
"Kita berangkat ke anak perusahaan itu sekarang." Eric mengajak sekretarisnya untuk ikut bersama.
Nia bergegas mengikuti keinginan sang bos, ia segera mengikuti sang bos dari belakang, saat ini yang satu-satunya Eric lakukan ingin mengetahui sebenarnya apa yang terjadi dalam sebuah anak perusahaan. Mengapa hingga berakibat fatal pada pusat perusahaan hingga mengalami penurunan harga saham.
***
Leticia dan Fani bergegas berangkat diantarkan oleh seorang sopir. Mereka pergi dengan tangan kosong dan berharap oulang membawa beberapa tentengan paper bag yang berisi berbagai hasil pencarian dalam kegiatan shopping hari ini.
Sebelumnya, Leticia mengirimkan sebuah pesan kepada suaminya bahwa ia bersama Fani telah berangkat ke sebuah mall yang berada di pusat kota, tentunya bukan mall milik Varrel grup, melainkan milik pengusaha lain.
Leticia tak ingin berada di mall milik keluarganya, ia benar-benar ingin menikmati kegiatan di salah satu tempat yang terasa berbeda, yang bahkan tidak berhubungan sama sekali dengan keluarga mereka.
Setelah melalui perjalanan selama 10 menit, mereka akhirnya tiba di sebuah mall yang cukup besar, meskipun mall itu adalah mall kedua terbesar di kota mereka.
"Mbak, hari ini kita beneran nih mau shopping?" tanya Fani sembari menatap lekat sang kakak.
"Iya dong, Mbak tadi sudah mengeluarkan semua uang yang ada di dalam buket yang diberikan Masmu, semuanya sudah ada di dalam tas ini." Leticia menepuk dua kali tasnya dengan talapak tangan karena semua uang sudah berada di sana.
"Asik, baru kali ini aku bisa berbelanja sepuasnya, beneran nih Mbak aku bisa mengambil apapun?" seru Fani, sekali lagi karena merasa belum yakin, semangatnya semakin berkobar jika akan dibelanjai oleh sang kakak.
__ADS_1
"Iya, beneran kok. Tenang saja nggak perlu khawatir kita akan kekurangan uang, sebab masih ada ATM dan kartu kredit dari Mas Eric!" timpal Leticia dengan angkuh.
"Asik ... kalau begitu kita harus segera masuk ke dalam," ajak Fani dengan semangat menggebu, seraya menarik lengan sang kakak.
Mereka berdua keluar dari dalam mobil, memasuki mall yang sangat luas. Usai berada di dalam mall, keduanya menyusuri setiap lantai dan masuk ke setiap butik yang ada di sana. Mereka jufa mencoba beberapa pakaian hingga dress yang akan dipilih untuk dipakai sehari-hari maupun pada kegiatan penting.
Fani tak ingin melewatkan kesempatan yang ada. Sebab, mumpung ia sedang tidak bisa bersekolah, pagi menjadi kesempatan baginya merasa bebas layaknya seperti orang dewasa, ia mengikuti kakaknya kemanapun pergi. Baru kali ini, Fani bisa merasakan sebagai adik yang menikmati kekayaan kakaknya sendiri.
Di sisi lain, Leticia tampak sibuk memilah-milah beberapa pakaian yang ia anggap sangat menarik dan cantik serta bagus. Bahkan, Leticia saat berbelanja tidak pernah lagi memikirkan harga, ua asal mengambil pakaian yang disukai karena uang bukanlah perkara uang harus dipusingkan lagi.
Sebab, suaminya memberikan semua fasilitas apapun meski mereka hanya sebatas menjalani pernikahan kontrak. Termasuk ATM dan kartu kredit yang berada di tangannya bisa digunakan sepuasnya.
Sementara, di lengan Fani sudah membawa beberapa gantungan baju, ia sudah mencoba berkali-kali baju yang menurutnya sangat menarik dan pantas dikenakan oleh remaja sepertinya. Bahkan ia juga menanyakan pada kakaknya sebelum akhirnya belanjaannya dipastikan untuk dibeli. Kemudian, Leticia melakukan pembayaran untuk baju-baju yang mereka inginkan setelah merasa cocok serta yakin.
