
"Jujur saja, Mbak aku tidak punya nyali, sifatku sangat berbeda dengan Fani yang terlalu pemberani. Aku orangnya penakut dan tidak berani melawan. Oleh karena itu Marks menjadikanku bulan-bulanannya dan korbannya," ungkap Fano tertunduk lesu.
"Kamu jangan khawatir, besok Mbak akan menyelesaikan semua ini dengan cepat, kamu tidak perlu pindah sekolah tetapi anak itulah yang harus angkat kaki dari sekolah!" berang Leticia.
Sembari menunggu panggilan dari dokter yang akan melakukan visum, Leticia tampak berpikir bagaimana caranya ia menyelesaikan persoalan tersebut. Namun satu-satunya cara yang terlintas di dalam pikirannya adalah melibatkan Eric sebagai suaminya untuk menyelesaikan persoalan yang ada di sekolahan Fano.
"Sepertinya aku harus melibatkan Tuan Eric, kalau tidak tentu saja adikku akan terus menjadi korban pembullyan," gumam Leticia sembari menatap nanar wajah adiknya yang sudah babak belur.
Tak lama, Leticia pun dan Fano masuk ke dalam sebuah ruangan, mereka melakukan visum pada wajah dan perut Fano. Begitu hancur hati Leticia ketika mengetahui kalau hari ini pertama kali Fano merasakan babak belur, tetapi bekas memar di perut adiknya itu diketahui sudah sejak beberapa hari yang lalu.
"Bu, ini hasil visumnya." Seorang perawat mengulurkan tangan, menyerahkan hasil visum yang sudah ditunggu oleh Leticia selama 20 menit terakhir.
Leticia melihat visum itu, lalu meraih dengan satu tangan. Hasil visum akan dijadikan sebagai bukti kuat untuk melaporkan Marks yang merupakan seorang pelajar tetapi sudah nekat melakukan aksi kekerasan.
"Makasih, Sus!" Leticia bergegas pergi membawa Fano bersamanya. Sebelumnya, ia melakukan proses pembayaran untuk biaya rumah sakit.
Leticia dan Fano, kembali ke rumah dan menyiapkan rencana untuk menyampaikan tentang kejadian hari ini pada Eric.
***
Eric menyampaikan pesan kepada karyawannya untuk tetap bekerja dengan semangat, bahkan semakin giat demi mencapai target hingga mendapatkan penghasilan sesuai dengan keinginan pencapaian perusahaan.
__ADS_1
Selain itu, Eric juga melanjutkan rapat bersama koleganya agar mereka bisa bersaing di tengah-tengah gempuran perusahaan yang memiliki anak perusahaan yang banyak. Tak tanggung-tanggung, bahkan Eric juga mempersiapkan strategi untuk mengembangkan perusahaan ke depan untuk menaikkan nilai saham pada perusahaan utama yang mereka miliki.
Usai nenyelesaikan rapat bersama para karyawan dan kolega, Eric pun tampak bersantai di meja kerja. Ia menyandarkan kepala di sandaran kursi kebesarannya, lalu menatap langit-langit kantor. Rasanya tak sabar ia menanti hari yang semakin sore sehingga bisa segera pulang ke rumah untuk menemui istrinya yang seharusnya akan disentuh malam ini.
"Kenapa bayangan Leticia tak pernah bisa hilang dari pikiranku, rasanya aku ingin selalu berada di dekat wanita itu!" racau Eric dengan pikrian yang semakin melayang-layang pada istri kontraknya.
Semenjak hari pertama Eric mulai menyentuh istrinya, ia merasa seperti kecanduan pada tubuh istrinya sendiri. Bahkan ia ingin sekali terus-terusan berada di dekat Leticia. Entah mengapa perasaan Eric semakin menggebu-gebu ketika bersama dengan istrinya tersebut.
"Tunggu aku, Leticia! Aku akan segera pulang," batin Eric seraya menyematkan lengkungan lebar di kedua sudut bibir.
****
"Fano, jujur sama Mbak kapan pertama kali kamu mendapatkan pembullyan dari Marks?" tanya Leticia, saat mereka duduk di kursi mobil saat dalam perjalanan pulang.
