
"Huuuu..." teriak para siswa tetapi tak bisa menolak perintah sang wali kelas.
Meski mereka merasakan kebimbangan karena tidak belajar semalaman, wali kelas itu malah meminta mereka untuk menyelesaikan kuis yang akan dibacakannya dari depan kelas.
"Cepat keluarkan selembar kertas kosong, saya akan membacakan pertanyaan yang akan menjadi kuis dalam pelajaran kita kali ini!" tegas Wali Kelas.
Dengan terpaksa, para siswa mengikuti permintaan wali kelas mereka, semuanya membuka lembaran kertas masing-masing dan mengambil pena untuk mencatat pertanyaan yang akan disampaikan wali kelas.
***
Eric baru saja tiba di kantor, ia menyapa beberapa karyawan yang dilintasinya dan para karyawan itu bahkan saling berbisik mengidamkan Eric sebagai sosok jodoh mereka.
Di sisi lain, Eric menghiraukan bisikan-bisikan dari para wanita yang ada di kantornya. Ia tampak tak peduli lantaran hanya menginginkan satu wanita di dunia ini yaitu adalah istri kontraknya. Namun hal itu belum bisa dipenuhi dan bagaimanapun caranya Eric tetap harus bisa mendapatkan hati Leticia.
Eric ingin mengesahkan pernikahan mereka dalam pernikahan yang sah dan terikat sebagai sepasang suami istri yang nyata.
Setelah tiba di lantai teratas, pria itu buru-buru menuju ruangan kerja, ia menyapanya sekretarisnya dengan senyum yang sumringah sehingga Nia merasa keheranan. Sebab, setiap harinya Eric adalah pria yang sangat datar bahkan jarang sekali bercanda ataupun tersenyum dengan lebar meski hanya dalam memberikan sapaan saja.
"Pagi Nia," sapa Eric dengan suasana yang sangat ceria.
Entah mengapa Nia malah merasa tidak enak sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada bosnya, ia khawatir nantinya akan berdampak buruk pada dirinya. Namun perasaan itu ditepis karena Eric merasa ceria bukan karena masalah kantor tetapi setelah ia mendapatkan keinginannya tadi malam dari sang istri.
Nia engekori Eric dengan cepat menuju ruangan, sebab ia akan menyampaikan jadwal yang akan dilakukan oleh pria itu. Oleh karena itu, setelah Eric duduk dengan rapi di kursi kebesarannya, Nia pun mulai membaca semua jadwal yang akan dipenuhi oleh bosnya.
__ADS_1
"Maaf, Pak saya ingin menyampaikan jadwal hari ini hari ini. Para pemilik saham kembali meminta melakukan rapat bersama dan rapatnya akan segera dimulai mereka sudah berkumpul di aula kantor. Kemudian rapat selanjutnya kita akan menghadiri anak perusahaan Pratama news karena mereka meminta jadwalkan untuk berbicara langsung dengan Bapak," jelas Nia panjang lebar.
"Wah ... pagi-pagi gini sudah banyak yang kangenin saya, ya!" celetuk Eric membuat tatapan Nia berubah.
Wanita itu terkejut hingga menatap Eric penuh kecurigaan. Rasanya hari ini ia melihat tingkah aneh dari bosnya. Entah mengapa kata-kata yang diucapkan Eric sangat ambigu.
"Bukan angen, Pak tapi mereka sebenarnya memang meminta pertanggungjawaban Bapak," kilah Nia dengan serius.
"Hahaha ... kamu ini tidak bisa diajak bercanda," kekeh Eric seraya tertawa terbahak-bahak.
"Oh ... ya, pak banti kita juga ada meeting di luar kantor dan di hotel. Mereka salah satu kolega yang memulai ingin menanamkan investasi di perusahaan pusat kita," sela Nia melanjutkan.
"Baiklah kalau begitu saya siap-siap dulu untuk menuju aula, kamu juga lebih baik siap-siap saja!" usir Eric seraya menganggukkan kepalanya dalam sekali hentakan untuk mengusir Nia dari ruangannya.
Saat di ruangan, Eric melepaskan jas yang dipakainya, lalu ia membawa iPadnya sembari berjalan keluar, ia membuka daun pintu dengan pandangan yang fokus menatap iPad itu.
