Pemuas Hasrat Tuan Eric

Pemuas Hasrat Tuan Eric
bab24


__ADS_3

Frederic didampingi tiga karyawan menyusuri tempat pertama yang dikunjungi.


"Apa lagi yang dikeluarkan perusahaan ini? Hanya empat produk?" cecar Frederic, mengedarkan pandangan, pabrik itu sangat luas dengan jumlah karyawan cukup banyak bahkan dibagi tiga shift.


"Masih banyak pak! Saya hanya menunjukkan produk yang unggul. Pratama Foodies bahkan mendapatkan rekor muri, sebagai perusahaan penghasil produk terbanyak di negeri ini. Sedikitnya, ada 1000 produk yang berhasil kita produksi dan dikembangkan, bahkan dikirimkan ke seluruh penjuru negeri ini."


Dirgantara kemudian berjalan ke tempat produksi lain. Perlu 10 menit berjalan untuk tiba di tempat produksi permen yang kerap sekali dimakan untuk mengharumkan hawa mulut.


"Ada tiga produk permen unggulan kita, pak! Semuanya sangat laris di pasaran, permen pewangi ini misalnya, banyak dicari anak muda. Bapak tahu sendiri kan, anak muda tidak suka bau mulut, apalagi saat mereka bertemu pacar hahaha," canda Dirgantara.


"Hmmmm." Frederic berdehem sembari mengangguk-anggukkan kepala. Humor receh dari Dirgantara tak berhasil membuatnya tertawa.


"Ehem ... kemudian permen kopi ini juga produk terlaris nomor dua pak. Karena bisa menghilangkan rasa kantuk, cocok bagi pekerja perkantoran seperti kita."


Terakhir, Dirgantara menyebutkan permen kemasan yang sangat digemari oleh anak kecil. Permen yang bertekstur kenyal dan manis sangat diminati. Tak heran, produk itu menjadi produk nomor tiga yang paling laku.


****


Di dalam rumah, Leticia sangat santai dengan kehidupannya. Santai bak ratu, tidak ada kerjaan, semua sudah diurus oleh para maid.


Leticia mencoba-coba mencari kegiatan di dalam kamar, ia asik membaca novel di aplikasi Noveltoon. Sangat mengasyikkan rasanya. Ia bahkan larut membaca hingga lupa waktu.


*****


Selanjutnya, Frederic mengajak ketiga Direktur untuk melanjutkan kunjungan mereka. Satu tempat dengan penghasilan tertinggi kedua yakni Pratama Store.


Kali ini, Direktur Pemasaran, Jaka Satria, duduk di sebelah Frederic mendampingi. Saat di dalam mobil, ia mulai menjelaskan apa saja penjualan yang menghasilkan omset milyaran setiap bulannya.


Frederic hanya mengangguk, ia ingin terjun langsung, mengecek Pratama Store. Tak disangka-sangka Pratama Store, anak perusahaan dengan penghasilan fantastis.


Tak heran, jika Varrel Pratama selama ini menyembunyikan status anak perusahaan darinya. Kekayaan Varrel Pratama bahkan sudah tak ternilai.


"Ayah keterlaluan! Sengaja ia menutupi semua bisnisnya! Kalau saja aku tidak menjadi CEO, sampai detik ini aku tidak akan tahu tentang penghasilan perusahaan ini!"

__ADS_1


Frederic larut dalam pikirannya sendiri. Ia tak menyangka bisa mewarisi kekayaan yang melimpah ruah. Selama ini, ia hanya menganggap Varrel Grup satu-satunya perusahaan yang dimiliki oleh sang ayah.


"Ayo, pak! Silahkan," tutur Jaka, membuyarkan lamunan Frederic.


Frederic langsung keluar dari mobil, lokasi Pratama Store juga tak jauh dari pabrik Pratama Foodies. Hanya memakan waktu selama 10 menit, mereka tiba di pusat perbelanjaan terbesar di negara itu.


"Pusat perbelanjaan kita nomor satu, pak! Tapi untuk penghasilan, kita belum mampu menandingi Pratama Foodies. Namun, kita terus mempertahankan penghasilan itu, bahkan meningkat setiap tahunnya!" tambah Jaka.


Mereka mulai menyusuri pusat perbelanjaan setinggi 7 lantai tersebut. Semua lengkap, mulai dari perbelanjaan baju, kebutuhan pokok, permainan anak, makanan hits dan populer, bahkan kebanyakan tempat healing-healing kawula muda untuk sekedar nonton di bioskop.