Varrel Pratama mendesah dengan kesal karena ia mengingat kejadian tadi malam. Entah mengapa Varrel merasa seperti tengah dibodohi oleh perempuan yang tidak tahu diketahui identitasnya. Varrel Pratama memang tak sempat mengulik siapa perempuan yang sengaja ingin menjebaknya, hanya saja ia memiliki perasaan yang tidak enak karena dihantui bayang-bayang tubuh perempuan itu.
Saat berada di meja makan, Varrel mendelik dengan kesal. Ia juga penasaran mengapa perempuan itu nekat berbuat hal demikian padanya. Padahal mereka sama sekali tak mengenal satu sama lain, namun mengapa Mira memiliki ketertarikan pada pria tua sepertinya.
Saat ini, Varrel yang dilayani oleh puluhan maid di dalam rumah tampak bersantai di meja makan, beberapa maid membawakan makanan dan minuman yang dihidangkan pada Tuan mereka. Sementara Varrel tengah menikmati sarapan pagi meski ia memang sengaja selalu angun agak siang hari, tentunya karena efek akibat pusing yang mendera tadi malam, setelah meneguk alkohol yang cukup banyak.
__ADS_1
Sepertinya aku harus mencari tahu tentang perempuan itu, mungkin saja dia bisa memanfaatkan kejadian tadi malam. Dan bisa berdampak pada perusahaanku di kemudian hari!
Varrel larut dalam pikirannya sembari mengelurkam nafas kasar. Varrel—pria tua kaya raya memang kerap sekali didekati oleh perempuan-perempuan muda, disaat ia sedang menikmati hidupnya seperti kawula muda, terutama jika berada di dalam klub malam. Ia pun tak lepas dari pandangan perempuan muda yang ada di sana.
Tak heran, jika wanita seperti Mira pun kepincut pada Varrel, bukan karena tampang dan jiwa mudanya tetapi kepincut pada sosok pria yang tua sepertinya lantaran melihat uang yang tebal milik pria tua itu.
"Emh ... kalau begitu aku harus menanyakan tentang perempuan itu pada orang-orang yang berada di klub malam!" ujar Varrel membatin, aeraya menikmati santapan pagi.
Kali ini, makanan yang dihidangkan oleh para maid berbagai macam roti. Bahkan makanan berat seperti nasi goreng dan khas makanan khas Nusantara lainnya.
Varrel sedang sibuk, tampak menghubungi seseorang. Ia mengambil ponsel dari saku, mencari sebuah nomor orang yang dikenalnya. Tak lama, ia menghubungi nomor tersebut untuk menanyakan sesuatu.!
"Bro, apa kamu tahu perempuan yang semalam membawaku ke sebuah ruangan karaoke?" ucap Varrel dengan gaya khas seperti anak muda, ia menganggap teman-teman yang jauh lebih muda darinya adalah seperti teman sebaya.
"Siapa, Bro? Kami benar-benar tidak tahu pokoknya, tadi malam kita hanya menikmati minuman yang kamu traktir, setelah itu kamu menghilang begitu saja!" ucap pria dari seberang telepon.
"Justru itu, setelah aku mabuk berat, aku dibawa oleh seorang perempuan yang aku sendiri tidak mengenalnya sama sekali. Entahlah dia siapa, tiba-tiba aku seperti terjebak dalam satu ruangan dan bertubuh polos bersama dengan dia!" sesal Varrel.
"Astaga ... mungkinkah kau sedang dijebak oleh wanita malam yang bekerja di klub?" balas pria itu.
__ADS_1
"Tuh kan, menurutmu saja begitu apalagi menurutku. Sepertinya dia ingin menggerogoti kantongku!" sosor Varrel dengan ketus.
"Bisa jadi karena banyak perempuan malam yang berada di klub itu ingin mencari pria tua keladi kaya raya sepertimu. Mereka ingin menguras kantong pacar tua mereka yang sering disebut sebagai sugar Daddy," kekeh pria itu, sembari menertawai Varrel yang tua tetapi berlagak sok muda.