Ternyata, hasil artikel yang diterbitkan oleh pratama news sudah mempengaruhi nilai saham utama mereka, kini nilainya sudah kembali dengan normal dan justru mengalami kenaikan hingga 30 persen.
Rasa bahagia Eric semakin bertambah, ia berjalan dengan rasa bangga karena tak perlu ada yang dikawatirkan meski para pemilik saham tetap menuntutnya untuk bertemu langsung, padahal Eric kemarin sudah menjelaskan dan sudah memberitahukan kepada mereka bahwa mereka tidak perlu cemas dengan adanya dengan terjadinya penurunan nilai saham tersebut.
Kini, nilai sajam itu sudah kembali normal, Eric pun setuju jika diadakan rapat bersama untuk menyiapkan strategi baru dalam hal mempertahankan hingga meningkatkan nilai saham perusahaan.
"Nia kita berangkat sekarang," ajak Eric, berjalan dengan cepat, ia melangkah dengan kaki yang lebar, kemudian keduanya memasuki lift dan menuju aula yang berada di lantai tengah.
__ADS_1
***
Leticia membaringkan tubuh di atas ranjang, ia menatap langit-langit kamar sembari menatap ponsel yang tidak ada notifikasi atau balasan dari Eric. Entah mengapa Leticia merasa kesal dengan pria itu yang seakan-akan sengaja mengabaikannya.
Padahal Eric sendiri yang menawarkan untuk dilakukan liburan keluarga tetapi Eric malah mengabaikan pesan dari Leticia.
"Kenapa sih Tuan Eric tidak membalas pesanku sama sekali padahal dia sudah membacanya, kalau dia menolak padahal bilang saja, toh aku tidak memaksanya. Lagipula, aku kan bisa menyarankan untuk liburan ke tempat lain!" batin Leticia, menatap langit-langit kamar dengan rasa kesal.
Kemudian Leticia membuka ponsel, lalu membuka aplikasi lain di ponsel itu. Kini, ia sibuk memainkan game kesayangannya, game yang tengah populer sekarang ini. Lalu di sana dia bertemu seorang pria yang tidak bisa dikalahkan, padahal Leticia sangat mahir dalam menyelesaikan misinya pada game tersebut.
Leticia pun menggerutu setelah kalah dari pria itu, ternyata pria itu malah mengirimkan pesan melalui aplikasi game, mereka saling berkenalan dan semakin larut dalam permainan battle bersama-sama, bahkan Leticia sengaja berteman dengan lelaki yang bernama Faro itu.
Leticia jika kamu ingin bermain game ajak aku saja, kita bisa lakukan battle bersama. Kirimkan aku pesan saja melalui WhatsApp, ini nomorku 0877xxx
Pria itu malah tak sungkan untuk memberikan nomor pribadinya, ia merasa ingin memiliki hubungan yang lebih dekat dengan Leticia walau hanya sekedar teman bermain game saja. Bahkan ia tertarik dengan sosok Leticia karena Leticia memang tidak menunjukkan wajahnya dalam profil permainannya. Tetapi hanya memasang wajah karakter kartun. Oleh karena itu, Faro seakan-akan sangat penasaran dengan sosok Leticia yang mahir dalam bermain game. Karena sangat jarang perempuan bermain game yang sulit seperti itu.
Baiklah nanti aku akan menghubungimu kalau aku merasa bosan dan butuh teman untuk bermain game bersama.
Leticia membalas pesan Faro dalam permainan itu.
Jangan sampai enggak loh ya ... sekarang aku mau bekerja dulu karena pekerjaanku lagi sedang sibuk-sibuknya, nanti aku akan lanjut bermain game lagi di saat senggang atau istirahat.
Faro pun menyudahi permainan mereka. Ia keluar dari permainan itu.
__ADS_1
Lantas Leticia justru tetap melanjutkan permainannya karena ia tengah merasa bosan, bermain game adalah hobi Leticia karena semenjak menikah dengan Eric, ia sudah tidak memiliki kegiatan apapun, bahkan tidak bekerja sama sekali sehingga saat berada di dalam rumah saja ia merasakan kejenuhan yang sangat mendalam.