"Penghasilan tertinggi kita dari penjualan dibidang Fashion, pak! bapak bisa lihat, untuk dua lantai digunakan untuk pemasaran baju, sepatu, tas, dan perlengkapan fashion lainnya."


Jaka, Frederic, Dirgantara, dan satu direktur lain ikut berkeling. Mendengarkan penjelasan dari Jaka.


Kemudian, penghasilan kedua dari outlet FnB (Food and Beverages). "Ratusan outlet kita buka di pusat perbelanjaan ini. Hal itu menarik minat pengunjung. Dalam satu hari, kita berhasil mendapatkan 100.000 pengunjung."


"Bagus!" sahut Frederic.


Setelah mengelilingi pusat perbelanjaan Pratama Store, mereka langsung berangkat lagi.


Pratama Colection dibuat khusus oleh Varrel Grup sesuai permintaan Varrel Pratama. Varrel yang memiliki mata buram, ingin memproduksi kacamata sendiri. Oleh karena itu, ia membangun pabrik khusus pembuatan optik tersebut.


"Perusahaan ini memang dari segi penghasilan merupakan perusahaan nomor terakhir. Tapi kita mampu mengimpor hasil produksi kita ke mancanegara. Produk kita paling dicari di negara orang, pak!" jelas Bagus.


Penjelasan Bagus, menarik perhatian Frederic. "Berapa hasil produksi dalam satu bulan? Apakah produk kita sudah memiliki hak paten sendiri agar tidak ditiru oleh perusahaan lain." Frederic menatap Bagas saat berkeliling pada pabrik optik tersebut.


"Tentu sudah, pak! Itu sudah sejak awal kita lakukan saat perusahaan ini berdiri! Hasil produksi kita tidak banyak, karena bahan baku dengan kualitas terbaik sulit di dapatkan. Dalam satu bulan, kita hanya memproduksi 100ribu produk untuk dikirimkan ke luar negeri."


"Kenapa tidak diperbanyak?" cecar Frederic, sebab peluang mengimpor produk itu sangat besar.


"Kendala kita ada dibahan bakunya, pak! Bahan baku pembuatan kacamata sangat terbatas."


"Oh, jadi itu penyebabnya makanya perusahaan ini hanya bisa menghasilkan sedikit keuntungan?"

__ADS_1


Bagas mengangguk, produksi kacamata memang terbatas. Mereka tak bisa menambahkan jumlah produksi jika bahan baku tidak ada.


Oleh karena itu, perusahaan memproduksi jumlah yang stabil setiap bulannya meski permintaan terus meningkat. Tidak hanya optik untuk mata rusak tetapi Pratama Collection juga memproduksi kacamata gaya untuk dikoleksi.


Setelah lelah seharian berkeliling, Frederic bersama ketiga direktur kembali lagi ke perusahaan utama Varrel Grup.


"Terima kasih telah membantu saya untuk mengembangkan perusahaan ini. Kedepannya, saya membutuhkan bantuan anda semua. Saya harap kalian tetap bekerjasama dan mendukung kinerja saya!" Frederic kemudian pamit pada tiga Direktur tersebut.


Bersama sekretarisnya—Nia, Frederic langsung menuju lantai tertinggi, di mana kantornya berada.


"Nia, besok susun jadwal untuk meeting lanjutan! Pagi, jam 8," terang Frederic.


Nia hanya mengangguk seraya mencatat jadwal permintaan bosnya di dalam sebuah jurnal.


*****


"Mbak!" teriak Fani, setelah pulang sekolah langsung menghampiri Leticia yang sibuk di dalam kamar seorang diri.


Tok ... Tok ...


Leticia langsung beranjak dari kasur saat mendengar ketukan pintu. Ia melihat Fani berdiam diri di depan daun pintu.


"Ada apa, Fani?" tanya Leticia, mengedarkan pandangan, menatap Fani penuh selidik.


"Mbak, besok disuruh ke sekolahku!" Fani memasang wajah yang datar, membuat Leticia semakin bertanya-tanya.


"Ada apa sampai mbak disuruh datang ke sana?" Leticia memicingkan mata, ia khawatir adiknya itu akan terlibat pertikaian di sekolah.


"Hmmm ... aku bikin masalah, mbak!" tutur Fani, tertunduk malu.


"A–apa?" Leticia menatap dengan raut wajah penuh amarah.


"Ayo, ke bawah! Kita bicarakan ini di ruang keluarga!"

__ADS_1


Leticia bersama Fani menuruni anak tangga, mereka duduk sejenak di sofa. Leticia masih mendinginkan kepala yang mulai panas memikirkan tentang masalah yang baru dilakukan oleh Fani.


__ADS_2