan keuntungan penuh dari hasil dana yang diinvestasikan dalam perusahaan Varrel Group.


Kedatangan Eric membuat suara riuh ricuh itu menghilang seketika.


Keheningan sudah ada di dalam ruangan itu, mereka sangat siap nanti suara yang akan mereka dengarkan dari pendapat seorang CEO perusahaan Varrel Group.


"Selamat pagi semuanya!" Eric berdiri tepat di depan, dihadapan semua para pemilik saham.


"Pagi!" jawab semua pemilik saham, dengan rasa panik dan kecewa.


"Bagaimana ini, Pak terjadi penurunan nilai saham perusahaan ini, bahkan ini adalah kali pertama Vartel grup mengalami penurunan harga saham yang nilainya cukup anjlok sepanjang masa," celetuk salah seorang pemilik saham


"Ehm ... kita mulai sekarang rapatnya. Hari ini saya akan menjelaskan mengapa hal ini bisa terjadi, semuanya tidak perlu khawatir karena kami juga tengah mengidentifikasi apa permasalahan yang terjadi hingga menyebabkan penurunan nilai saham di perusahaan ini."

__ADS_1


"Nah, selama di tangan oleh Pak Varrel Pratama, tidak pernah terjadi penurunan nilai saham tetapi saat berpindah tangan dengan anda, malah ada penurunan saham sehingga membuat kerugian pada kami hari ini!" sergah seorang pemilik saham.


"Betul sekali! Akibat penurunan harga saham yang terjadi sejak kemarin mulai dari 20% hingga mencapai 5% pagi ini, memang membuat kerugian pada pemilik saham, nilai investasi kami memiliki nilai keuntungan yang berkurang derastis!" sahut yang lain.


Alasan pemilik saham protes dengan nilai penurunan harga saham memang karena ini baru pertama kali terjadi sepanjang masa pendirian perusahaan Varrel Grup. Mereka protes meskipun modalnya tetap masih bisa kembali.


"Kami mengerti, Pak memang tidak hanya bapak saja yang merasa kesulitan,!kami sendiri juga merasa kesulitan karena adanya penurunan saham tersebut. Beberapa pemilik saham menarik kembali dana investasinya. Tapi harusnya kalian jangan khawatir karena kami akan menyelesaikan persoalan ini," tandas Eric dengan tegas seraya menatap tajam semu tamu yang ada di ruangan itu.


"Kami hanya ingin meminta kejelasan, segera persoalan ini ditangani agar harga saham kembali normal karena kerugiannya jika berhari-hari justru akan berdampak pada para pemilik saham," tanda seseorang.


"Jadi hari ini memang terjadi kesalahan pada salah satu anak perusahaan kami sehingga mengakibatkan adanya nilai penurunan harga saham di perusahaan pusat kita ini, tapi kami meyakini persoalan itu akan segera selesai dan besok nilainya akan kembali normal, jangankan besok kami juga ingin hari ini juga bisa kembali normal," kilah Eric, seraya mengeluarkan nafas kasar.


"Memang sudah seharusnya nilai saham itu kembali normal hari ini, karena jika terlalu berlarut-larut kita semua akan merugi," desak pemilik saham yang lain.


"Pak, kami mengerti tentang kerugian itu, kami harap kalian harus sabar menunggu. Sehingga kami akan mengatasi ini, intinya permasalahan di anak perusahaan memang terjadi karena kelalaian seseorang. Jadi kami akan mengurusnya dalam waktu cepat dan setelah menyelesaikan rapat bersama kalian, saya akan menangani anak perusahaan itu!" timpal Eric dengan kesal.


"Asalkan jangan dibiarkan berlarut-larut karena ini menyangkut status perusahaan Bapak. Jangan sampai nilai saham semakin anjlok, karena berada di tangan penanganan anda, artinya anda tidak becus bekerja makanya terjadi penurunan harga saham!" protes seorang pria.


"Iya, kami akan segera mengatasinya, kalau begitu saya akhiri dulu meeting hari ini, kita akan melanjutkan meeting lagi jika nilai saham sudah kembali normal," kata Eric.


Semua para pemilik saham akhirnya membubarkan diri dari ruangan, kecuali Eric dan Nia mereka masih berada di ruangan itu. Eric tampak frustasi saat melihat ipadnya, yang ternyata malah terjadi peningkatan harga penurunan saham yang tadinya 5% kini melonjak menjadi 10%.


Eric merasa frustasi dan berkali-kali menyugar rambut saat duduk di ruangan meeting itu, sementara Nia hanya menatap bosnya dengan tatapan datar. Ia pun tidak bisa melakukan apapun karena kebijakan ini sudah sesuai sistem yang ada.

__ADS_1


__ADS_2