"Kapan kamu terakhir kali dipukuli oleh dia?" timpal Leticia.
"Terakhir kali pagi ini, Mbak. Aku benar-benar digebukin saat datang ke kelas, dia langsung menamparku, menendang perutku, bahkan aku sampai terlempar ke dinding," ujar Fano.
Kemudian, lanjut Fano, kemarin saat dia terlibat permasalahan dengan Fani, Marks juga kembali memukuli setelah kembali ke kelas. "Dia juga melayangkan pukulan di perutku sehingga masih tersisa memar di perut ini," ungkap Fano, sembari menunjuk ke arah perut.
"Kenapa bisa ada anak sejahat itu? Apa dia tidak diajari oleh orang tuanya?" sesal Leticia dengan ketus.
__ADS_1
Ia pun menatap wajah adiknya dan semakin tak tega jika mengingat adiknya mendapat berkali-kali pukulan dari seorang temannya sendiri.
"Apakah tidak ada anak temanmu yang membantu saat kamu digebukin di depan kelas?" tanya Leticia lagi.
"Mereka semua nggak berani, Mbak karena jika mereka ikut campur maka merekalah target selanjutnya dari Marks. Tentu saja Marks tidak akan segan-segan memukuli mereka!" desah Fano.
"Kalau begitu kamu besok jujur saja pada gurumu, jangan takut! Mbak akan berada di belakangmu dan si Marks itu akan segera dikeluarkan dari sekolah, kamu dengar sendiri kan apa kata Wali kelasmu tadi pagi?" tambah Leticia, menatap lekat wajah adiknya.
"Iya, Mbak wali kelas tadi sudah menerangkan katanya kalau ada anak yang terlibat pembullyan maka dia akan dikeluarkan secara tidak hormat dari sekolah, bahkan tidak bisa melanjutkan lagi pendidikannya di manapun!" balas Fano.
"Nah, itu kamu tahu. Seharusnya kamu sudah berkata jujur langsung pada Wali kelasmu agar dia segera ditindak!" gerutu Leticia.
"Tidak ada bukti kuat, Mbak makanya aku tidak berani apalagi Fani sedang tidak masuk sekolah. Walaupun semua anak menyaksikan aku digebukin tapi mereka tetap diam dan bungkam karena mereka sudah diancam oleh Marjs tidak boleh menyampaikan pada guru maupun guru BP," hardik Fano.
Penjelasan dari Fano semakin membuat Leticia tampak yakin ingin mengeluarkan Marks dari sekolah. Leticia ingin memberikan pelajaran pada anak tersebut.
Bahkan, tak tanggung-tanggung Leticia ingin memberikan peringatan sekaligus kepada kedua orang tua Marks dengan cara menuntut pelajar itu ke polisi. Sehingga kedua orang tuanya bisa mengajari anaknya untuk bersikap lebih santun dan baik kepada teman sendiri.
"Yasudah, kalau begitu Fano kamu istirahat saja dulu. Besok kamu pergi ke sekolah sama Mbak aja!" papar Leticia.
"Tapi Mbak, apakah yakin bisa mengeluarkan Marks dari sekolag? Keluarga Marks itu orang kaya lho, Mbak. Jadi mungkin kita nggak bisa menyentuh mereka apalagi mengeluarkan Marks dari sekolah," terang Fano, setelah mengingat keluarga Marks adalah deretan orang terkaya yang berada di sekolahan itu, bahkan salah satu keluarga dengan memberikan donasi terbesar untuk sekolah swasta mereka.
__ADS_1
"Tak perlu khawatir tentang itu, Mbak akan menyelesaikannya secara tegas dengan melibatkan Kakak iparmu!" ujar Leticia dengan tegas, ia semakin tersulut mendengar jika Marks berasal dari keluarga kaya bahkan bisa lolos dari sentuhan hukum.
Fano mengangguk dengan yakin, ia merasa tenang setelah mengungkapkan semua yang terjadi di sekolahan. Apalagi jika ia berhasil mengeluarkan Marks sehingga tidak ada lagi anak pembully yang berani untuk melakukan kekerasan pada dirinya baik pada teman satu kelasnya.