
Sementara saat itu, yang sangat disukai oleh Leticia hanyalah buket yang berisi bunga asli, sedangkan buket berisi uang hanya dia tatap saja karena merasa aneh dengan buket uang tersebut.
Selama ini, soalnya ia tidak merasa kekurangan uang apalagi suaminya memang sudah memberikan kartu kredit bahkan ATM untuk dipakainya sehari-hari.
Saat sedang asik mencium buket bunga mawar, tiba-tiba Eric keluar menggunakan handuk dari kamar mandi, sontak saat pria itu keluar membuat Leticia terkejut dan merasa gugup.
Ia melihat tubuh Eric yang sangat gagah dengan perut seperti roti sobek. Entah mengapa, tidak ada rasa kekhawatiran Eric meski dipelototi oleh istrinya. Ia tampak begitu santai dan biasa saja saat keluar dari kamar mandi meski mendapati Leticia tengah menatapnya dengan tajam.
"Tu-tuan, anda sudah mandi ternyata, aku kira kamu belum bangun jadi aku ingin membangunkanmu!" ucap Leticia sembari terbata-bata.
"Oh ... sebab, hari ini aku ada rapat pagi dengan para pemilik saham jadi aku harus bergegas ke kantor karena Nia sudah mengingatkanku sejak tadi," celetuk Eric dengan asal dan ia memang berkata jujur, sebab sekretarisnya itu terus mengingatkan melalui pesan pribadi yang dikirimkan Nia ke ponsel Eric.
Mendengar nama Nia yang sangat akrab di telinga, lantas membuat Leticia merasa bingung dan serba salah. Entah mengapa hatinya serasa terguncang dan berdegup dengan kencang seperti ada rasa iri, marah, kecewa bahkan mengamuk dari dalam tubuh.
"Kalau begitu, Tuan harus sarapan dulu, di bawah sudah disiapkan seluruh sarapan pagi," lanjut Leticia.
"Kamu tunggu saja di bawah, saya akan segera ke sana," jawab Eric dengan formal.
Namun Leticia ganya berdiam diri di tempat, ia masih memegang buket bunga yang besar yang berada di tangannya sembari menikmati pemandangan buket yang sangat indah menurutnya.
"Loh .. kok masih diam di situ." Eric menatap penuh selidik, netranya melihat Leticia yang berdiam diri kaku di tempat, bahkan tak bergerak sedikit pun.
Padahal tadi suaminya isudah mengusir dari dalam kamar.
__ADS_1
"Eh, sorry! Aku masih menikmati bunga pemberianmu ini. Terima kasih atas pemberian bunga ini, Tuan!" timpal Leticia, lalu meletakkan bunganm di atas sofa kembali.
"Sama-sama, itu memang untukmu tapi sekarang aku mau pakai baju dulu, apa kamu mau melihatku telanjang?" tanya Eric, seraya menaikkan sebelah alis, tentu saja perkataan Eric membuat Leticia tersadar meski akhirnya ia merasa canggung.
"Enggak, aku pamit dulu untuk segera pergi ke bawah, aku akan menunggu, Tuan di sana," jelas Leticia, kemudian berlalu pergi dari dalam kamar.
Eric pun mengambil sepasang setelan baju yang akan ia kenakan untuk berangkat ke kantor, lalu memakainya dengan cepat dan tampak terburu-buru. Sebab, ia tak ingin terlambat karena hari ingin menghadiri pertemuan penting yang memang sudah dijadwalkan oleh Nia kemarin. Apalagi pertemuan ini menyangkut status nilai perusahaan.
Selain itu, Eric juga mengambil iPad yang berada di dalam tas kerja, ia langsung mengecek bursa saham dan nilai saham dari Varrel group. Dan kini ada sedikit kemajuan, ia merasa lega karena nilai saham itu kembali meningkat.
Nilai penurunan yang terjadi hanya sekitar 5 persen, namun tetap saja ia harus menyiapkan ancang-ancang untuk proses alasan agar menenangkan para pihak pemilik salah saham.
Eric kemudian menyimpan iPad di tas kerja, ia bergegas membawa tas kerja itu ke bawah karena ia akan segera berangkat ke kantor. Sesampainya di meja makan, ia langsung menyesap kopi yang sudah dibuatkan Leticia karena sejak melihat wajah suaminya saat menuruni anak tangga, Leticia buru-buru menyeduhkan kopi agar tidak terlalu panas saat diteguk oleh Eric.
"Mas, apakah uang di dalam buket itu bisa dibongkar?" ujar Leticia sebelum memulai menyantap sarapan pagi.
"Terserah kamu saja, itu kan sudah menjadi milikmu. Sengaja aku berikan padamu, itung-itung untuk yang jajan hari ini," sahut Eric datar, seraya menyantap roti yang ada di hadapannya.
Meski terhidang berbagai menu yang ada di meja makan, tetapi Eric hanya mengambil dua helai roti yang sudah dioleskan selai coklat oleh Leticia. Sebab, ia hanya ingin menyantap sarapan yang ringan-ringan saja karena tidak terlalu menyukai makanan berat saat pagi hari.
"Kalau begitu, apakah boleh nanti uang itu aku gunakan untuk berbelanja bersama Fani hari ini?" seru Leticia untuk meminta izin pada suaminya.
"Boleh saja, kabari aku jika kamu memang keluar rumah!" balas Eric dengan tegas.
__ADS_1
Jawaban dari Eric, membuat Leticia tampak bingung karena sebelumnya mereka tidak pernah saling berkomunikasi antara satu sama lain, namun akhirnya ia mengangguk dengan pasrah untuk menyetujui permintaan suami kontraknya.
Ia mengira komunikasi yang akan dilakukan hanya sebatas sebatas formalitas antara hubungan suami istri kontrak. Kemudian, mereka melanjutkan sarapan pagi, hanya berlangsung selama 5 menit, Eric buru-buru bergegas keluar dan berpamitan dengan istri dan adik iparnya.
Padahal, biasanya ia bersantai hingga 20 menit lamanya untuk menikmati sarapan pagi. Namun kini, selama 5 menit saja dia langsung segera berangkat ke kantor.
"Loh ... Mas, cepat sekali sudah berangkat kerja?" protes Fani saat menatap pria itu tengah beranjak dari kursi.
"Iya, saya ada meeting pagi ini," jawab Eric dengan lugas, lalu ia beranjak dan di ekori oleh Leticia dan ia berpamit pergi pada 2 adik iparnya.
"Saya pergi dulu."
"Ya, Mas hati-hati," jawab Fani dan Fano dengan kompak.
Leticia membantu membawakan tas kerja suaminya, itupun dilakukan hanya sebatas formalitas di depan semua orang sebagai kegiatan suami istri di pagi hari. Setelah berada di batas ambang pintu, Eric juga berpamitan pada istrinya, Leticia menyambut dengan mencium punggung tangan Eric dengan lembut.
Hingga akhirnya, Eric berlalu pergi karena dia buru-buru sehingfa melajukan mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi.
***
Leticia kembali duduk di kursi makan, tetapi ia mengajak para maid untuk ikut bersama menyantap sarapan itu karena terlalu banyak menu yang ada di sana sehingga sangat mubazir jika dibiarkan terlalu lama. Oleh karena itu, Leticia mengajak para maidnya setelah memastikan suaminya benar-benar pergi dari dalam rumah.
"Mbak, tumben Mas Eric cepet-cepat perginya?" tutur Fani, seraya memicingkan mata, menatap Leticia dengan tatapan penuh selidik. Baru kali ini, ia melihat iparnya sangat terburu-buru untuk berangkat ke kantor.
__ADS_1